Banner Pajak
Kota  

Kenapa Warga Makassar 2025 Lebih Ramai Bahas Film?

Kota Makassar
INFO GRAFIS. Data yang dihimpun inspirasinusantara.id lewat monitoring media. (foto/ist)

MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Sepanjang Januari hingga Desember 2025, perhatian publik warga Makassar di ruang digital lebih banyak terserap oleh topik film dan hiburan dibandingkan isu kebijakan perkotaan. Temuan ini berdasarkan pemantauan percakapan publik yang dihimpun langsung Inspirasinusantara.id melalui mitra monitoring media, sebagai bagian dari pembacaan komunikasi kebijakan di tingkat kota.

Data tersebut menunjukkan bahwa topik film dan hiburan menempati porsi terbesar dalam percakapan warga Makassar, yakni mencapai 48 persen. Topik ini mencakup pemutaran film, promosi, acara hiburan, hingga temu sapa. Di bawahnya, percakapan publik didominasi promo belanja sebesar 31 persen, isu Pemerintah Kota Makassar sebesar 16 persen, dan kehidupan warga Makassar sebesar 4 persen.

Dari sisi sentimen, percakapan terkait film dan hiburan cenderung positif. Sebanyak 68 persen percakapan bernada positif, 21 persen netral, dan 11 persen bernada negatif. Komposisi ini menunjukkan bahwa konten hiburan relatif mudah diterima publik dan minim resistensi, berbeda dengan isu kebijakan yang umumnya memunculkan respons lebih kritis.

Lebih rinci, data Inspirasinusantara.id mencatat bahwa perhatian warga terhadap topik film sebagian besar dipicu oleh faktor promosi. Sebanyak 79 persen percakapan berfokus pada pencarian promo film. Sementara itu, 11 persen percakapan berada di luar kategori utama, 5 persen mempertanyakan film yang diputar, dan 5 persen lainnya menyoroti penawaran film.

Dari sisi demografi, percakapan publik paling banyak digerakkan oleh kelompok usia muda. Kelompok usia 18–24 tahun menjadi kontributor terbesar, dengan partisipasi perempuan sebesar 19,4 persen dan laki-laki 16,6 persen. Kelompok usia 25–34 tahun berada di posisi berikutnya, dengan perempuan sebesar 11,0 persen dan laki-laki 11,8 persen. Setelah itu, tingkat partisipasi cenderung menurun pada kelompok usia di atas 35 tahun.

Pola ini menunjukkan bahwa generasi muda merupakan aktor utama dalam ruang percakapan digital Kota Makassar. Namun, atensi mereka lebih banyak tertuju pada isu hiburan dan promosi dibandingkan informasi kebijakan publik. Dalam konteks komunikasi kebijakan, temuan ini menjadi indikator adanya jarak antara agenda kebijakan dan minat atensi publik, khususnya kelompok usia 18–24 tahun.

Data percakapan sepanjang 2025 ini memberi gambaran bahwa tantangan utama komunikasi kebijakan bukan semata pada substansi kebijakan, melainkan pada cara kebijakan tersebut hadir di ruang publik digital. Informasi kebijakan masih kalah bersaing dengan narasi hiburan dalam merebut perhatian warga.(*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *