INSPIRASINUSANTARA-Upaya memperkuat peran perpustakaan kembali dilakukan di Sulawesi Selatan di tengah tantangan rendahnya minat baca generasi muda. Di saat akses informasi semakin didominasi oleh perangkat digital, keberadaan perpustakaan tidak hanya dituntut menyediakan bahan bacaan, tetapi juga mampu menarik perhatian dan membentuk kebiasaan membaca.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) mendorong penguatan layanan perpustakaan melalui peningkatan fasilitas dan perluasan akses. Program ini mencakup pengembangan perpustakaan umum di Makassar, layanan perpustakaan ibu dan anak, serta perpustakaan keliling untuk menjangkau wilayah dengan keterbatasan akses literasi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Muhammad Jufri, menegaskan bahwa peningkatan minat baca menjadi fokus utama pemerintah daerah. “Kami terus mendorong peningkatan minat baca masyarakat. Literasi merupakan aspek yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga budaya membaca harus diperkuat,” ujarnya yang dikutip dari sulselprov.go.id pada Selasa, 21 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa penguatan perpustakaan diarahkan untuk menjadikan layanan lebih inklusif dan relevan bagi masyarakat. Perpustakaan tidak hanya diposisikan sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar yang nyaman dan mampu menarik berbagai kalangan.
Menurutnya, perubahan pendekatan ini penting agar perpustakaan dapat berfungsi sebagai ruang interaksi dan aktivitas edukatif. Dengan cara tersebut, perpustakaan diharapkan mampu beradaptasi dengan kebiasaan generasi muda yang kini lebih banyak mengakses konten melalui perangkat digital.
Penguatan layanan perpustakaan juga menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah. Pemerintah daerah menempatkan literasi sebagai fondasi penting dalam mendukung daya saing masyarakat di masa depan.
Namun demikian, tantangan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan fasilitas. Perubahan kebiasaan membaca masyarakat dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan penguatan layanan perpustakaan.
Perpustakaan keliling diharapkan dapat menjangkau masyarakat di daerah yang belum memiliki akses memadai, sementara layanan ibu dan anak diarahkan untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini. Kedua pendekatan ini menjadi upaya memperluas jangkauan sekaligus membangun fondasi literasi.
Dalam konteks ini, penguatan perpustakaan menunjukkan arah kebijakan yang lebih luas, yakni menjadikan literasi sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran di kota dan daerah. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada sejauh mana masyarakat memanfaatkan layanan tersebut serta kemampuan perpustakaan beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi.(zfr/IN)














