JAKARTA,inspirasinusantara.id — Tubuh manusia secara alami kehilangan cairan sepanjang waktu, bahkan saat tidak melakukan aktivitas berat. Proses seperti pernapasan, keringat, dan metabolisme membuat cairan terus keluar secara bertahap, termasuk ketika seseorang sedang beristirahat atau tidur.
Dalam kondisi tersebut, kebutuhan cairan sebenarnya sudah muncul sebelum tubuh memberikan sinyal berupa rasa haus. Namun, banyak orang masih menjadikan rasa haus sebagai indikator utama untuk mulai minum air putih.
Dokter spesialis penyakit dalam, Cynthia Natalia, menjelaskan bahwa rasa haus bukan merupakan tanda awal tubuh membutuhkan cairan. Menurutnya, kekurangan cairan dapat berdampak pada kinerja tubuh secara menyeluruh, tidak hanya ditandai oleh rasa haus.
Pada fase awal, tubuh masih mampu beradaptasi ketika tidak mendapatkan asupan cairan. Namun, kadar cairan mulai menurun secara perlahan, yang ditandai dengan berkurangnya produksi air liur serta munculnya sensasi mulut kering.
Penurunan cairan ini juga mulai memengaruhi fungsi tubuh lainnya, seperti konsentrasi dan fokus, terutama saat beraktivitas atau berada di ruangan berpendingin udara. Jika berlangsung lebih lama, dehidrasi ringan dapat memicu sakit kepala, kelelahan, hingga kesulitan berpikir jernih.
Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang minum air putih berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti batu ginjal akibat penumpukan mineral yang tidak terlarut dengan baik dalam tubuh.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rasa haus merupakan sinyal lanjutan, bukan tanda awal kebutuhan cairan. Oleh karena itu, pemenuhan cairan secara teratur menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan tubuh serta mencegah dehidrasi sejak dini.(jmi/IN)













