INSPIRASINUSANTARA-Tekanan terhadap ketersediaan air bersih mendorong pemanfaatan rainwater harvesting atau pemanenan air hujan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan air rumah tangga. Kondisi ini terjadi di tengah peningkatan konsumsi air yang tidak selalu diimbangi dengan kestabilan pasokan.
Ketergantungan pada air tanah dan layanan distribusi dinilai membuat sistem penyediaan air semakin rentan terhadap gangguan serta kenaikan biaya. Dalam situasi tersebut, pemanfaatan air hujan mulai dipertimbangkan sebagai sumber tambahan.
Pemanenan air hujan dilakukan dengan menampung air yang turun saat hujan untuk digunakan kembali, terutama untuk kebutuhan non-konsumsi seperti mencuci, sanitasi, dan penyiraman.
Peneliti pengelolaan sumber daya air dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arwin Sabar, mengatakan pemanfaatan air hujan dapat menjadi salah satu langkah untuk merespons tekanan tersebut. Rainwater harvesting bisa membantu mengurangi ketergantungan pada sumber air utama,” kata Arwin.
Ia menjelaskan, penggunaan air hujan juga berkontribusi pada efisiensi konsumsi. Air hujan memiliki kandungan mineral lebih rendah sehingga dinilai lebih efektif untuk aktivitas tertentu, termasuk mencuci karena membutuhkan lebih sedikit bahan pembersih.
Selain itu, penampungan air hujan disebut dapat mengurangi limpasan saat curah hujan tinggi yang berpotensi menimbulkan genangan di wilayah perkotaan. Air yang ditampung juga dapat dimanfaatkan sebagai cadangan saat musim kemarau.
Meski demikian, Arwin menegaskan bahwa pemanfaatan air hujan saat ini masih terbatas untuk kebutuhan non-konsumsi. Untuk digunakan sebagai air minum, diperlukan proses pengolahan lanjutan agar memenuhi standar kesehatan.
Di tengah tekanan air bersih yang terus meningkat, pemanenan air hujan mulai dipandang sebagai bagian dari upaya adaptasi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari.(jmi/IN)













