BONE,inspirasinusantara.id -Festival budaya sering kali berhenti sebagai agenda seremonial tanpa meninggalkan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Bone berupaya mengarahkan Gau Maraja Bone 2026 menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal dengan memperluas keterlibatan masyarakat, memperkuat manajemen pelaksanaan, dan menghadirkan rangkaian kegiatan sejak tingkat kecamatan hingga puncak festival yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) pematangan konsep Gau Maraja Bone 2026 di Aula Pertemuan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX Sulawesi Selatan, Makassar, 8 Juli 2026.
Ketua Panitia Pelaksana, Andi Murni, menegaskan Gau Maraja tidak hanya dirancang sebagai festival budaya. “Ini adalah panggung besar untuk melestarikan, merawat, dan memperkenalkan kekayaan peradaban serta nilai luhur kebudayaan Bugis Bone ke kancah yang lebih luas,” ujarnya.
Festival akan dipusatkan di enam lokasi ikonik, yakni Lapangan Merdeka, Museum La Pawawoi, Situs Tana Bangkala’e, Kawasan Lapas Tua, Bola Subbi’e, dan Mess Guru Tempo Dulu. Dalam rakor tersebut, DPP PERWIRA memaparkan rencana Seminar Internasional sebagai pilar akademik dan literasi budaya, sementara Juan Manyala dari Gelora Kultura menyampaikan rancangan estetika venue dan pertunjukan kolaboratif.
Di saat yang sama, Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, mengusulkan agar penyelenggaraan Gau Maraja melibatkan seluruh pelaku seni, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, komunitas budaya, hingga generasi muda. Ia juga mengusulkan tema “Lumbung Pangan Sepanjang Masa” sebagai identitas festival karena dinilai selaras dengan filosofi Lappo Ase sebagai simbol ketahanan pangan dan budaya agraris Bone.
Selain itu, Andi Asman menginginkan rangkaian Pra Gau Maraja digelar di seluruh 27 kecamatan sebagai ruang promosi budaya lokal sekaligus membangun antusiasme masyarakat sebelum pelaksanaan festival utama. “Saya berharap jika memungkinkan, Pra Gau Maraja dilaksanakan di setiap kecamatan. Masing-masing kecamatan dapat mengangkat potensi budaya dan kearifan lokalnya sebagai bagian dari promosi menuju festival utama. Dengan begitu, masyarakat akan lebih antusias dan memiliki rasa memiliki terhadap Gau Maraja,” katanya.
Dari sisi pelaksanaan, Sekretaris Panitia Barham Bachtiar menekankan pentingnya profesionalisme dalam penyelenggaraan festival berskala besar.
Menurutnya, setiap seksi, kurator, dan kolaborator harus bekerja dengan indikator yang jelas, disiplin waktu, serta manajemen risiko yang matang agar seluruh konsep dapat diwujudkan di lapangan. Ia juga menyampaikan arahan Bupati Bone bahwa Gau Maraja harus menghasilkan multiplier effect bagi daerah. “Petunjuk Bapak Bupati sangat jelas; event ini wajib memiliki multiplier effect. Harus mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan, melibatkan komunitas lokal secara aktif, dan memperkuat identitas budaya bagi generasi muda Bone. Atas dasar itu, kita semua harus bekerja dengan totalitas,” tegasnya.
kemudian ditutup dengan pembahasan teknis mengenai tata panggung, logistik, dan penyelarasan timeline kerja menuju penyelenggaraan Gau Maraja Bone 2026 pada September mendatang.(bil/IN)














