INSPIRASI NUSANTARA–Penggunaan pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater di kalangan Generasi Z terus meningkat seiring meluasnya integrasi layanan keuangan digital dalam platform belanja, transportasi, dan aplikasi gaya hidup di wilayah perkotaan. Sejumlah riset menempatkan fenomena ini sebagai tantangan baru bagi ketahanan finansial generasi muda yang baru memasuki usia produktif.
Temuan riset keuangan digital menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok pengguna paling aktif kredit digital karena terbiasa dengan sistem transaksi instan dan minim persyaratan administratif. Layanan pinjol dan paylater memungkinkan transaksi dilakukan tanpa tatap muka serta tanpa analisis kredit yang ketat, sehingga kerap digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan perhitungan kemampuan bayar. Skema cicilan kecil dan pembayaran tertunda memberi kesan ringan, padahal jika digunakan berulang, beban tagihan bisa menumpuk dan sulit dikendalikan.
Promosi agresif, diskon berbatas waktu, serta notifikasi aplikasi turut mendorong percepatan keputusan konsumsi tanpa evaluasi risiko yang memadai. Pola ini membuat kredit digital lebih sering dimanfaatkan untuk kebutuhan non-esensial, bukan sebagai instrumen pengelolaan keuangan yang terencana.
Riset yang sama juga mencatat adanya kesenjangan antara tingkat pemahaman literasi keuangan dan praktik pengelolaan uang di kalangan Gen Z. Meski sebagian responden mengaku memahami konsep dasar keuangan, penggunaan kredit digital tetap tinggi. Kondisi ini diperparah oleh pendapatan awal yang belum stabil serta meningkatnya biaya hidup di kota-kota besar.
Integrasi layanan paylater dalam ekosistem e-commerce dan aplikasi gaya hidup menjadikan utang digital bagian dari rutinitas konsumsi harian. Pengamat kebijakan publik menilai situasi ini berpotensi membentuk ketergantungan struktural. “Ketika utang menjadi mekanisme normal untuk bertahan atau bergaya hidup di kota, risiko sosial dan ekonomi jangka panjang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
Para peneliti menilai tren tersebut sebagai peringatan bagi sistem perlindungan konsumen dan kebijakan keuangan digital. Tanpa penguatan literasi keuangan yang kontekstual serta regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi finansial, Generasi Z berisiko memasuki usia dewasa dengan beban utang yang menghambat mobilitas ekonomi dan ketahanan hidup perkotaan.
Fenomena pinjol dan paylater ini menegaskan bahwa transformasi keuangan digital bukan hanya persoalan akses teknologi, tetapi juga menyangkut kesiapan warga dan kebijakan kota dalam memastikan keberlanjutan kehidupan ekonomi generasi muda.(eva/IN)














