Penulis: Nirwanda
Masyarakat Desa Jampu, Kabupaten Pinrang, masih mempertahankan tradisi mabbulo sebagai bagian dari sistem perlindungan tanaman padi dari serangan hama. Tradisi ini dilakukan ketika padi mulai memasuki fase berbuah, saat bulir-bulir muda mulai muncul di tangkai. Mabbulo dipahami sebagai ikhtiar bersama agar tanaman padi tumbuh dengan baik hingga masa panen. Bagi masyarakat Jampu, keberhasilan panen bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Pelaksanaan mabbulo melibatkan seluruh warga yang memiliki sawah di wilayah tersebut, Mereka bersama-sama menentukan waktu dan lokasi pelaksanaan, sebagai bentuk kesepakatan kolektif Prosesi diawali dengan penentuan satu titik di area persawahan sebagai tempat pemotongan ayam, dan salah satu rumah warga sebagai tempat berkumpul untuk mengikuti rangkaian doa dan makan bersama.
Ayam yang telah dimasak dibawa oleh warga dan disantap secara bersama-sama setelah prosesi pembacaan doa sebagai permohonan agar padi terhindar dari hama dan diberikan hasil panen yang baik. Selain membawa makanan, setiap warga juga membawa satu ember berisi air yang telah dicampur berbagai bahan alami seperti kunyit, panini, cukka manyang, kariango, serta jambu biji yang ditumbuk dan dicampurkan ke dalam air. Air campuran tersebut terlebih dahulu dibacakan doa sebelum digunakan, kemudian disemprotkan ke tanaman padi yang dalam bahasa setempat disebut mangappi’ sebagai simbol perlindungan dan perawatan tanaman.
Salah seorang warga Jampu, La Haba’ (55), mengaku telah mengikuti tradisi mabbulo sejak masih remaja. Menurutnya, mabbulo bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kepedulian bersama terhadap sawah dan lingkungan. “Sejak dulu orang tua kami selalu bilang, kalau mau panen bagus, jangan hanya jaga sawah sendiri. Harus sama-sama, supaya tidak ada sawah yang didahulukan atau ditinggalkan,” ujarnya. Hal senada disampaikan Siti Rahma (43), warga yang hingga kini masih aktif mengikuti tradisi mabbulo setiap musim tanam. Ia menilai tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial antarwarga.
“Kalau mabbulo, semua ketemu. Makan bersama, doa bersama, lalu ke sawah masing-masing. Itu yang bikin rasa kebersamaan masih terasa sampai sekarang,” katanya. Di luar fungsi pertanian, mabbulo juga berperan sebagai ruang interaksi sosial masyarakat Jampu. Melalui tradisi ini, hubungan antarwarga terjalin lebih erat dan rasa kebersamaan terus dipupuk. Tradisi mabbulo menunjukkan bahwa bagi masyarakat Jampu, bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia adalah praktik budaya yang memuat nilai kebersamaan, spiritualitas, dan penghormatan terhadap alam yang terus dijaga hingga hari ini.













