Banner Pajak

Krisis Iklim Guncang Produksi Susu, Pangan Terancam Langka 

krisis iklim
ILUSTRASI. Krisis iklim kini menjalar hingga ke sektor pangan yang paling tak terduga: produksi susu. (foto:ist)

Inspirasinusantara.id – Krisis iklim kini menjalar hingga ke sektor pangan yang paling tak terduga: produksi susu.

Krisis iklim yang mendorong semakin seringnya cuaca ekstrem, khususnya gelombang panas, kini terbukti berdampak langsung terhadap produktivitas pangan berbagai penjuru dunia.

Laporan State of the Climate in Asia 2023 menyoroti percepatan berbagai indikator utama Krisis iklim—mulai dari kenaikan suhu permukaan, mencairnya gletser, hingga peningkatan tinggi muka air laut. Kondisi ini diperkirakan akan membawa dampak besar terhadap masyarakat, ekonomi, dan ekosistem, khususnya di kawasan Asia.

Penelitian terpisah yang melibatkan data lebih dari 130.000 ekor sapi selama periode 12 tahun menunjukkan bahwa suhu ekstrem dapat menurunkan produksi susu harian hingga 10 persen. Bahkan, hanya satu jam terpapar suhu bola basah—ukuran yang menggabungkan suhu udara dan kelembapan—di atas 26°C saja, sudah cukup untuk memangkas produksi susu sebanyak 0,5 persen per hari.

Lebih mengkhawatirkan, dampaknya tidak berhenti di situ. Produksi susu tetap menurun hingga sepuluh hari setelah terjadinya gelombang panas pertama, mengindikasikan bahwa tekanan panas akibat krisis iklim meninggalkan efek jangka panjang pada kesehatan dan performa sapi.

Situasi ini menjadi sinyal bahaya bagi sektor pangan dan peternakan global. Ironisnya, industri susu yang kini menjadi korban krisis iklim, turut berkontribusi terhadap masalah tersebut—dengan emisi metana dari ternak yang mempercepat pemanasan global

Prediksi 2050: Produksi Susu Global Bisa Anjlok 4%

Dengan menggunakan simulasi iklim tahun 2050, para peneliti dari Universitas Yerusalem, Tel Aviv, dan Chicago memprediksi bahwa produksi susu global akan mengalami penurunan rata-rata sebesar 4 persen. Dampaknya akan sangat terasa di Asia Selatan, wilayah yang diperkirakan menjadi pusat pertumbuhan industri susu dunia dalam dekade mendatang.

Baca juga : Jejak Karbon Tersembunyi di Balik Paket Belanja Online 

Sebanyak 150 juta rumah tangga yang bergantung pada sapi perah diprediksi akan terkena imbas paling parah, terutama karena wilayah mereka akan semakin rentan terhadap suhu tinggi akibat emisi bahan bakar fosil. Ironisnya, sapi juga menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar, yaitu sekitar sepertiga dari total metana buatan manusia.

Adaptasi Petani Belum Cukup Tangguh Lawan Gelombang Panas

Para peternak menggunakan teknologi seperti alat penyemprot, ventilasi, dan tempat berteduh untuk mengurangi stres panas pada sapi. Namun, studi menunjukkan bahwa ketika suhu harian melampaui 24°C, metode tersebut hanya mampu menekan sekitar 40 persen dampak panas terhadap produksi susu.

Claire Palandri, penulis utama studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, menekankan pentingnya pendekatan lebih menyeluruh. Ia mengimbau agar strategi adaptasi juga menyasar pengurangan stres akibat sistem kurungan dan pemisahan induk-anak sapi, yang membuat sapi semakin rentan terhadap suhu panas ekstrem.

Krisis iklim kini tak lagi sekadar isu lingkungan, tapi telah menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan global. Jika tren pemanasan terus dibiarkan, produksi susu—salah satu sumber nutrisi penting dunia—berisiko menjadi langka dan mahal. (*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *