MAKASSAR,inspirasinusantara.id — Event Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 berhasil mencatat prestasi gemilang dalam pengelolaan lingkungan selama acara berlangsung di Makassar. Panitia pelaksana melaporkan bahwa volume sampah dari hari pertama hingga malam terakhir menyusut drastis hampir 50 persen dibandingkan total sampah pada MIWF 2025. Keberhasilan ini dipicu oleh penerapan konsep ramah lingkungan yang ketat dan terintegrasi di seluruh area festival.
Salah satu inovasi utama yang menjadi sorotan adalah kewajiban bagi para penjual kuliner untuk menggunakan wadah makanan dari ampas tebu. Kemasan berbahan organik ini dipilih karena memiliki keunggulan signifikan, yakni dapat dikonsumsi sepenuhnya oleh maggot. Langkah strategis tersebut terbukti efektif dalam mencegah penumpukan sampah kemasan yang biasanya membanjiri Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Dalam menyukseskan sirkulasi limbah ini, pihak panitia bekerja sama dengan Green Collaborator Cycle Value. Wadah berbasis ekosistem ini menjadi titik akhir pengolahan seluruh sampah organik yang dihasilkan selama pameran untuk diubah menjadi pakan maggot. Melalui sistem tersebut, limbah makanan tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan bagian dari rantai ekologi yang produktif.
Tidak hanya mengatur pelaku usaha, panitia MIWF 2026 juga menerapkan kebijakan hijau yang menyasar langsung para pengunjung. Peserta dan masyarakat yang hadir diarahkan serta diedukasi untuk membawa botol minum (tumbler) serta alat makan pribadi dari rumah. Gerakan ini terbukti mampu menekan produksi sampah plastik sekali pakai yang biasanya mendominasi festival berskala besar.
Kolaborasi aktif antara penyelenggara, pedagang, dan kesadaran pengunjung menciptakan sinergi lingkungan yang kuat. Kombinasi pembatasan plastik sejak awal dan pengolahan limbah organik yang cepat menjadi kunci utama keberhasilan ini. Pola manajemen sampah mandiri tersebut dinilai berhasil mengubah wajah festival modern menjadi lebih bersih dan berkelanjutan.
Laporan penurunan sampah hingga setengah dari tahun sebelumnya dipaparkan secara transparan pada malam penutupan acara. Capaian ini memicu apresiasi luas dari berbagai pihak yang peduli terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim.
Keberhasilan MIWF 2026 diharapkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) bagi penyelenggaraan festival besar lainnya di Indonesia. Dengan komitmen yang kuat, acara publik berskala besar terbukti tetap dapat meminimalkan dampak lingkungan. Hal ini menegaskan bahwa industri literasi kreatif dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.(wdy/IN)












