Banner Pajak

Emas Turun, Saatnya Atur Strategi Investasi

INSPIRASINUSANTARA -Gejolak harga emas pada awal semester II-2026 menjadi pengingat bahwa investasi tidak hanya soal membeli saat harga turun, tetapi juga tentang mengelola risiko. Di tengah fluktuasi pasar, investor ritel perlu menentukan strategi yang tepat agar keputusan investasi tidak didasarkan pada kepanikan sesaat, melainkan pada perencanaan keuangan jangka panjang.

Harga emas di pasar spot tercatat turun 1,20 persen menjadi US$4.056,66 per ons troi pada perdagangan Rabu (8/7/2026) pukul 17.50 WIB. Berdasarkan data Trading Economics, logam mulia tersebut melemah 49,07 poin dalam sehari dan terkoreksi 4,81 persen dalam sebulan terakhir. Meski demikian, secara tahunan (year on year/YoY) harga emas masih mencatat kenaikan 22,40 persen.

Kondisi itu menjadi perhatian bagi investor yang menjadikan emas sebagai salah satu instrumen investasi. Fluktuasi harga dalam jangka pendek dinilai dapat memicu keputusan yang terburu-buru, baik dengan membeli dalam jumlah besar sekaligus maupun menunda investasi hingga harga dianggap benar-benar stabil.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, mengatakan volatilitas pasar yang tinggi saat ini menuntut investor ritel lebih disiplin dalam menyusun strategi investasi. Menurutnya, gejolak harga merupakan bagian dari dinamika pasar sehingga keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada kepanikan.

“Strategi terbaik saat ini adalah cicil beli secara bertahap (buy on weakness/dollar cost averaging), bukan menunggu (hold) total atau membeli sekaligus (lump sum),” ujar Nanang kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).

Selain itu, Nanang menilai pengelolaan portofolio menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan investasi ketika kondisi ekonomi domestik menghadapi tantangan pada paruh kedua tahun ini. Ia mengingatkan agar investor tidak menempatkan seluruh dananya pada satu instrumen investasi.

“Batasi alokasi investasi emas maksimal 10% hingga 20% dari total portofolio Anda,” tegasnya. Menurut Nanang, pembatasan tersebut dapat menjadi benteng pertahanan portofolio terhadap risiko lesunya ekonomi domestik pada semester II-2026.

Ia juga mengimbau investor tetap berorientasi pada tujuan jangka panjang. “Pertahankan orientasi investasi jangka panjang (minimal 1–3 tahun) karena secara historis, emas selalu berhasil keluar dari fase koreksi kuartalan menuju puncak baru,” ungkapnya.

Bagi masyarakat yang sedang menyusun rencana keuangan, penurunan harga emas tidak selalu menjadi sinyal untuk mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Di tengah volatilitas pasar, strategi pembelian bertahap, pembatasan porsi investasi, dan orientasi jangka panjang menjadi langkah yang dinilai lebih tepat untuk mengelola risiko sekaligus menjaga tujuan investasi tetap berada pada jalurnya.(sal/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *