JAKARTA,inspirasinusantara.id — Buah dan sayur yang telah dipotong memang praktis untuk langsung dikonsumsi, tetapi juga lebih cepat rusak jika tidak disimpan dengan tepat. Kondisi ini membuat banyak bahan makanan terbuang lebih cepat, sehingga berkontribusi pada peningkatan limbah pangan rumah tangga.
Ahli keamanan pangan dari United States Department of Agriculture, Meredith Carothers, menjelaskan bahwa buah dan sayur potong lebih rentan terpapar bakteri karena permukaannya terbuka. Oleh karena itu, penyimpanan pada suhu dingin menjadi langkah penting untuk memperlambat pertumbuhan mikroorganisme.
Sejumlah panduan menunjukkan bahwa teknik penyimpanan yang tepat tidak hanya menjaga kualitas bahan, tetapi juga membantu mengurangi limbah makanan serta mempermudah penyiapan konsumsi harian.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesegaran buah dan sayur potong antara lain:
1. Rendam sayuran keras dalam air dingin
Sayuran seperti wortel, kentang, dan seledri dapat direndam dalam air dingin untuk menjaga tekstur tetap renyah. Air perlu diganti secara berkala agar tetap higienis.
2. Gunakan asam alami untuk buah
Buah seperti apel, pir, dan alpukat mudah berubah warna akibat proses oksidasi. Penambahan air lemon atau jeruk nipis dapat memperlambat proses tersebut.
3. Kendalikan kelembapan dalam wadah
Kelembapan berlebih mempercepat pembusukan. Menambahkan tisu dapur dalam wadah tertutup dapat menyerap cairan berlebih dan menjaga kondisi tetap stabil.
4. Simpan di freezer untuk jangka panjang
Buah dan sayur tertentu seperti beri, jagung, dan kacang polong dapat dibekukan untuk memperpanjang masa simpan tanpa kehilangan fungsi saat diolah.
5. Pisahkan buah dan sayur
Beberapa buah menghasilkan gas etilen yang dapat mempercepat pematangan bahan lain. Penyimpanan terpisah membantu menjaga kesegaran masing-masing.
6. Olah sebelum benar-benar rusak
Buah dan sayur yang mulai menurun kualitasnya masih bisa dimanfaatkan, misalnya diolah menjadi masakan atau campuran makanan lain.
Secara keseluruhan, penyimpanan yang tepat menjadi kunci untuk menjaga kualitas bahan pangan sekaligus mengurangi pemborosan. Kebiasaan sederhana ini tidak hanya berdampak pada efisiensi rumah tangga, tetapi juga berkontribusi pada pengelolaan pangan yang lebih berkelanjutan.(hns/IN)














