Opini  

Menggugat Kemalasan Kreatif: Hyper-Fokus La Galigo dalam Sastra Kontemporer

Buku Sastra
KARYA BARU. Salah satu buku yang mendeskripsikan hal-hal terkait La Galigo. (foto:ist)

PESTA literasi terbesar Indonesia Timur kembali digelar di Makassar, 14-17 Mei 2026. Gema generasi ke generasi sampai ke telinga saya. “Luarbiasa,” kata ku. Diskusi arah sastra pun jadi perbincangan saya bersama beberapa alumni Sastra Indonesia Unhas di malam Jumat. Malam yang selalu merepresentasikan “mitos” karena siasat manusia. Diskusi pun selesai dengan pertanyaan besar, apakah sastra hari ini arahnya kualitas atau kuantitas?

Selang beberapa jam, satu kawan membawa buku berjudul “Ma’galigo ri Leiden”. Satu karya luar biasa, hanya saja saya memosisikan diri sebagai milenial atau Gen Z yang langsung fokus pada judul lalu skeptis. Namun, saya yakin isi nya luar biasa dan patut diapresiasi.

Sembari melihat kawan mulai membacanya saat waktu menunjukkan pukul 00.00 Wita lewat, pertanyaan ke diri sendiri muncul. Kenapa sastra kontemporer dengan latar Sulsel masi ada La Galigo? Apakah ini kemalasan kreatif? Atau, apakah ini hyper-fokus?

*

Sulawesi Selatan adalah bentang saujana yang sesak oleh narasi. Dari ketatnya hukum adat kelestarian Pasang ri Kajang di Bulukumba, kosmopolitanisme diaspora Syekh Yusuf, hingga trauma sejarah pembantaian Westerling, wilayah ini menyediakan material literer yang nyaris tanpa batas. Namun, lanskap sastra kontemporer yang digerakkan oleh penulis muda hari ini justru memperlihatkan gejala penyempitan yang akut. Terjadi sebuah hyper-fokus yang monoton terhadap epik La Galigo atau terminologi “Magaligo”. Dalam kerangka Ekologi Perhatian, pengulangan obsesif ini bukan lagi sebuah perayaan teoretis atas memori kolektif, melainkan sebuah bentuk kemalasan intelektual yang dibungkus oleh siasat pencarian perhatian atau disebut attention-seeking (Yves Citton, 2017).

Ekologi perhatian memandang bahwa di era banjir informasi, perhatian manusia adalah sumber daya yang paling langka dan berharga. Dalam ekosistem digital dan industri penerbitan yang kompetitif, penulis muda dituntut untuk menemukan cara tercepat dalam merebut perhatian publik. Di sinilah komodifikasi La Galigo bekerja sebagai jalan pintas. Epik ini telah memiliki “modal simbolis” yang mapan, terutama setelah kanonisasi UNESCO dan adaptasi teater global Robert Wilson. Meminjam jubah Galigo adalah siasat instan untuk memanen perhatian (attention-harvesting).

Kata “Galigo” atau “Sawerigading” berfungsi layaknya clickbait kultural; sebuah generator eksotisme yang otomatis memantik rasa penasaran pembaca nasional maupun internasional tanpa menuntut penulisnya membangun fondasi ketertarikan dari nol.

Secara ekologis, tindakan ini meracuni “ekosistem perhatian” sastra lokal. Ketika energi kreatif dan ruang baca publik disesaki oleh daur ulang mitos yang itu-itu saja, perhatian kolektif kita mengalami pencemaran dan penyusutan. Kita dibutakan dari realitas ekologis, sejarah, dan sosial Sulsel yang jauh lebih mendesak. Mengapa mereka abai pada falsafah hijau Pasang ri Kajang yang kritis terhadap krisis iklim? Mengapa mereka tuli terhadap trauma ekologis pesisir Makassar hari ini?

Jawabannya telanjang: karena menggali realitas tersebut butuh riset mendalam dan kerja keras. Sementara itu, meminjam jubah sakral La Galigo jauh lebih hemat energi. Hyper-fokus ini adalah bukti nyata dari mentalitas instan; sebuah kepasifan yang dibungkus seolah-olah sebagai “kepedulian budaya,” padahal sebenarnya hanyalah bentuk penimbunan perhatian di atas permukaan sejarah yang dangkal.

Ketika ruang publik, kurasi festival, dan energi kreatif kritikus disedaki oleh romantisasi masa lalu yang itu-itu saja, terjadi “monokultur perhatian”. Narasi-narasi lokal lain yang jauh lebih kontekstual dengan krisis zaman menjadi tak terlihat (invisible). Perhatian kolektif masyarakat dialihkan secara paksa dari isu-isu riil menuju ruang simulakrum masa lalu yang sakral namun steril dari kritik sosial. Penulis muda yang terjebak dalam arus ini memilih untuk menjadi “pemulung memori” yang pasif, mendaur ulang kulit luar mitos yang sudah nyaman di telinga publik alih-alih memproduksi pengetahuan baru dari realitas sosial yang sedang berdarah-darah di sekitar mereka.

Pada akhirnya, terus-menerus meminjam nama La Galigo tanpa adanya transformasi puitika yang radikal adalah tanda kebangkrutan imajinasi. Penulis muda Sulsel harus disadarkan bahwa mereka sedang mengidap fetisisme komoditas kebudayaan. Jika sastra Sulsel hari ini hanya mampu mengunyah kembali apa yang telah dimamah oleh generasi pendahulu demi segelintir perhatian instan, maka riwayat sastra tersebut sebenarnya sedang mengalami penyusutan di tengah melimpahnya bahan baku sejarah yang sengaja mereka telantarkan. (***)

Penulis: Farisal (Pembelajar Kajian Budaya Unhas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *