Penulis: Selvi
Masyarakat di Dusun Bagean, Desa Lembang, Kabupaten Enrekang punya cara sendiri untuk menyelesaikan panen jagung dengan cepat dan ringan. Pemilik lahan biasanya berangkat lebih awal ke kebun pada pagi hari untuk menyiapkan tenda dan keperluan lainnya sebelum bantuan datang. Langkah awal ini penting dilakukan agar saat para warga tiba, tempat untuk berteduh dan mengumpulkan hasil panen sudah siap tersedia. Warga yang datang membantu biasanya terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak muda yang bersedia menggantikan peran orang tua mereka.
Setiap keluarga minimal mengirim satu atau dua orang perwakilan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang sedang panen. Kebiasaan ini sudah lama berjalan di Dusun Bagean karena masyarakat di sana memegang prinsip saling membantu secara bergantian. Alasan utama kegiatan ini terus dilakukan adalah untuk meringankan beban kerja pemilik kebun sekaligus menjaga tali silaturahmi antarwarga. Dengan bekerja bersama-sama, lahan jagung yang luas bisa diselesaikan dalam waktu satu hari saja daripada dikerjakan sendiri selama berhari-hari.
Selain itu, cara ini menjadi ajang berkumpul bagi warga yang mungkin jarang bertemu karena kesibukan masing-masing di kebun sendiri. Proses kerjanya dimulai dengan memetik jagung di dahan, lalu dikumpulkan di bawah tenda besar yang sudah disiapkan sejak pagi. Saat istirahat pertama, pemilik kebun akan menyajikan minuman dingin, teh, kopi, serta cemilan ringan seperti biskuit agar para pekerja bisa memulihkan tenaga. Setelah itu, barulah masuk ke sesi makan siang bersama dengan menu makanan berat yang sudah dibawa pemilik kebun dari rumah mereka. Suasana di bawah tenda saat makan siang selalu ramai dengan obrolan santai dan senda gurau antar warga.
Setelah kenyang, mereka tidak langsung pulang melainkan lanjut bekerja mengupas kulit jagung yang sudah terkumpul tadi. Sambil duduk melingkar dan bercerita, tangan mereka dengan cekatan memisahkan tongkol jagung dari kulitnya sampai tumpukan jagung tersebut habis. Pekerjaan ini memang sengaja dipacu sejak pagi agar seluruh rangkaian panen bisa selesai tepat saat sore hari tiba. Efisiensi waktu menjadi kunci utama dalam kegiatan ini, sehingga pemilik kebun tidak perlu khawatir hasil panennya terbengkalai. Pola kerja kolektif seperti ini membuktikan bahwa pekerjaan berat menjadi jauh lebih mudah jika dilakukan dengan tangan banyak orang secara serentak Sebagai penutup sebelum pulang, pemilik kebun memberikan beberapa tongkol jagung kepada setiap orang yang sudah membantu sebagai tanda terima kasih.
Menariknya, orang-orang yang membantu tadi dipersilakan memilih sendiri jagung mana yang ingin mereka bawa pulang ke rumah. Hal kecil ini menjadi simbol penghargaan yang menutup hari panen dengan perasaan senang dan persaudaraan yang semakin erat. Pak suardi salah satu warga yang pernah merasakan efek dari kegiatan tersebut mengungkapkan rasa syukurnya, ”kebiasaan ini sangat membantu bagi saya, kebersamaan membuat pekerjaan berat terasa ringan, namun yang utama adalah terjaganya silaturahmi antarwarga”.