inspirasinusantara.id — Di tengah hiruk pikuk dunia yang terus bergerak cepat, suara sendu dari lagu galau justru menjadi pelarian sunyi yang paling dicari. Bukan hanya lantunan melodi yang mengiris, tapi karena dalam setiap baitnya, tersembunyi pengakuan jujur atas rasa yang tak sempat terucap.
Lagu galau kembali mendominasi tangga lagu Indonesia. Meski tren musik terus berganti, lagu dengan nuansa sendu tetap menjadi favorit banyak pendengar.
Dalam pantauan Spotify Top Songs Indonesia pada 24 Juni 2025, lima dari sepuluh lagu teratas termasuk kategori lagu galau—baik dari sisi lirik maupun melodi. Lagu “Mangu” dari Fourtwnty feat.
Charita Utami menjadi jawara, menceritakan cinta yang terhalang perbedaan keyakinan. Lagu “Bergema Sampai Selamanya” dari Nadhif Basalamah dan “Serana” dari For Revenge juga masuk daftar, masing-masing menggambarkan keinginan setia mendampingi dan sulitnya melupakan seseorang yang telah pergi.
Mengapa Lagu Galau Diminati? Ini Penjelasan Ahli Psikologi Musik
Riset dari Annemieke J.M. van den Tol dari De Montfort University, Inggris, menjelaskan bahwa musik sedih sering dipilih karena fungsinya dalam memvalidasi emosi, memberi kenyamanan, membantu refleksi, serta menghadirkan ketenangan.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal The Arts in Psychotherapy tahun 2016 itu menyebutkan bahwa mendengarkan lagu sedih bisa menjadi bentuk penyaluran emosi yang sehat, terutama bagi mereka yang sedang beradaptasi dengan kejadian negatif.
Baca juga : Squid Game Season 3 Tayang Hari Ini: Sutradara Minta Tak Ada Spoiler
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Michael Bonshor, pakar psikologi musik yang bekerja sama dengan Spotify dalam pembuatan Bummer Summer Playlist. Ia menyebut bahwa Gen Z, yang tumbuh dengan teknologi dan sangat sadar akan kondisi emosionalnya, lebih cenderung mendengarkan lagu-lagu galau sebagai bentuk ekspresi diri.
Efek Fisiologis Musik Galau: Tenang dan Menenangkan
Selain aspek emosional, musik galau juga memiliki dampak fisiologis. Ketukan yang pelan dan melodi lembut ternyata dapat menurunkan laju pernapasan, menstabilkan detak jantung, serta memicu pelepasan hormon positif.
Efek inilah yang membuat lagu sedih kerap dijadikan teman saat istirahat, refleksi, bahkan ketika tidak sedang bersedih.
“Ketika kita mendengarkan musik bertempo lambat, tubuh kita secara otomatis menyesuaikan diri. Pernapasan menjadi dalam, jantung melambat, dan kita merasa lebih rileks,” ujar Bonshor.
Lagu Galau, Teman Sejati Emosi Generasi Digital
Popularitas lagu galau bukan sekadar tren sesaat, tapi berkaitan erat dengan cara manusia modern—terutama Generasi Z—mengelola emosi mereka. Dari validasi perasaan hingga efek menenangkan, lagu sedih kini menjadi bentuk terapi emosional yang diakses lewat sentuhan jari.
Tak heran jika lagu-lagu seperti “Mangu” atau “Serana” terus menghiasi tangga lagu digital Indonesia. (*/IN)












