Banner Pajak

RSUD Daya Percepat Pemulangan Pasien Terlantar

Pasien terlantar yang telah dinyatakan sembuh secara medis kerap tertahan di rumah sakit karena persoalan identitas dan administrasi. Kondisi ini tidak hanya memperlambat pemulangan pasien, tetapi juga berdampak pada kapasitas layanan dan pembiayaan fasilitas kesehatan.(foto:ist)

Pasien terlantar yang telah dinyatakan sembuh secara medis kerap tertahan di rumah sakit karena persoalan identitas dan administrasi. Kondisi ini tidak hanya memperlambat pemulangan pasien, tetapi juga berdampak pada kapasitas layanan dan pembiayaan fasilitas kesehatan. Di Makassar, persoalan tersebut mendorong RSUD Daya menghadirkan inovasi pelayanan berbasis kolaborasi lintas sektor.

Rumah sakit milik Pemerintah Kota Makassar itu meluncurkan program GELIAT (Gerakan Empati Layanan Integrasi Aktif Terpadu) sebagai solusi percepatan penanganan hingga pemulangan pasien terlantar. Direktur RSUD Daya Makassar, A. Any Muliany, mengatakan inovasi ini menjawab kendala yang selama ini dihadapi rumah sakit, terutama ketika pasien tidak memiliki identitas atau keluarga yang dapat dihubungi.

“Selama ini setiap ada warga terlantar ditemukan di jalan tanpa identitas, hampir pasti dibawa ke RSUD Daya untuk mendapatkan pelayanan medis. Kendalanya muncul ketika pasien sudah dinyatakan sembuh tetapi belum diketahui harus dipulangkan ke mana,” ujarnya.

Sebelumnya, proses pemulangan pasien dapat memakan waktu berhari-hari karena harus menunggu penelusuran identitas melalui Dinas Sosial. Selama periode tersebut, pasien tetap menempati ruang perawatan meskipun telah diizinkan pulang oleh dokter. Kondisi ini berdampak pada efisiensi layanan, karena tempat tidur tidak dapat segera digunakan oleh pasien lain.

Melalui GELIAT, RSUD Daya membangun sistem koordinasi dengan Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), hingga pemerintah kecamatan dan kelurahan. Identifikasi pasien dilakukan melalui verifikasi biometrik sehingga proses pencarian data menjadi lebih cepat dan akurat. Dalam salah satu kasus, pasien yang hanya mengingat kawasan tempat tinggalnya dapat segera dipulangkan setelah identitasnya ditemukan melalui sistem tersebut.

“Begitu diketahui alamatnya, pasien langsung diantar pulang. Tidak perlu lagi menunggu lama,” kata dr. Any. Ia menambahkan, pemulangan yang cepat juga penting untuk mencegah pasien kembali terlantar dan berisiko mengalami kondisi kesehatan yang sama.

Dari sisi kebijakan layanan, inovasi ini juga berkaitan dengan efisiensi pembiayaan. Setelah pasien dinyatakan sembuh, rumah sakit tidak lagi dapat mengklaim biaya melalui skema Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Jika pasien masih tertahan, seluruh biaya operasional menjadi beban rumah sakit. Dengan percepatan pemulangan, beban tersebut dapat ditekan sekaligus meningkatkan ketersediaan tempat tidur.

Selain inovasi layanan, RSUD Daya juga memperkuat fasilitas kesehatan. Rumah sakit tipe B ini memiliki kapasitas 270 tempat tidur serta layanan penunjang seperti radiologi (USG, X-Ray, CT Scan) dan laboratorium. Ke depan, rumah sakit juga menyiapkan layanan Cathlab untuk penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah, yang saat ini masih dalam proses kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

RSUD Daya menegaskan pelayanan diberikan tanpa membedakan jenis pembiayaan pasien. Baik pasien umum maupun peserta BPJS mendapatkan standar layanan medis yang sama, dengan perbedaan hanya pada kelas kamar rawat inap. Rumah sakit juga tetap menerima pasien tanpa identitas, termasuk dari luar daerah, selama membutuhkan pertolongan medis.

Implementasi GELIAT saat ini masih didukung koordinasi melalui grup komunikasi, namun ke depan akan dikembangkan sistem berbasis web untuk mempercepat pelaporan dan pemantauan lintas instansi. “Ke depan seluruh proses koordinasi akan dilakukan melalui aplikasi berbasis web sehingga lebih cepat dan lebih mudah dipantau,” ujar dr. Any.

Langkah ini menunjukkan bahwa tantangan layanan kesehatan tidak hanya pada aspek medis, tetapi juga pada integrasi data dan koordinasi antarinstansi. Ke depan, keberhasilan inovasi seperti GELIAT akan ditentukan oleh konsistensi kolaborasi serta kemampuan sistem dalam memastikan setiap pasien tidak hanya sembuh secara medis, tetapi juga kembali ke lingkungan sosial yang mendukung pemulihan.(*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *