SELAYAR,inspirasinusantara.id- Masalah gizi dan kebiasaan belajar yang kurang sehat masih menjadi tantangan di wilayah kepulauan, terutama bagi anak usia sekolah. Keterbatasan akses informasi dan pemanfaatan pangan lokal yang belum optimal membuat intervensi berbasis edukasi menjadi penting. Di Kepulauan Selayar, pendekatan ini dilakukan melalui program pengabdian masyarakat yang menyasar keluarga dan lingkungan sekolah.
Universitas Hasanuddin melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PPMU-PK-M) Tahun 2026 di Desa Patikarya, Kecamatan Bontosikuyu, Kamis (16/7/2026). Program ini mengusung tema pemberdayaan ibu dalam edukasi gizi anak sekolah melalui pelatihan pengolahan pangan lokal ramah anak, sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma perguruan tinggi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari intervensi di dua wilayah, yakni Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Kepulauan Selayar. Di Desa Patikarya, program melibatkan pemerintah desa, PKK, kader dasawisma, dan guru sebagai mitra utama. Sekretaris Desa Patikarya, Nurhalis, membuka kegiatan yang juga dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Desa Patikarya, Ira Maya, bersama unsur masyarakat lainnya.
Fokus program diarahkan pada dua aspek, yakni edukasi gizi anak sekolah dan penerapan konsep Ergo Smart School. Pada materi gizi, peserta diperkenalkan pada prinsip gizi seimbang, kebutuhan nutrisi anak, serta pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi keluarga. Sementara itu, konsep ergonomi menekankan kebiasaan belajar yang sehat, mulai dari postur duduk, posisi belajar, penggunaan tas sekolah, hingga latihan peregangan untuk mencegah gangguan muskuloskeletal sejak dini.
Ketua tim program, Citrakesumasari, bersama tim peneliti mengembangkan pendekatan edukasi berbasis media interaktif. Materi disampaikan melalui buku saku ergonomi, video panduan “Tumbuh Aktif & Ergonomis”, presentasi, serta demonstrasi langsung agar mudah dipahami dan diterapkan oleh masyarakat.
Pendekatan ini menempatkan kader PKK dan dasawisma sebagai perpanjangan tangan edukasi di tingkat keluarga. Mereka diharapkan tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjadi fasilitator yang dapat menyebarluaskan pengetahuan tentang gizi dan kebiasaan belajar sehat secara berkelanjutan di lingkungan masing-masing.
Program ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan anak tidak cukup dilakukan di fasilitas kesehatan atau sekolah saja, tetapi perlu menjangkau keluarga sebagai unit utama. Dengan memanfaatkan potensi pangan lokal dan perubahan kebiasaan sehari-hari, upaya peningkatan kualitas kesehatan anak dapat dilakukan secara lebih kontekstual.
Ke depan, tantangan utama adalah menjaga keberlanjutan edukasi setelah program selesai. Tanpa pendampingan lanjutan, risiko pengetahuan tidak diterapkan tetap terbuka. Karena itu, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci agar program ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi gerakan yang memperkuat kualitas generasi di wilayah kepulauan.(*/IN)














