Kartu Pokemon Bergeser Jadi Aset Koleksi

KARTU POKEMON
Ilustrasi kartu Pokémon yang kini tidak hanya digunakan sebagai permainan, tetapi juga menjadi aset koleksi dengan nilai jual tinggi di pasar trading card game (TCG).(foto:ist)

INSPIRASINUSANTARA- Kartu Pokemon yang selama ini dikenal sebagai permainan dan barang koleksi kini mulai masuk ke ruang investasi alternatif di kalangan anak muda. Tren tersebut berkembang seiring meningkatnya nilai jual kartu langka dan tumbuhnya pasar trading card game (TCG) di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Perubahan itu terlihat dari meningkatnya aktivitas jual beli kartu Pokemon yang tidak lagi hanya dilakukan untuk kebutuhan permainan atau koleksi pribadi. Sejumlah kartu edisi terbatas kini diburu karena dianggap memiliki nilai ekonomi yang dapat terus meningkat dalam jangka panjang.

Peneliti Monash University Indonesia, Imanuel Adhitya Wulanata Chrismastianto, menilai fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan cara generasi muda memandang hobi dan barang koleksi. “Kartu Pokemon kini tidak hanya dipandang sebagai media permainan, tetapi juga bagian dari aset koleksi yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Menurut Imanuel, perkembangan media sosial dan budaya koleksi digital ikut mempercepat pertumbuhan pasar kartu Pokemon. Konten pembukaan booster pack, proses grading kartu, hingga transaksi kartu bernilai tinggi membuat kartu Pokemon semakin dikenal sebagai komoditas koleksi dengan nilai jual yang terus bergerak mengikuti pasar.

Ia menjelaskan nilai kartu Pokemon ditentukan oleh beberapa faktor, mulai dari kelangkaan produk, kondisi fisik kartu, hingga popularitas karakter. Karena itu, tidak semua kartu memiliki harga tinggi. Pasar kolektor cenderung hanya memburu kartu tertentu yang dinilai langka dan memiliki permintaan tinggi.

Fenomena kartu Pokemon juga mulai berdampak pada tumbuhnya komunitas trading card game di berbagai kota. Aktivitas turnamen, toko kolektor, hingga forum jual beli kartu semakin berkembang dan menciptakan pasar baru di sektor ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Meski demikian, Imanuel mengingatkan bahwa kartu Pokemon tetap memiliki risiko tinggi jika diposisikan sebagai investasi. “Berbeda dengan investasi konvensional, nilai kartu Pokemon sangat dipengaruhi hype dan permintaan pasar,” katanya.

Ia menilai tren tersebut memperlihatkan bagaimana batas antara hobi, gaya hidup, dan aktivitas ekonomi kini semakin tipis di era digital. Barang koleksi yang sebelumnya hanya memiliki nilai emosional mulai berubah menjadi aset yang diperdagangkan karena pengaruh komunitas dan budaya populer.

Perkembangan kartu Pokemon sebagai aset koleksi menunjukkan perubahan pola konsumsi generasi muda yang kini lebih terbuka terhadap bentuk investasi alternatif. Di tengah berkembangnya ekonomi berbasis komunitas dan tren budaya digital, kartu Pokemon tidak lagi dipandang sekadar permainan, tetapi juga bagian dari pasar koleksi bernilai ekonomi.(frh/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *