ADA orang yang mengabdikan hidupnya untuk menyembuhkan. Ada pula yang memilih membangun generasi. Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K), melakukan keduanya.
Dari ruang operasi hingga ruang kebijakan kampus, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan menemukan makna ketika benar-benar digunakan untuk melayani manusia.
Lahir di Pangkajene pada 2 Juli 1973, perjalanan Prof. Ruslin tidak dibentuk oleh jalan yang instan. Penulis mengenal beliau sejak 2016 silam, masa di mana RS Gigi Unhas unjuk gigi di tingkat Global.
Semangatnya yang pantang surut, bisa jadi karena Prof Ruslin pernah bercita-cita menjadi seorang tentara. Namun hidup membawanya memilih jalan lain, jalan yang mungkin tidak menggunakan seragam militer, tetapi tetap menuntut disiplin, keberanian, dan dedikasi yang sama besar.
Pilihan itu membawanya menjadi seorang dokter gigi spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Bidang yang tidak hanya berbicara tentang tindakan medis, tetapi juga tentang mengembalikan fungsi, kepercayaan diri, dan harapan.
Di balik setiap operasi yang dijalani pasien, ada kehidupan yang perlahan dipulihkan.
Namun bagi Prof. Ruslin, menjadi dokter saja tidak pernah cukup. “Ilmu harus terus bertumbuh dan diwariskan,” ujarnya pada 2017 silam. Ungkapan yang masih tersimpan rapi dalam satu email.
Karena itu, ruang kuliah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengabdiannya. Di sana ia tidak sekadar mengajar, tetapi menanamkan cara berpikir, etika, dan tanggung jawab kepada calon-calon dokter masa depan.
Komitmennya terhadap pendidikan kemudian mengantarkannya memimpin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin sebagai dekan. Kepemimpinan itu menjadi babak baru, ketika tanggung jawabnya bukan lagi hanya mendidik mahasiswa, melainkan membangun sistem pendidikan yang lebih baik dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Kepercayaan itu terus bertumbuh. Kini, Prof. Ruslin mengemban amanah sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin. Amanah ini menjadikannya salah satu sosok yang menentukan arah kebijakan akademik, kualitas pembelajaran, hingga pembinaan puluhan ribu mahasiswa Unhas. Bukan hanya mengurus administrasi kampus, tetapi memastikan bahwa Universitas Hasanuddin terus melahirkan lulusan yang unggul, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat global.
Di tengah berbagai tanggung jawab itu, ia tetap aktif sebagai akademisi dan peneliti. Kiprahnya bahkan melampaui batas negara. Prof. Ruslin dipercaya menjadi co-promotor program doktor di Vrije Universiteit Amsterdam dalam riset mengenai terapi regeneratif bagi pasien celah bibir dan langit-langit mulut. Sebuah pengakuan bahwa karya akademik dari Indonesia mampu berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Sebagai Guru Besar di bidang Bedah Mulut dan Maksilofasial, beliau kerap mengingatkan bahwa kemajuan teknologi kesehatan bukanlah tujuan akhir. Tujuan utamanya adalah membuat pelayanan kesehatan semakin manusiawi, lebih presisi, dan benar-benar meningkatkan kualitas hidup pasien. Pandangan itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan selalu harus berpihak kepada manusia.
Tak berhenti di sana, beliau juga dipercaya memimpin Kolegium Bedah Mulut dan Maksilofasial Indonesia. Amanah tersebut berarti ikut menjaga mutu pendidikan spesialis di seluruh Indonesia, memastikan lahirnya dokter-dokter yang kompeten dan siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Meski memiliki banyak jabatan dan prestasi, mereka yang pernah berdiskusi dengannya sering merasakan satu hal yang sama: kesederhanaan. Beliau lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih memilih berdialog daripada menggurui. Barangkali di situlah letak kepemimpinannya, membangun melalui keteladanan, bukan sekadar instruksi.
Mungkin itulah yang membuat perjalanan Prof. Ruslin terasa berbeda. Ia tidak hanya membangun karier, tetapi juga membangun manusia. Tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga melahirkan generasi. Tidak hanya memimpin institusi, tetapi juga menjaga agar ilmu pengetahuan tetap memiliki hati.
Hari ini, 2 Juli 2026, ketika usia kembali bertambah, yang dirayakan bukan sekadar angka. Yang dirayakan adalah perjalanan seorang anak dari Pangkajene yang memilih jalan ilmu, mengabdikan diri sebagai dokter, mendidik sebagai akademisi, memimpin sebagai Wakil Rektor I Universitas Hasanuddin, dan terus meyakini bahwa pengabdian adalah bentuk tertinggi dari sebuah pencapaian.
Selamat ulang tahun, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K). Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, kebijaksanaan dalam memimpin, serta kekuatan untuk terus menghadirkan manfaat bagi dunia kesehatan, pendidikan, dan bangsa. Semoga setiap langkah yang dijalani selalu menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang. (*)
Penulis: Farisal














