MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Di tengah persaingan antarwilayah menarik investasi, tantangan sebuah kota tidak lagi hanya membangun infrastruktur atau menawarkan insentif ekonomi. Yang semakin penting adalah bagaimana sebuah daerah mampu menarik perhatian dunia, membangun kepercayaan, dan mengubah ketertarikan itu menjadi kerja sama yang berdampak bagi masyarakat.
Upaya itu sedang dilakukan Kota Makassar. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Makassar masuk dalam daftar Best Place to Invest versi Majalah Fortune Indonesia dan menjadi tuan rumah Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 yang menghadirkan 41 delegasi dari 28 negara pada 23–25 Juni 2026.

Dua momentum tersebut memperlihatkan strategi yang sama. Di satu sisi, Makassar berupaya memperkuat citra sebagai kota tujuan investasi. Di sisi lain, pemerintah kota menggunakan diplomasi budaya dan kuliner sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan potensi ekonomi daerah kepada komunitas internasional.
Dalam wawancara dengan Majalah Fortune Indonesia untuk edisi khusus Best Place to Invest, Senin (22/6/2026), Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menjelaskan bahwa posisi geografis Makassar menjadi modal utama pertumbuhan ekonomi daerah karena berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa di kawasan Indonesia Timur.
Menurut Munafri, hampir seluruh aktivitas distribusi barang dan jasa menuju kawasan timur Indonesia memiliki keterkaitan dengan Makassar. Kondisi tersebut menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan berbagai aktivitas bisnis, logistik, dan investasi.
“Makassar merupakan hub perdagangan Indonesia Timur. Posisi strategis ini menjadikan Makassar sebagai pintu masuk utama bagi aktivitas bisnis, logistik, dan investasi yang ingin menjangkau kawasan timur Indonesia,” kata Munafri.
Posisi tersebut, menurutnya, turut mendorong pertumbuhan ekonomi Makassar yang pada triwulan pertama 2026 mencapai 6,61 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,39 persen. Pada saat yang sama, realisasi investasi tercatat mencapai Rp1,23 triliun atau sekitar 22,81 persen dari total investasi yang masuk ke Sulawesi Selatan.
Munafri menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut ditopang oleh beberapa faktor, mulai dari fungsi Makassar sebagai hub logistik Indonesia Timur, meningkatnya kepercayaan investor, hingga transformasi ekonomi menuju digitalisasi. Ia juga menilai struktur ekonomi Makassar yang heterogen membuat kota ini lebih mampu menjaga stabilitas pertumbuhan karena tidak bergantung pada satu sektor tertentu.
“Makassar memiliki struktur ekonomi yang heterogen. Ketika satu sektor mengalami perlambatan, sektor lain tetap bergerak sehingga stabilitas pertumbuhan ekonomi dapat terjaga,” ujarnya.
Upaya memperluas kepercayaan investor itu kemudian diperkuat melalui Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI bersama Pemerintah Kota Makassar. Dalam kegiatan tersebut, para delegasi yang terdiri atas duta besar, kepala perwakilan negara sahabat, konsul jenderal, dan korps diplomatik diperkenalkan pada potensi ekonomi, budaya, pariwisata, serta peluang investasi yang dimiliki Makassar dan Sulawesi Selatan.
Saat menyambut para delegasi dalam jamuan resmi di Benteng Fort Rotterdam, Selasa (23/6/2026), Munafri menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar memperkenalkan kuliner Indonesia. Menurutnya, diplomasi melalui gastronomi menjadi cara untuk membangun hubungan yang lebih dekat antarbangsa sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas.
“Malam ini bukan sekadar jamuan makan malam, ini adalah perayaan persahabatan, budaya, dan diplomasi melalui makanan,” ujar Munafri di hadapan para delegasi dari Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Pasifik.
Ia menjelaskan bahwa Makassar terus berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional yang didukung infrastruktur modern, konektivitas yang kuat, sumber daya manusia yang kompetitif, serta keberadaan berbagai fasilitas strategis seperti kawasan industri, jaringan transportasi, dan Pelabuhan Makassar New Port. Karena itu, para delegasi diajak melihat Makassar tidak hanya sebagai destinasi kuliner, tetapi juga sebagai kota sejarah, budaya, inovasi, dan peluang ekonomi.
“Selama kunjungan ini, kami mengundang para delegasi untuk mengenal Makassar tidak hanya sebagai destinasi kuliner, tetapi juga sebagai kota sejarah, budaya, inovasi, dan peluang,” katanya.
Melalui forum investasi dan bisnis, kunjungan ke pameran produk unggulan UMKM, tur kota, hingga pengalaman budaya di atas Kapal Pinisi, Pemerintah Kota Makassar berharap perhatian internasional yang terbangun dapat berkembang menjadi kerja sama konkret di bidang perdagangan, investasi, pariwisata, ekonomi kreatif, dan pertukaran pengetahuan. Tantangannya, sebagaimana disampaikan Munafri, bukan hanya meningkatkan nilai investasi, melainkan memastikan setiap investasi mampu menciptakan lapangan kerja, memberdayakan masyarakat sekitar, serta membuka peluang yang lebih besar bagi UMKM lokal.

Pada titik inilah keberhasilan diplomasi ekonomi akan diuji: bukan dari banyaknya tamu yang datang atau besarnya angka investasi yang diumumkan, tetapi dari seberapa jauh manfaatnya dapat dirasakan oleh warga Makassar sendiri. (*)
Redaksi inspirasinusantara.id














