Penulis: Ratna Sari
Aroma gurih dari dapur-dapur warga menyerbak di antara hamparan persawahan Kecamatan Minasatene yang baru saja menuntaskan masa panen. Di bawah langit cerah, masyarakat setempat berkumpul membawa bakul berisi hidangan tradisional untuk melaksanakan ritual Maccera Ase. Tradisi yang juga dikenal dengan sebutan Manre-anre ini menjadi pemandangan tahunan yang selalu dinanti oleh warga setempat. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan bentuk syukur mendalam kepada Tuhan atas limpahan hasil bumi yang mereka terima.
Bagi warga Minasatene, menjaga keselarasan hubungan dengan alam dan Sang Pencipta adalah landasan hidup yang diwujudkan melalui perayaan penuh kesederhanaan. Tradisi ini menjadi pengikat batin antarwarga setelah berbulan-bulan bekerja keras di ladang. Ritual ini dipandu oleh para tetua adat yang memahami betul filosofi di balik setiap gerak ritual. Puang Haji Syamsuddin (68), salah satu tokoh adat yang memimpin doa syukur, menegaskan bahwa tradisi ini adalah bentuk etika manusia terhadap lingkungan. Ia menjadi sosok sentral yang memastikan nilai-nilai luhur dalam ritual ini tetap terjaga dan tersampaikan maknanya kepada masyarakat.
Menurut Puang Haji Syamsuddin, Maccera Ase merupakan momen “tabe” atau permisi kepada alam yang telah menghidupi mereka. Ia berpesan bahwa tanah yang dipijak manusia memiliki hak untuk dihormati. Dengan menjaga rasa syukur, ia meyakini bahwa berkah dari langit akan terus mengalir dan kembali dinikmati oleh anak cucu mereka pada musim tanam berikutnya. Kehangatan tradisi ini sudah dimulai sejak dari dapur, saat para perempuan desa bahu-membahu menyiapkan hidangan khas seperti sokko dan ayam kampung. Ibu Nurhayati (45), yang bertindak sebagai koordinator konsumsi, menjelaskan bahwa momen memasak bersama adalah saat di mana perbedaan status sosial hilang sepenuhnya. Di sini, semangat gotong royong warga terlihat sangat nyata dan kental.
Ibu Nurhayati menambahkan bahwa saat menyiapkan hidangan, tidak ada lagi sekat antara yang kaya dan yang miskin karena semua bekerja dengan tujuan yang sama. Rasa lelah selama mengurus sawah berbulan-bulan seketika sirna saat melihat semua orang duduk melingkar di pinggir sawah. Kebersamaan dalam menyajikan makanan menjadi obat penat sekaligus pemersatu emosional bagi ibu-ibu di desa tersebut.
Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang khidmat sebelum menikmati hidangan secara komunal di atas hamparan daun pisang. Saat makan bersama dimulai, semua orang duduk sejajar untuk memperkuat kembali rasa kekeluargaan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing. Tradisi ini pun menjadi pengingat abadi bahwa keharmonisan sosial dan kedekatan dengan alam adalah bekal utama dalam kehidupan bermasyarakat.













