INSPIRASINUSANTARA.ID — PSM Makassar mengawali Super League 2026/2027 dengan tantangan yang langsung menguji gagasan Darije Kalezic. Pasukan Ramang harus bertandang ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (6/9), untuk menghadapi Persib Bandung yang datang sebagai juara bertahan.
Laga pembuka itu bukan sekadar pertandingan pertama dalam kalender kompetisi. Bagi Kalezic, duel melawan Persib menjadi panggung awal untuk memperlihatkan seperti apa wajah baru PSM setelah klub menunjuknya kembali sebagai pelatih.
Kalezic kembali ke Makassar dengan membawa memori keberhasilan pada periode pertamanya. Ia pernah mengantarkan PSM meraih Piala Indonesia 2018/2019, sebuah trofi nasional yang mengakhiri penantian panjang klub tersebut. Kini, ia kembali dengan misi yang berbeda: membangun fondasi dan menghidupkan kembali karakter permainan PSM.
Identitas PSM Menjadi Titik Awal
Kalezic tidak menjadikan target juara sebagai titik pertama proyeknya. Dalam pernyataannya, pelatih asal Bosnia-Herzegovina itu justru berbicara mengenai identitas yang pernah melekat kuat pada PSM.
Ia mengatakan dirinya masih mengingat PSM ketika pertama kali menanganinya. Menurut Kalezic, tim saat itu memiliki identitas yang kuat dan jelas sehingga suporter bisa merasa bangga terhadap permainan yang mereka lihat di lapangan, bahkan ketika hasil pertandingan tidak selalu sesuai harapan.
“Saya masih sangat ingat masa pertama kalinya menangani PSM di mana tim memiliki identitas yang sangat kuat dan jelas,” kata Kalezic, seperti dikutip laman resmi I.League.
Pernyataan tersebut memberi gambaran mengenai prioritasnya. Kalezic ingin membangun cara bermain yang dapat dikenali, bukan hanya mengejar hasil dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
Dalam konteks itu, laga melawan Persib menjadi ujian awal yang menarik. PSM belum memiliki kemewahan untuk membangun identitas tersebut secara perlahan di pertandingan kompetitif yang ringan. Lawan pertama mereka justru Persib, tim yang telah memenangi kompetisi sebelumnya dan langsung menjalani musim dengan ambisi mempertahankan gelar.
“Ewako” dan Gaya Bermain yang Ingin Dibangun
Kalezic juga mengaitkan proyeknya dengan kultur sepak bola Makassar. Ia ingin menghidupkan kembali semangat “Ewako”, istilah yang selama ini dekat dengan karakter PSM dan suporternya.
Menurut Kalezic, unsur tersebut sempat kurang terlihat dalam permainan PSM. Karena itu, ia ingin karakter tersebut kembali muncul melalui cara tim bermain dan berkompetisi.
“Kita punya target untuk membawa kembali kultur sepak bola Makassar, Ewako,” ujar Kalezic. Ia menilai identitas tersebut perlu kembali terlihat agar para pendukung dapat mengenali karakter PSM di lapangan.
Gagasan tersebut juga mendapat pengakuan dari Marc Klok. Kapten Persib itu pernah bekerja bersama Kalezic ketika masih memperkuat PSM dan memahami pendekatan permainan sang pelatih.
Klok menggambarkan Kalezic sebagai pelatih yang memiliki gagasan taktik kuat, mengandalkan penguasaan bola ketika menyerang, sekaligus permainan agresif saat kehilangan bola. Menurut Klok, pendekatan tersebut juga cocok dengan karakter sepak bola Makassar.
“Dia pelatih dengan ide taktikal yang sangat baik, dia punya gaya bermain, dia punya identitas untuk main dengan bola, agresif tanpa bola,” kata Klok.
Dari pernyataan itu terlihat bahwa identitas yang ingin dibangun Kalezic bukan sekadar simbol atau slogan. Ada gagasan permainan yang menyertainya: PSM diharapkan mampu menguasai bola dan tetap agresif ketika tidak menguasainya.
Persib Menjadi Tolok Ukur Awal
Persib membuat pekerjaan tersebut semakin kompleks. Tim Bandung akan mengawali kompetisi di kandang sendiri dan menyandang status juara bertahan. Jadwal yang dirilis I.League menempatkan pertandingan Persib kontra PSM sebagai laga pembuka Maung Bandung pada 6 September 2026 pukul 19.00 WIB.
Persib juga menghadapi musim dengan target mempertahankan pencapaian sebelumnya. Bahkan setelah laga melawan PSM, mereka langsung menghadapi Persija Jakarta pada 12 September sehingga awal musim mereka berisi pertandingan dengan intensitas tinggi.
Kondisi itu membuat pertandingan di GBLA menjadi ruang yang cukup jelas untuk melihat seberapa jauh PSM mampu menerapkan gagasan pelatih barunya. Bukan dalam bentuk kesimpulan tentang hasil akhir musim, melainkan melalui tanda-tanda awal dari pola permainan yang Kalezic bangun.
Klok sendiri menilai identitas permainan Kalezic mungkin belum langsung terlihat sempurna pada pertandingan pertama. Menurut dia, PSM masih berada dalam proses membangun tim sehingga membutuhkan waktu untuk mencapai bentuk yang diinginkan sang pelatih.
“Dia masih membangun tim, karena baru game pertama di awal musim pasti belum seperti dia ingin,” ujar Klok.
Pandangan tersebut penting karena pertandingan pertama tidak bisa menjadi ukuran tunggal keberhasilan proyek Kalezic. Sebuah identitas permainan membutuhkan pengulangan, konsistensi, serta pemain yang memahami tuntutan taktik pelatih.
Tujuh Pekan untuk Membangun Fondasi
PSM tidak datang ke pertandingan pembuka tanpa persiapan. Skuad Kalezic menjalani persiapan selama sekitar tujuh pekan sebelum bertandang ke Bandung.
Manajemen juga melakukan perubahan komposisi pemain menjelang musim baru. Sejumlah pemain baru masuk, antara lain Henhen Herdiana, Agung Mannan, Nenad Lalic, Navarone Foor, Stefan Jevtoski, Sergio Aguero, Kodai Tanaka, dan Luka Bulatovic.
Perubahan tersebut memberi Kalezic ruang untuk membentuk tim sesuai gagasan yang ia bawa. Namun, pada saat yang sama, banyaknya elemen baru membuat proses membangun koneksi antarpemain membutuhkan waktu.
Kalezic sendiri memperoleh kontrak tiga tahun. Durasi tersebut menunjukkan bahwa klub tidak menempatkan proyeknya hanya untuk kebutuhan satu musim. Manajemen PSM berharap pelatih yang pernah membawa klub meraih Piala Indonesia itu dapat membangun kembali kekuatan tim secara bertahap.
Target Lima Besar, Bukan Sekadar Bertahan
Setelah melewati musim sebelumnya yang sulit, PSM kini ingin bergerak menjauh dari situasi papan bawah. Kalezic menyebut kestabilan sebagai salah satu kebutuhan penting agar PSM bisa kembali ke posisi yang menurutnya lebih pantas.
“Kita perlu kestabilan dan untuk bisa membawa PSM ke tempat yang seharusnya secara pelan-pelan, yaitu di lima teratas,” kata Kalezic menjelang pertandingan melawan Persib.
Target tersebut menunjukkan bahwa proyek identitas dan target kompetitif berjalan beriringan. Kalezic tidak hanya ingin PSM memiliki gaya bermain yang mudah dikenali, tetapi juga ingin membawa klub kembali ke papan atas.
Namun, ia memilih pendekatan bertahap. Posisi lima besar menjadi sasaran, sementara pertandingan pertama melawan Persib menjadi salah satu tahapan awal dari perjalanan tersebut.
Ada pula persoalan praktis yang sempat mengganggu persiapan PSM. Klub sebelumnya menghadapi sanksi larangan transfer dari FIFA, tetapi persoalan tersebut telah selesai sehingga PSM dapat menurunkan kekuatan yang telah disiapkan menghadapi Persib.
Dari situ, pertandingan pembuka bukan hanya tentang strategi di atas lapangan. Kalezic juga harus mengelola skuad yang sedang mengalami perubahan sambil memastikan para pemain memahami tuntutan permainan yang ia inginkan.
Apa yang Dicari dari PSM di Bandung?
Laga melawan Persib tidak harus menghasilkan jawaban final tentang keberhasilan proyek Kalezic. Pertandingan tersebut lebih tepat menjadi titik pertama untuk melihat apakah gagasan yang ia sampaikan mulai muncul dalam permainan PSM.
Penguasaan bola menjadi salah satu unsur yang bisa diamati. Begitu pula respons PSM ketika kehilangan bola, keberanian menekan lawan, serta kemampuan pemain menjaga struktur permainan ketika menghadapi tekanan.
Aspek-aspek tersebut relevan dengan gambaran yang disampaikan Klok mengenai gaya Kalezic: bermain dengan bola dan agresif tanpa bola.
Jika karakter itu mulai terlihat, PSM setidaknya memiliki fondasi awal untuk membangun identitas yang diinginkan pelatihnya. Sebaliknya, jika permainan masih belum stabil, hal itu juga tidak otomatis berarti proyek tersebut gagal karena musim baru saja dimulai.
Justru di sinilah tantangan terbesar Kalezic. Ia harus membuat identitas yang selama ini ia bicarakan menjadi sesuatu yang terlihat dalam permainan, bukan hanya terdengar dalam konferensi pers.
Persib sebagai lawan pertama memberikan konteks yang kuat. Sang juara bertahan akan menguji seberapa cepat PSM mampu menerjemahkan konsep permainan baru ketika menghadapi tim dengan kualitas dan pengalaman kompetitif tinggi.
Kalezic dan Proyek Mengembalikan PSM
Kembalinya Darije Kalezic ke PSM membawa hubungan yang kuat dengan masa lalu. Ia pernah merasakan keberhasilan bersama klub, mengenal kultur sepak bola Makassar, dan memahami hubungan emosional antara PSM dengan suporternya.
Namun, musim 2026/2027 menuntut sesuatu yang berbeda. Kalezic harus membangun ulang tim dengan komposisi pemain yang berubah dan membawa PSM keluar dari situasi sulit musim sebelumnya.
Karena itu, identitas menjadi kata kunci dalam proyeknya. Ia ingin PSM kembali memiliki karakter yang jelas, menghidupkan semangat “Ewako”, serta memainkan sepak bola yang agresif dan memiliki gagasan.
Pertandingan melawan Persib menjadi ujian pertama untuk proses tersebut. Bukan karena hasilnya akan menentukan seluruh perjalanan musim, tetapi karena laga itu memberi kesempatan pertama kepada PSM untuk menunjukkan bentuk awal identitas yang sedang dibangun Kalezic.
Di hadapan juara bertahan, PSM akan memulai perjalanan baru. Darije Kalezic tidak sekadar membawa tim untuk mengejar hasil, tetapi juga berusaha membuat permainan PSM kembali memiliki ciri yang dapat dikenali.
Itulah pekerjaan yang sesungguhnya dimulai di Bandung: bukan membuktikan bahwa PSM sudah selesai dibangun, melainkan menunjukkan bahwa proses membangun identitas baru telah benar-benar dimulai. (sal/IN)














