MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Sampah plastik di Makassar tidak selalu berakhir sebagai limbah. Di tangan Payabo Recycle, plastik jenis HDPE dan PP diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual, mulai dari ecoboard dan furnitur hingga bingkai kacamata dan aksesori jam tangan.
Upaya mengubah sampah menjadi produk bernilai ekonomi itu kini mendapat dukungan Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Fajar melalui pendampingan produksi dan pengembangan usaha. UNM memberikan mesin injeksi pneumatik semiotomatis dengan sistem kontrol suhu digital PID untuk membantu Payabo Recycle meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
Sebelumnya, Payabo Recycle masih menggunakan tungku LPG secara manual. Kondisi tersebut membuat proses produksi terbatas dan berisiko menghasilkan produk cacat. Dalam laporan ANTARA, kapasitas produksi sebelumnya disebut sekitar 10 unit produk per pekan.
Ketua Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat Program BIMA 2026, Fauziah, mengatakan teknologi yang diberikan tidak hanya ditujukan untuk mengganti proses manual. “Teknologi ini kami kembangkan bukan hanya untuk menghadirkan mesin, tetapi juga membantu mitra meningkatkan kemampuan produksi, mengembangkan produk baru, dan mengelola proses secara mandiri.”
Dengan mesin baru, material HDPE dan PP dapat dicetak dengan ukuran yang lebih presisi. Pengembangan produk juga diarahkan ke produk yang lebih kecil seperti bingkai kacamata dan aksesori jam tangan.
Perubahan ini penting karena nilai sampah tidak lagi berhenti pada harga plastik ketika dikumpulkan. Nilainya berubah setelah plastik dipilah, diproses, dicetak, dan menjadi barang yang bisa dipasarkan.
Namun, pertanyaan berikutnya adalah: berapa sebenarnya uang yang bisa dihasilkan dari 1 kilogram sampah plastik?
Jawabannya tidak sesederhana mengalikan harga sampah dengan jumlah kilogram yang terkumpul. Harga bahan baku, biaya pemilahan, energi, tenaga kerja, proses produksi, hingga harga jual produk akhir semuanya menentukan margin usaha.
Untuk harga bahan baku, tidak tersedia angka pembelian HDPE atau PP oleh Payabo Recycle dalam sumber utama. Karena itu, harga beli 1 kilogram plastik untuk Payabo Recycle tidak dapat dipastikan dari data publik tersebut.
Data pasar yang tersedia juga menunjukkan harga plastik sangat bergantung pada jenis dan kualitasnya. Sebagai gambaran, harga biji plastik PP dan HDPE pada 2026 mengalami perubahan tajam. Pada April-Mei 2026, sejumlah laporan pasar mencatat harga biji PP dan HDPE meningkat signifikan. Namun, angka tersebut merupakan harga biji plastik, bukan harga sampah HDPE atau PP yang dibeli dari masyarakat atau pemulung.
Karena itu, angka harga biji plastik tidak bisa langsung digunakan untuk menghitung keuntungan Payabo Recycle. Begitu pula dengan biaya pemilahan. Belum ada data publik terbaru yang menunjukkan berapa biaya yang dikeluarkan Payabo Recycle untuk memilah satu kilogram HDPE atau PP. Biaya tersebut bisa berbeda tergantung apakah bahan sudah terpilah ketika diterima atau masih harus dipisahkan, dibersihkan, dan disiapkan sebelum masuk mesin.
Biaya produksi juga belum dapat dihitung secara pasti. Pendampingan UNM justru mencakup penyusunan Harga Pokok Produksi atau HPP, pencatatan stok, pengendalian mutu, SOP produksi, serta manajemen bisnis. Artinya, salah satu pekerjaan penting dalam program ini adalah membantu Payabo Recycle mengetahui berapa biaya sebenarnya untuk menghasilkan satu produk.
Di titik ini, perbedaan antara harga sampah dan nilai produk menjadi penting.
Satu kilogram plastik tidak otomatis bernilai sama dengan harga jual produk yang dihasilkan dari satu kilogram material tersebut. Ada proses produksi yang harus dibayar. Ada pula kemungkinan material terbuang, produk gagal, penggunaan energi, tenaga kerja, dan biaya lainnya.
Karena itu, margin baru dapat dihitung setelah diketahui berapa bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu produk, berapa biaya produksinya, dan berapa harga jual produk tersebut.
Jika misalnya satu produk membutuhkan sejumlah material HDPE atau PP, maka rumus sederhananya adalah harga jual dikurangi seluruh biaya untuk menghasilkan produk tersebut. Selisih itulah yang menjadi ruang margin usaha.
Masalahnya, sumber yang tersedia belum mencantumkan harga jual produk Payabo Recycle maupun HPP masing-masing produk. Karena itu, tidak tepat membuat klaim bahwa satu kilogram sampah plastik menghasilkan keuntungan tertentu.
Yang sudah terlihat adalah perubahan pada rantai nilai.
Plastik yang sebelumnya diproses secara manual kini diarahkan menjadi bahan baku untuk produk yang lebih beragam. Dari sekadar sampah, material tersebut masuk ke proses produksi dan kemudian menjadi barang yang dapat dipasarkan.
Fauziah mengatakan pengembangan teknologi tersebut juga diarahkan untuk mendukung prinsip ekonomi sirkular dan mengurangi limbah plastik. “Teknologi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi mendukung pengurangan limbah plastik melalui prinsip ekonomi sirkular, serta berkontribusi pada pencapaian SDGs, khususnya SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab.”
Dengan demikian, pertanyaan “sampah plastik di Makassar bisa jadi uang, berapa nilainya?” tidak cukup dijawab dengan harga beli plastik per kilogram.
Nilainya justru ditentukan oleh seberapa jauh material tersebut dapat diolah menjadi produk yang memiliki pasar.
Payabo Recycle kini sedang berada pada tahap penting itu. Dukungan teknologi dari UNM bukan hanya membuat proses produksi lebih modern, tetapi juga mendorong kelompok tersebut menghitung usaha secara lebih terukur, mulai dari HPP, stok, mutu produksi hingga pengembangan produk.
Bagi persoalan sampah Makassar, perubahan tersebut memberi satu kemungkinan baru: sampah tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan baku yang bisa masuk kembali ke dalam kegiatan ekonomi.
Namun, agar benar-benar menjadi bisnis yang berkelanjutan, pertanyaan berikutnya tetap harus dijawab: berapa biaya mengolahnya dan berapa nilai produk yang sanggup dibayar pasar? (*/IN)














