INSPIRASINUSANTARA-Tradisi membangunkan sahur masih bertahan di sejumlah daerah di Indonesia meski masyarakat kini semakin mengandalkan alarm ponsel dan aplikasi penanda waktu salat. Selama bulan Ramadan, sejumlah komunitas tetap berkeliling lingkungan pada dini hari untuk mengingatkan warga agar tidak melewatkan waktu makan sebelum berpuasa.
Kegiatan tersebut biasanya dilakukan oleh kelompok pemuda di kawasan permukiman. Mereka menyusuri gang dan jalan kampung sambil memukul kentongan, bedug, atau alat musik sederhana sebagai tanda bahwa waktu sahur sudah mendekat.
Salah seorang pemuda yang terlibat dalam kegiatan itu mengatakan tradisi membangunkan sahur masih dipertahankan karena memiliki nilai kebersamaan yang kuat di lingkungan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi ruang interaksi bagi generasi muda selama Ramadan.
“Kami biasanya mulai berkeliling sekitar pukul dua dini hari. Selain membangunkan sahur, kegiatan ini juga membuat pemuda di kampung bisa berkumpul dan menjaga tradisi yang sudah ada sejak lama,” kata farhan
Ia menambahkan, meskipun banyak warga kini menggunakan alarm digital untuk mengetahui waktu sahur, tradisi membangunkan sahur secara langsung tetap memiliki makna sosial. Menurutnya, suara kentongan atau alat musik yang dimainkan bersama menjadi penanda khas yang sudah dikenal masyarakat.
Pengamat budaya lokal menilai tradisi bangunkan sahur tetap bertahan karena fungsinya tidak hanya sebagai pengingat waktu makan sebelum berpuasa, tetapi juga sebagai sarana menjaga hubungan sosial di lingkungan permukiman.
“Tradisi ini bukan sekadar membangunkan sahur. Kegiatan tersebut juga mempertemukan warga dan menjaga interaksi sosial selama Ramadan,” katanya.
Di beberapa daerah, tradisi membangunkan sahur bahkan berkembang dengan cara yang lebih kreatif. Selain menggunakan kentongan, sejumlah kelompok pemuda memanfaatkan alat musik sederhana atau membuat irama tertentu agar suara yang dihasilkan lebih mudah dikenali masyarakat.
Meski teknologi semakin memudahkan masyarakat mengetahui waktu sahur, tradisi membangunkan sahur tetap dipertahankan oleh banyak komunitas. Bagi sebagian warga, kebiasaan tersebut menjadi bagian dari dinamika sosial Ramadan yang menunjukkan bagaimana budaya lokal tetap hidup di tengah perkembangan teknologi.(jmi/IN)











