INSPIRASINUSANTARA.ID — Indonesia mulai membangun infrastruktur baru untuk perdagangan mineral dan komoditas strategis melalui Indonesia Commodity Exchange (IComEx). Bursa tersebut berada dalam kerangka Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) yang pengaturan dan pengawasannya menjadi kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kehadiran bursa ini membawa persoalan yang lebih besar daripada sekadar tempat jual beli komoditas. Pemerintah ingin membangun mekanisme pembentukan harga yang lebih transparan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menentukan harga komoditas yang dihasilkan di dalam negeri.
Pertanyaannya kemudian: bisakah mekanisme tersebut membantu menahan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar eceran?
Jawabannya perlu melihat cara kerja bursa terlebih dahulu. IComEx tidak berfungsi seperti pemerintah yang menetapkan harga eceran beras, minyak goreng, gula, telur, atau cabai. Perannya berada pada pembentukan harga acuan, transparansi transaksi, dan penguatan integritas pasar.
Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis OJK Sarjito menjelaskan bahwa salah satu mandat utama BMKS ialah membentuk harga acuan Indonesia untuk mineral dan komoditas strategis dikutip dari, OJK Portal
Ia menilai Indonesia memiliki posisi sebagai produsen besar berbagai komoditas. Karena itu, Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk memengaruhi pembentukan harga.
“Pada awalnya, kita tidak lagi menjadi price takers, tetapi menjadi price influencers,” kata Sarjito. Ia juga menargetkan bursa Indonesia pada akhirnya mampu menjadi acuan harga atau price maker dalam pernyataannya di Institute OJK.
Mengapa Harga Acuan Penting?
Harga komoditas tidak selalu terbentuk di negara tempat komoditas tersebut diproduksi. Dalam perdagangan global, harga dapat mengikuti pusat perdagangan atau referensi internasional.
Kondisi tersebut membuat produsen dalam negeri memiliki posisi tertentu dalam rantai harga. Indonesia bisa menjadi produsen besar, tetapi belum tentu menjadi pihak yang menentukan harga.
IComEx mencoba mengubah posisi tersebut melalui mekanisme perdagangan yang lebih terorganisasi.
OJK menjelaskan BMKS sebagai sistem pasar yang terorganisasi dan terintegrasi. Sistem itu mencakup perdagangan mineral dan komoditas strategis beserta derivatifnya, termasuk mekanisme harga, penyelesaian transaksi, dan manajemen risiko jelasnya dalam Institute OJK
Dengan mekanisme seperti itu, transaksi tidak hanya menghasilkan perpindahan barang atau kontrak. Transaksi juga menghasilkan informasi harga.
Informasi tersebut penting bagi pasar.
Ketika pembeli dan penjual memiliki referensi harga yang lebih terbuka, ruang untuk menentukan harga secara sepihak dapat berkurang. Pelaku usaha juga memiliki dasar yang lebih jelas saat menyusun transaksi.
Di Mana Posisi Spekulan?
Spekulan bukan berarti otomatis pelaku yang melanggar hukum. Aktivitas perdagangan berjangka memang memiliki unsur risiko dan ekspektasi terhadap perubahan harga.
Persoalannya muncul ketika pembentukan harga berlangsung tidak transparan atau ada pihak yang memanfaatkan ketidakseimbangan informasi untuk mengganggu integritas pasar.
Karena itu, keberadaan bursa tidak berarti seluruh spekulasi akan hilang. Yang lebih penting ialah bagaimana bursa menciptakan mekanisme yang transparan dan memiliki pengawasan.
OJK secara khusus menyebut pembentukan BMKS diharapkan memperkuat tata kelola perdagangan dan membangun pembentukan harga yang lebih transparan. OJK juga mengaitkan pembentukan bursa dengan upaya mengurangi praktik transfer pricing dan under-invoicing. OJK Portal
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai pembentukan bursa memiliki ekspektasi besar dari negara. Ia mengatakan BMKS diharapkan dapat menjawab persoalan praktik transfer pricing dan under-invoicing yang merugikan Indonesia.
“Harapan negara sangat besar akan suksesnya bursa mineral dan komoditas strategis ini,” ujar Friderica jelasnya dalam OJK Portal
Pernyataan tersebut menunjukkan fokus utama bursa. OJK ingin membangun tata kelola perdagangan yang lebih terbuka, bukan sekadar menciptakan tempat baru untuk transaksi.
Bagaimana Hubungannya dengan Harga Sembako?
Di sinilah hubungan antara bursa komoditas dan harga sembako perlu dibaca secara hati-hati.
IComEx tidak secara langsung menentukan harga eceran beras atau cabai. Bursa juga tidak otomatis membuat harga bahan pokok turun setelah transaksi dimulai.
Namun, mekanisme harga acuan dapat memberi pengaruh melalui rantai perdagangan.
Harga yang transparan dapat membantu pelaku usaha mengetahui kondisi pasar. Data transaksi dapat menjadi referensi bagi produsen, pedagang, pemerintah, dan pihak lain yang berkepentingan.
Jika komoditas strategis yang berkaitan dengan rantai pangan masuk ke dalam mekanisme perdagangan dan memiliki pasar yang aktif, harga acuan dapat menjadi salah satu referensi dalam mengambil keputusan.
Tetapi tetap ada jarak antara harga komoditas di bursa dan harga di pasar eceran.
Harga yang dibayar konsumen dipengaruhi banyak tahapan. Produsen, pengolah, distributor, biaya logistik, pedagang, dan kondisi permintaan ikut membentuk harga akhir.
Karena itu, bursa lebih tepat dipahami sebagai infrastruktur pembentukan harga, bukan alat penetapan harga sembako.
Transparansi Menjadi Kunci
Manfaat terbesar IComEx berada pada informasi.
Dalam pasar yang transparan, pelaku dapat melihat harga yang terbentuk melalui transaksi. Informasi tersebut membantu mengurangi ketergantungan pada harga yang hanya berasal dari satu pihak.
OJK menempatkan transparansi dan integritas sebagai bagian penting dari penyelenggaraan BMKS. Lembaga tersebut menyiapkan kerangka pengaturan dan pengawasan agar perdagangan berjalan teratur dan memiliki manajemen risiko yang memadai. OJK Portal
Friderica mengatakan OJK perlu menyiapkan pengaturan sejak awal. Menurut dia, persiapan mencakup peraturan OJK, pengawasan, dan pengembangan ekosistem.
“Tentunya kita perlu mempersiapkan sejak awal, mulai dari POJK, pengaturan, hingga pengawasan,” ujar Friderica. OJK Portal
Pesan tersebut penting karena bursa tidak akan efektif hanya dengan membangun sistem transaksi. Pasar membutuhkan aturan dan pengawasan agar pelaku memiliki kepercayaan.
Bursa Tidak Bisa Sendirian Menahan Harga
Jika tujuan akhirnya berkaitan dengan stabilitas harga komoditas, IComEx harus bekerja bersama kebijakan lain.
Bursa dapat menghasilkan informasi harga. Namun, pemerintah tetap membutuhkan kebijakan produksi, distribusi, perdagangan, dan pengawasan pasar.
Untuk komoditas pangan, misalnya, harga eceran dapat naik karena pasokan berkurang. Harga juga dapat bergerak karena biaya distribusi atau perubahan permintaan.
Dalam kondisi seperti itu, harga acuan tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Karena itu, efektivitas bursa bergantung pada keterhubungan informasi yang dihasilkan dengan kebijakan pemerintah dan aktivitas pelaku pasar.
Semakin banyak pelaku menggunakan harga acuan, semakin besar pula kemungkinan harga tersebut menjadi referensi perdagangan.
Sebaliknya, jika volume transaksi rendah dan hanya sedikit pelaku yang aktif, kemampuan bursa membentuk harga yang representatif akan terbatas.
Kedalaman Pasar Menentukan Kekuatan Harga Acuan
Sebuah bursa membutuhkan aktivitas transaksi. Harga yang terbentuk harus mencerminkan pertemuan banyak kepentingan agar dapat menjadi referensi yang dipercaya.
Karena itu, IComEx membutuhkan pelaku pasar yang cukup banyak. Penjual, pembeli, produsen, pedagang, dan pelaku industri perlu memiliki alasan untuk menggunakan mekanisme bursa.
OJK sendiri menyatakan akan terus berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk mendukung pembentukan dan pengembangan BMKS. Institute OJK
Langkah tersebut penting karena tantangan IComEx bukan hanya membangun aturan. Bursa juga harus membangun ekosistem.
Jika ekosistem tumbuh, transaksi bertambah. Jika transaksi bertambah, data harga semakin kaya. Pada akhirnya, harga acuan dapat menjadi semakin representatif.
Rantai tersebut menjadi dasar agar bursa memiliki pengaruh terhadap perdagangan komoditas strategis.
Indonesia Ingin Berubah dari Price Taker
Selama ini, salah satu persoalan yang ingin pemerintah atasi adalah posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas.
Sarjito mengatakan Indonesia sebagai produsen besar harus memiliki kemampuan lebih kuat untuk menentukan atau memengaruhi harga komoditasnya.
“Pada akhirnya, kita harus mampu dan percaya diri menjadi price maker,” tegas Sarjito. Institute OJK
Pernyataan itu menunjukkan sasaran jangka panjang BMKS.
Jika Indonesia mampu membangun harga acuan sendiri, produsen dalam negeri tidak hanya mengikuti harga yang terbentuk di luar negeri. Indonesia juga memiliki referensi yang lahir dari aktivitas pasar domestik.
Bagi perekonomian nasional, perubahan posisi tersebut dapat memberi manfaat yang lebih luas. Namun, prosesnya membutuhkan waktu dan partisipasi pasar.
Karena itu, keberhasilan IComEx tidak bisa dinilai hanya dari peluncuran bursa. Kualitas transaksi dan tingkat penggunaannya menjadi ukuran yang lebih penting.
Ujian Berikutnya: Apakah Pasar Mau Menggunakannya?
Bursa yang memiliki aturan lengkap belum tentu langsung menjadi pusat perdagangan. Pelaku pasar harus melihat manfaat nyata sebelum menggunakannya secara aktif.
Mereka membutuhkan harga yang kredibel, transaksi yang efisien, mekanisme penyelesaian yang jelas, dan pengawasan yang kuat.
OJK sudah mulai membangun fondasi tersebut. Pada September 2026, OJK memperkuat struktur pengaturan dan pengawasan BMKS, termasuk melalui pengisian posisi Kepala Eksekutif dan Deputi Komisioner yang menangani bidang tersebut. OJK Portal
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan bursa berlangsung secara kelembagaan, bukan hanya melalui peluncuran platform perdagangan.
Sarjito sendiri mendapat mandat untuk menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan BMKS. Mandat tersebut mencakup pembentukan harga acuan mineral dan komoditas strategis. OJK Portal
Apakah Sembako Bisa Lebih Terkendali?
IComEx memiliki potensi membantu menciptakan pasar komoditas yang lebih transparan. Namun, hubungan dengan harga sembako berlangsung secara tidak langsung.
Jika harga acuan semakin kredibel, informasi pasar semakin terbuka. Jika informasi semakin terbuka, pelaku pasar memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan harga transaksi.
Kondisi itu dapat mempersempit ruang bagi pembentukan harga yang tidak transparan.
Namun, pasar eceran tetap membutuhkan kebijakan lain. Pemerintah harus memastikan pasokan, distribusi, dan pengawasan berjalan dengan baik.
Karena itu, masyarakat tidak bisa berharap harga beras, minyak goreng, gula, atau kebutuhan pokok lainnya otomatis turun setelah IComEx hadir.
Yang lebih tepat, bursa membangun fondasi informasi harga.
Dari fondasi tersebut, pemerintah dapat membaca pasar dengan lebih baik. Pelaku usaha juga memiliki referensi yang lebih jelas. Pada saat yang sama, pengawasan dapat menggunakan data transaksi sebagai salah satu bahan untuk mendeteksi ketidakwajaran.
Jika seluruh unsur itu berjalan bersama, ruang spekulasi yang memanfaatkan ketertutupan informasi dapat semakin sempit.
Dari Bursa ke Meja Makan
Pada akhirnya, pertanyaan tentang IComEx akan kembali kepada masyarakat: apakah perubahan di pasar komoditas strategis dapat terasa sampai ke harga kebutuhan sehari-hari?
Jawabannya bergantung pada seberapa kuat hubungan antara bursa dan pasar riil.
Bursa membutuhkan transaksi yang aktif. Harga membutuhkan pelaku yang banyak. Data membutuhkan transparansi. Semua itu membutuhkan pengawasan yang konsisten.
OJK telah menempatkan pembentukan harga acuan, transparansi, integritas pasar, dan pengelolaan risiko sebagai bagian dari kerangka BMKS. OJK Portal
Karena itu, IComEx bukan alat untuk mematok harga sembako. Bursa berfungsi membangun mekanisme agar harga komoditas terbentuk secara lebih terukur dan transparan.
Jika mekanisme itu berhasil, manfaatnya dapat bergerak melalui rantai perdagangan. Produsen memperoleh referensi. Pedagang mendapat informasi. Pemerintah memiliki data. Konsumen pada akhirnya berpotensi memperoleh pasar yang lebih transparan.
Namun, semua itu tetap bergantung pada satu hal: apakah bursa benar-benar digunakan dan mampu menghasilkan harga acuan yang dipercaya pasar.
Jadi, cara menahan kenaikan harga sembako melalui bursa bukan dengan menetapkan harga eceran. Jalurnya lebih panjang: perdagangan yang transparan, harga acuan yang kredibel, informasi pasar yang lebih terbuka, pengawasan yang lebih kuat, ruang manipulasi harga yang semakin sempit.
Di situlah IComEx akan diuji. Bukan hanya apakah bursa berhasil dibuka, tetapi apakah mekanismenya mampu bekerja di pasar dan akhirnya memberi manfaat nyata bagi perekonomian. (sal/IN)














