Melindungi Nafas Kota: Upaya Pelestarian Kawasan Mangrove Terakhir di Makassar

Penulis: Rismawati

Mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di wilayah pesisir, tetapi merupakan benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi dan gelombang laut. Akar-akar mangrove yang kuat mampu menahan pengikisan tanah sekaligus menjadi tempat hidup berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, dan udang. Keberadaan ekosistem ini sangat penting karena secara langsung menopang kehidupan nelayan dan menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.

Di pesisir utara Kota Makassar, tepatnya di Desa Lantebung, Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, terdapat kawasan mangrove yang dikenal sebagai kawasan mangrove terakhir di kota ini. Julukan tersebut bukan tanpa alasan, karena di tengah pesatnya pembangunan kota, kawasan ini masih mampu bertahan sebagai ruang hijau alami. Mangrove Lantebung menjadi saksi bagaimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan jika dijaga dengan kesadaran bersama.

Bagi masyarakat setempat, mangrove bukan hanya latar belakang kehidupan sehari-hari, tetapi juga sumber penghidupan dan perlindungan. Hutan mangrove membantu mengurangi dampak banjir rob, menjaga kualitas air, serta menyediakan hasil laut yang melimpah. Oleh karena itu, warga desa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kawasan ini dan terus berupaya mempertahankannya. Kawasan mangrove Lantebung juga berperan sebagai ruang belajar terbuka bagi banyak pihak. Mahasiswa dari berbagai kampus di Makassar sering datang untuk melakukan penelitian, praktik lapangan, maupun kegiatan pengabdian masyarakat.

Melalui kunjungan ini, mereka dapat belajar langsung tentang fungsi ekosistem mangrove, tantangan pelestariannya, serta peran masyarakat lokal dalam menjaga lingkungan. Tidak hanya dari kalangan akademisi, berbagai kelompok relawan (volunteer) juga rutin datang ke kawasan ini. Mereka terlibat dalam kegiatan penanaman bibit mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu motto yang sering digaungkan oleh para relawan adalah bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menanam dan merawat mangrove secara konsisten.

Peran anak muda setempat juga sangat menonjol, salah satunya melalui kelompok IKAL (Ikatan Keluarga Lantebung). Kelompok ini menginisiasi kegiatan bertajuk “Hutan Merdeka” yang berfokus pada edukasi mangrove bagi warga desa. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami manfaat mangrove bagi kehidupan pesisir, mulai dari aspek lingkungan hingga ekonomi. “Bagi kami di Lantebung, Hutan Merdeka itu bukan sekadar nama kegiatan, tetapi cara pandang terhadap mangrove.

Hutan ini kami sebut merdeka karena ia memberi kebebasan hidup, bebas dari abrasi, bebas dari banjir, dan bebas bagi masyarakat untuk tetap menggantungkan hidup pada laut,” ujar Dadi, selaku masyarakat setempat. Kegiatan “Hutan Merdeka” tidak hanya berisi edukasi, tetapi juga diperkaya dengan penampilan tarian adat Makassar sebagai bentuk pelestarian budaya lokal. Acara kemudian ditutup dengan penanaman bibit mangrove secara bersama-sama. Melalui kegiatan ini, kawasan mangrove Lantebung tidak hanya menjadi simbol pelestarian alam, tetapi juga ruang kolaborasi antara budaya, pendidikan, dan kepedulian lingkungan yang terus tumbuh dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top