Banner Pajak

Makassar Jadi Titik Penguatan Mutu Pendidikan Nasional

MAKASSAR,inspirasinusantara.id -Meningkatkan mutu pendidikan tidak cukup hanya melalui penyediaan anggaran atau penyusunan kebijakan. Tantangan yang dihadapi satuan pendidikan juga terletak pada bagaimana setiap program diterjemahkan menjadi praktik yang berdampak di sekolah.

Dalam konteks itulah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menggelar Bimbingan Teknis Fasilitator Nasional BOSP Kinerja Terbaik Tahun 2026 di Novotel Makassar Grand Shayla, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada 7–10 Juli 2026, sebagai upaya memperkuat kapasitas fasilitator yang akan mendampingi implementasi program di sekolah-sekolah penerima BOSP Kinerja Terbaik.

Program ini berangkat dari kebutuhan untuk memastikan kebijakan peningkatan mutu tidak berhenti pada aspek administratif. BOSP Kinerja Terbaik diarahkan sebagai strategi pemerintah untuk mendorong satuan pendidikan memperbaiki layanan, meningkatkan capaian pembelajaran, dan membangun budaya mutu yang berkelanjutan.

Kepala BBPMP Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Imran, S.Kom., M.T., mengatakan pihaknya siap mendukung pelaksanaan kegiatan nasional tersebut agar berjalan produktif dan memberi manfaat bagi penguatan mutu pendidikan. Menurutnya, kehadiran fasilitator nasional menjadi penting agar sekolah memperoleh pendampingan yang tepat, kontekstual, dan berdampak dalam menjalankan program.

Penguatan kapasitas fasilitator dalam bimbingan teknis ini difokuskan pada tiga aspek utama, yakni literasi dan numerasi, Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), serta digitalisasi pendidikan.

Ketiga fokus tersebut dipilih untuk membantu sekolah meningkatkan kualitas pembelajaran dasar, membangun siklus penjaminan mutu yang berkelanjutan, sekaligus memanfaatkan teknologi dan platform digital dalam pembelajaran maupun tata kelola sekolah. Pada aspek literasi dan numerasi, fasilitator diharapkan tidak hanya mendorong kemampuan membaca secara teknis, tetapi juga menumbuhkan budaya membaca yang hidup di lingkungan sekolah. Sementara itu, penguatan SPMI diarahkan agar peningkatan mutu menjadi bagian dari budaya kerja sekolah, bukan sekadar program sesaat, sedangkan digitalisasi diposisikan sebagai cara memperluas akses, memperkaya pengalaman belajar, dan meningkatkan efektivitas pendampingan.

Direktur Sekolah Dasar, Moch. Salim Somad, S.Kom., M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa bimbingan teknis ini diikuti peserta dari BBPMP dan BPMP se-Indonesia Timur. Ia menjelaskan kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang penguatan bagi calon fasilitator nasional agar memiliki pemahaman yang utuh mengenai kebijakan BOSP Kinerja Terbaik, keterampilan fasilitasi, serta kesiapan mendampingi satuan pendidikan dalam mengimplementasikan program.

Dalam arahannya, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum dan program peningkatan mutu bergantung pada kemampuan sekolah menjaga keberlanjutan SPMI. Menurutnya, sekolah perlu memiliki visi yang sama agar budaya mutu tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan hadir dalam proses pembelajaran, tata kelola, dan layanan pendidikan sehari-hari. Ia juga menekankan bahwa arah kebijakan pendidikan kini telah bergeser dari “Pendidikan untuk Semua” menjadi “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, yang berarti perluasan akses harus diikuti dengan jaminan kualitas layanan bagi seluruh peserta didik.

Gogot juga menyoroti perubahan peran fasilitator nasional. Menurutnya, fasilitator tidak cukup hanya menyampaikan materi atau mendampingi secara administratif, tetapi harus mampu membangun kesadaran guru terhadap pentingnya perubahan. “Fasilitator nasional harus mampu create a demand,” ujarnya, yakni menumbuhkan kebutuhan dari dalam diri guru untuk memanfaatkan Platform Indonesia Digital (PID) sebagai bagian dari proses pembelajaran yang lebih efektif, menarik, dan bermakna. Ia menambahkan bahwa peserta didik juga perlu merasa sedang “on the mission”, sehingga belajar tidak sekadar menerima materi, melainkan memiliki tujuan dan tantangan yang mendorong keterlibatan aktif. Pada saat yang sama, ia mengingatkan bahwa peningkatan literasi berawal dari tumbuhnya minat baca melalui pengalaman membaca yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan murid.

Melalui bimbingan teknis yang berlangsung selama empat hari ini, peserta dipersiapkan untuk memahami kebijakan BOSP Kinerja Terbaik, strategi pendampingan, pemanfaatan PID, penguatan literasi dan numerasi, penguatan SPMI, hingga mekanisme pengimbasan kepada satuan pendidikan. Lebih jauh, fasilitator diharapkan mampu menjadi mitra sekolah dalam membaca kebutuhan, mengidentifikasi tantangan, menggali praktik baik, serta menyusun langkah perbaikan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, penguatan kapasitas fasilitator tidak hanya menjadi agenda pelatihan, tetapi bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan implementasi BOSP Kinerja Terbaik berjalan akuntabel, tepat sasaran, dan memberi dampak nyata terhadap peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.(um/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *