Banner Pajak

Jakarta Fair Cetak Transaksi Rp8,2 Triliun

Pameran besar tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi ketika mampu mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang luas. Hal itu terlihat dari penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2026 yang mencatat transaksi sebesar Rp8,2 triliun dengan jumlah pengunjung mencapai 6,1 juta orang.

JAKARTA,inspirasinusantara.id- Pameran besar tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi ketika mampu mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang luas. Hal itu terlihat dari penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2026 yang mencatat transaksi sebesar Rp8,2 triliun dengan jumlah pengunjung mencapai 6,1 juta orang. Capaian tersebut melampaui target awal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp8 triliun dan menjadi indikator tingginya perputaran ekonomi masyarakat melalui sektor perdagangan, UMKM, serta industri kreatif.

Jakarta Fair 2026 berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, selama 11 Juni hingga 12 Juli 2026. Penyelenggaraan yang melibatkan lebih dari 1.800 stan, 2.800 peserta, serta ratusan pelaku UMKM dan industri dari berbagai daerah tersebut menjadi salah satu agenda ekonomi strategis menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengatakan Jakarta Fair tidak hanya berfungsi sebagai pameran, tetapi juga menjadi gambaran interaksi berbagai sektor ekonomi di ibu kota. “JFK tidak sekadar pameran, melainkan miniatur Jakarta yang memperlihatkan bagaimana pemerintah, dunia usaha, UMKM, industri kreatif, dan masyarakat bergerak bersama menggerakkan roda perekonomian kota,” ujarnya saat penutupan Jakarta Fair di JIExpo Kemayoran, Minggu (12/7).

Menurut Rano, tingginya jumlah pengunjung menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan perdagangan berskala besar. Nilai transaksi yang mencapai Rp8,2 triliun dinilai mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap tumbuh sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar. Melalui ajang tersebut, produk lokal mendapatkan ruang promosi, sementara masyarakat memperoleh akses terhadap berbagai produk dan layanan dalam satu ekosistem perdagangan.

Selain transaksi langsung, Jakarta Fair juga memiliki fungsi sebagai ruang penguatan jejaring bisnis. Kehadiran UMKM dan industri kreatif dari berbagai daerah membuka peluang kerja sama baru, memperkenalkan produk lokal kepada konsumen yang lebih luas, serta memperkuat posisi sektor kreatif sebagai bagian dari ekonomi perkotaan.

Namun, tantangan setelah penyelenggaraan event besar adalah memastikan dampak ekonomi tidak berhenti selama kegiatan berlangsung. Pemerintah daerah perlu menjaga keberlanjutan peluang pasar bagi UMKM dan pelaku industri agar manfaat yang tercipta dapat berlanjut setelah pameran berakhir.

Menatap peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027, Rano menyebut penyelenggaraan Jakarta Fair akan diarahkan menjadi lebih besar dan inovatif. “Mari kita jadikan momentum ini sebagai salah satu kado terbaik untuk menyambut 500 tahun Kota Jakarta, sekaligus mendukung pertumbuhan Jakarta sebagai kota global,” katanya.

Capaian Jakarta Fair 2026 menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dalam merancang agenda ekonomi berbasis event. Ke depan, keberhasilan sebuah pameran tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung dan nilai transaksi, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan peluang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat.(tmi/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *