INSPIRASI NUSANTARA – Tenun Sengkang, kain tradisional khas Bugis, kini semakin mendapat perhatian di industri fashion modern.
Berawal dari sarung sutra yang digunakan dalam upacara adat, kain ini kini diadaptasi oleh desainer ternama dan merambah pasar global. Namun, di balik popularitasnya, tantangan besar menghadang pelestariannya.
BACA JUGA: Industri Tenun Sengkang: Peluang Bisnis Berbasis Tradisi di Sulsel
BACA JUGA: Koleksi Baju Tenun Ramah Lingkungan Jadi Tren di Tiktok
Kain Bersejarah dengan Makna Mendalam
Tenun Sengkang telah lama menjadi bagian dari budaya Bugis. Kain ini memiliki berbagai motif yang sarat makna filosofi. Motif Bombang, misalnya, melambangkan keteguhan dalam menghadapi tantangan, sementara Corak Sulo menggambarkan semangat dan keberanian. Adapun Tettong mencerminkan keseimbangan hidup.
Selain itu, kain ini dahulu menjadi simbol status sosial. Pada masa lalu, hanya kalangan bangsawan yang diperbolehkan mengenakan kain berbahan sutra asli, sedangkan rakyat biasa menggunakan bahan katun atau campuran.
Dari Upacara Adat ke Fashion Modern
Dalam beberapa tahun terakhir, tenun Sengkang mulai mendapat tempat di industri fashion. Desainer seperti Ivan Gunawan dan Elga Naldy telah memasukkan kain ini dalam koleksi mereka. Ivan Gunawan, misalnya, memperkenalkan tenun Sengkang dalam ajang Femme 2015, sedangkan Elga Naldy mengadaptasinya dalam koleksi Where Embroidery Meets Fashion pada tahun 2019.
Tidak hanya itu, berbagai merek fashion lokal mulai mengembangkan busana kasual berbahan tenun Sengkang, seperti blazer dan outerwear. Hal ini dilakukan untuk menarik minat generasi muda agar tetap mengenakan kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan di Balik Popularitas
Meskipun tenun Sengkang semakin dikenal, industri ini menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah minimnya regenerasi pengrajin. Banyak anak muda enggan menekuni profesi menenun karena dianggap kurang menjanjikan secara finansial. Akibatnya, jumlah pengrajin terus berkurang dari tahun ke tahun.
Selain itu, persaingan dengan tekstil pabrikan menjadi tantangan tersendiri. Harga bahan baku sutra asli yang semakin mahal membuat kain tenun sulit bersaing dengan kain produksi massal yang lebih murah dan mudah diakses konsumen.
Upaya Pelestarian dan Ekspansi ke Pasar Global
Untuk mengatasi tantangan ini, berbagai langkah telah dilakukan. Program pelatihan bagi generasi muda digalakkan agar keterampilan menenun tetap lestari. Pemerintah juga mendorong kolaborasi antara pengrajin lokal dan desainer untuk meningkatkan nilai jual tenun Sengkang.
Selain itu, inovasi dalam proses produksi terus dikembangkan. Salah satu contohnya adalah penggunaan metode zero waste fashion design, yang bertujuan mengurangi limbah kain dan meningkatkan efisiensi produksi. Teknik pewarnaan alami menggunakan daun suji juga mulai diterapkan untuk menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran global terhadap fashion berkelanjutan, tenun Sengkang kini mulai merambah pasar internasional. Pameran mode di luar negeri, seperti New York Fashion Week dan Paris Fashion Week, menjadi ajang promosi bagi kain khas Sulawesi Selatan ini. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi tenun Sengkang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia di kancah dunia. (*/IN)
Sumber:
• Djiwatampu, S. L., & Sabrina, R. P. (2019). Aplikasi Kain Tenun Sutera Motif Sengkang pada Denim untuk Pakaian Ready to Wear di Jakarta.
• Nadir, N., Nursari, F., & Siagian, M. C. A. (2022). Penerapan Metode Zero Waste Fashion Design pada Tenun Sengkang untuk Busana Demi-Couture. Serat Rupa: Journal of Design, 6(1), 24–39.
• Alamsjah, F. A., Sunarya, Y. Y., & Rudiyanto, G. (2021). Rancangan Pewarnaan Alami Daun Suji pada Tenun Sutera Sengkang, Sulawesi Selatan. Jurnal Seni & Reka Rancang, 4(1), 79–88.














