BONE,inspirasinusantara.id- Masa transisi dari rumah ke lingkungan sekolah sering menjadi tantangan bagi murid baru, terutama pada jenjang sekolah dasar. Adaptasi yang tidak optimal dapat memengaruhi kenyamanan belajar di tahap awal pendidikan. Untuk itu, SD Islam Athirah Bone merancang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak hanya sebagai pengenalan fasilitas, tetapi juga sebagai proses membangun rasa aman dan kedekatan antara murid, sekolah, dan keluarga.
Sebanyak 54 murid baru resmi bergabung pada tahun ajaran 2026/2027 dan mengikuti rangkaian MPLS yang dikombinasikan dengan Welcoming Day. Sejak hari pertama, murid disambut oleh guru, tenaga kependidikan, serta kakak kelas dalam suasana yang menekankan nilai kebersamaan. Salah satu simbol penyambutan dilakukan melalui pemberian buah anggur oleh kakak kelas kepada murid baru sebagai bentuk kasih sayang dan penguatan relasi sosial di lingkungan sekolah.
Di saat yang sama, orang tua mengikuti sesi Welcoming Day yang dirancang untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga. Dalam sesi tersebut, Kepala SD Islam Athirah Bone memaparkan program pendidikan yang berfokus pada pembelajaran berbasis karakter Islami, penguatan literasi dan numerasi, pembiasaan ibadah, serta program bilingual sebagai bagian dari strategi pengembangan kompetensi murid.
Sekolah juga memperkenalkan Rencana Strategis (Renstra) sebagai arah kebijakan pendidikan dalam beberapa tahun ke depan. Kepala sekolah menyebut visi institusi diarahkan pada penguatan kualitas pembelajaran dan kemampuan bahasa. “SD Islam Athirah Bone memiliki cita-cita besar, yaitu menjadi sekolah bilingual terbaik se-Indonesia Timur. Kami ingin lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga percaya diri berkomunikasi dalam bahasa Inggris, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Selain aspek akademik, sekolah menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Menurutnya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga oleh dukungan keluarga. “Kami mengajak seluruh orang tua untuk menjadi mitra terbaik sekolah. Ketika sekolah dan keluarga berjalan seiring, insyaallah anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang saleh, cerdas, mandiri, dan memiliki daya saing tinggi,” tambahnya.
Respons positif datang dari orang tua yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menilai pendekatan penyambutan yang hangat serta keterbukaan informasi program sekolah menjadi dasar penting dalam membangun kepercayaan sejak awal. Keterlibatan orang tua dalam fase awal ini juga menjadi bagian dari strategi sekolah untuk memastikan keberlanjutan proses belajar anak.
Melalui MPLS dan Welcoming Day, SD Islam Athirah Bone menempatkan adaptasi murid sebagai bagian dari kebijakan pendidikan yang lebih luas, yakni membangun lingkungan belajar yang inklusif dan kolaboratif. Ke depan, tantangan utamanya adalah menjaga konsistensi sinergi antara sekolah dan keluarga agar proses pendidikan tidak hanya berjalan di ruang kelas, tetapi juga berlanjut di lingkungan rumah.(*/IN)














