ADA masa ketika prestasi sebuah universitas hanya diukur dari peringkat, akreditasi, atau megahnya infrastruktur. Namun, ukuran itu perlahan bergeser. Kampus kini dinilai dari kemampuannya melahirkan mahasiswa yang mampu bersaing, menyelesaikan studi tepat waktu, serta menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat. Dalam lanskap itulah Universitas Hasanuddin menapaki empat tahun terakhir.
Momentum tersebut kembali mendapat perhatian setelah Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K) kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan periode 2026–2030. Kepercayaan itu datang bukan hanya kepada seorang administrator, tetapi kepada akademisi yang perjalanan keilmuannya ditempa sejak menamatkan pendidikan dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, kemudian melanjutkan pendidikan magister dan spesialis bedah mulut serta maksilofasial di Universitas Padjadjaran, hingga meraih gelar Ph.D. pada Department of Oral and Maxillofacial Surgery/Oral Pathology, Vrije Universiteit Amsterdam dan Academic Centre for Dentistry Amsterdam (ACTA), Belanda.
Latar belakang akademik tersebut membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan tinggi. Sebagai konsultan bedah mulut dan maksilofasial, Prof. Ruslin melihat ilmu pengetahuan bukan sekadar capaian akademik, melainkan harus memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Keilmuan bukan hanya milik ruang kelas. Ia mesti hidup dalam pergulatan sosial,” ujarnya saat peluncuran Program Mahakarya beberapa waktu lalu.
Gagasan itu menjadi benang merah antara pengembangan keilmuan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam perjalanan kepemimpinannya. Sebelum dipercaya mendampingi rektor sebagai Wakil Rektor I, Prof. Ruslin pernah memimpin Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Hasanuddin pada 2015–2019, kemudian menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin periode 2019–2022. Di saat yang sama, ia tetap aktif sebagai staf pengajar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial serta memimpin Journal of Dentomaxillofacial Sciencesebagai Editor in Chief, memperlihatkan konsistensinya dalam mengembangkan pendidikan, layanan kesehatan, dan publikasi ilmiah secara bersamaan.
Perubahan tidak pernah lahir dari satu kebijakan yang berdiri sendiri. Ia tumbuh melalui proses panjang membangun sistem yang mendorong mahasiswa berprestasi, memperkuat budaya akademik, dan menghadirkan ruang belajar yang semakin kompetitif. Hasilnya mulai terlihat melalui berbagai indikator yang dapat diukur.
Pada 2023, mahasiswa Universitas Hasanuddin berhasil menorehkan 470 prestasi pada berbagai ajang, mulai dari tingkat lokal hingga internasional. Di dalamnya terdapat 36 prestasi internasional, 391 prestasi nasional, 27 prestasi tingkat wilayah, dan 16 prestasi tingkat lokal. Angka tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas akademik mahasiswa tidak lagi terbatas pada ruang kuliah, melainkan berkembang menjadi inovasi, penelitian, kewirausahaan, olahraga, seni, dan berbagai kompetisi ilmiah.
Budaya akademik yang kuat tidak hanya lahir dari ruang perkuliahan, tetapi juga dari teladan sivitas akademika yang aktif menghasilkan karya ilmiah. Pada 2023, Prof. Ruslin menerima Anugerah Dosen Academic Leader Bidang Kesehatan Universitas Hasanuddin. Sebelumnya, karya ilmiahnya juga memperoleh pengakuan internasional, antara lain melalui The Crispian Scully Research Award 2020 di Birmingham, Inggris, serta penghargaan Wiley Top Cited Article 2020–2021untuk publikasi di bidang trauma maksilofasial. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan budaya akademik di Unhas bertumpu pada tradisi riset yang terus dikembangkan.
Konsistensi itu berlanjut pada tahun berikutnya. Dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Universitas Hasanuddin berhasil meloloskan 135 proposal yang memperoleh pendanaan. Capaian tersebut menempatkan Unhas pada peringkat ketiga nasional, sebuah indikator bahwa kultur penelitian dan inovasi mahasiswa terus tumbuh melalui proses pembinaan yang sistematis.
Produktivitas tersebut kemudian bermuara pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Sebanyak 38 tim Universitas Hasanuddin berhasil melaju ke PIMNAS 2024, kembali menempatkan Unhas di jajaran tiga besar nasional berdasarkan jumlah tim yang lolos. Capaian itu menunjukkan bahwa keberhasilan mahasiswa bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang sejak tahap pembinaan proposal hingga kompetisi nasional.
Puncak dari perjalanan tersebut terjadi ketika Universitas Hasanuddin dinobatkan sebagai Juara Umum PIMNAS ke-37.
Prestasi itu memiliki makna historis karena menjadi kali pertama perguruan tinggi di luar Pulau Jawa berhasil meraih gelar tertinggi dalam kompetisi ilmiah mahasiswa paling bergengsi di Indonesia. Lebih dari sekadar kemenangan, capaian itu menjadi penanda bahwa pusat-pusat keunggulan akademik di Indonesia semakin berkembang secara lebih merata.
Prestasi mahasiswa berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola kemahasiswaan. Pada 2024, Universitas Hasanuddin meraih predikat Unggul Klaster 1 dalam Sistem Informasi Kinerja Tata Kelola Kemahasiswaan (SIMKATMAWA).
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan organisasi kemahasiswaan, pengembangan minat dan bakat, hingga sistem pendampingan prestasi dikelola secara terstruktur dan berkelanjutan.
Di sisi akademik, perhatian juga diarahkan pada penyelesaian studi mahasiswa.
Melalui penguatan sistem monitoring akademik dan pendampingan, jumlah mahasiswa yang belum menyelesaikan studi berhasil ditekan secara signifikan, dari lebih dua belas ribu menjadi sekitar lima ribu mahasiswa. Perubahan ini mencerminkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa yang diterima, tetapi juga dari kemampuan kampus memastikan mereka berhasil menyelesaikan pendidikan.
Berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika Universitas Hasanuddin. Dosen, tenaga kependidikan, pimpinan fakultas, organisasi kemahasiswaan, hingga para mahasiswa menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguatkan. Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Prof. Muhammad Ruslin menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan ekosistem tersebut, yaitu ekosistem yang dibangun di atas tradisi keilmuan, kepemimpinan akademik, dan komitmen terhadap pengembangan mahasiswa.
Pada akhirnya, prestasi bukanlah garis akhir bagi sebuah universitas. Prestasi adalah penanda bahwa sebuah ekosistem sedang bekerja. Universitas Hasanuddin telah menunjukkan langkah itu dalam beberapa tahun terakhir. Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan capaian, melainkan memastikan semangat akademik, inovasi, dan pengabdian terus menjadi budaya yang hidup di setiap generasi mahasiswa yang akan datang. (*/sal)














