JAKARTA,inspirasinusantara.id — Penggunaan rokok elektronik atau vape di kalangan remaja menjadi perhatian serius dalam isu kesehatan masyarakat. Tren yang terus meningkat ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang, terutama pada perkembangan otak dan kesehatan sistem pernapasan.
Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, menyebut remaja merupakan kelompok paling rentan terhadap paparan nikotin dari vape.
Menurutnya, otak remaja masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih sensitif terhadap zat adiktif seperti nikotin. Paparan zat ini dapat mengganggu fungsi penting seperti konsentrasi, proses belajar, hingga pengendalian emosi.
Selain itu, penggunaan vape juga meningkatkan risiko ketergantungan nikotin. Kondisi ini dapat berlanjut hingga dewasa dan menjadi masalah kesehatan yang berkepanjangan.
Dari sisi pernapasan, vape menghasilkan aerosol yang mengandung partikel halus serta berbagai zat kimia. Zat tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru dan memicu gangguan kesehatan, mulai dari iritasi hingga penyakit serius.
Paparan vape juga dikaitkan dengan sejumlah penyakit pernapasan seperti asma, pneumonia, hingga EVALI, yaitu cedera paru akut yang dapat menyebabkan gangguan serius dan memerlukan penanganan medis intensif.
Fenomena meningkatnya penggunaan vape di kalangan remaja dinilai menjadi sinyal penting bagi upaya pencegahan kesehatan. Edukasi mengenai risiko penggunaan serta pengawasan yang lebih ketat diperlukan untuk menekan dampak negatif pada generasi muda.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, penggunaan vape tidak hanya menjadi isu gaya hidup, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan terhadap perkembangan fisik dan mental remaja di masa depan.(wdy/IN)













