Banner Pajak

Ekonomi Sulsel Tumbuh 5,59%, Warga Belum Tentu Merasa

Ekonomi Sulsel
TUMBUH. Ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 5,59 persen (%) pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu menunjukkan aktivitas ekonomi daerah terus bergerak, tetapi bagi warga.

MAKASSAR,  inspirasinusantara.id — Ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 5,59 persen (%) pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu menunjukkan aktivitas ekonomi daerah terus bergerak, tetapi bagi warga, pertanyaan yang lebih dekat justru: apakah pertumbuhan tersebut benar-benar terasa di pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel atas dasar harga berlaku mencapai Rp206,70 triliun pada triwulan II 2026. Sementara berdasarkan harga konstan 2010, PDRB mencapai Rp110,41 triliun.

Secara kuartalan, ekonomi Sulsel bahkan tumbuh 6,09 persen dibandingkan triwulan I 2026. Namun, pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran aktivitas produksi dan transaksi dalam perekonomian, bukan ukuran langsung tentang berapa besar uang yang diterima setiap rumah tangga.

Di sinilah alasan mengapa pertumbuhan 5,59 persen belum tentu dirasakan sama oleh seluruh warga.

Pertumbuhan Ekonomi Bukan Berarti Pendapatan Naik

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa nilai barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Tetapi angka tersebut tidak secara otomatis menjawab tiga pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan warga: siapa yang memperoleh tambahan pendapatan, sektor apa yang tumbuh, dan apakah tambahan aktivitas ekonomi tersebut menciptakan pekerjaan atau meningkatkan penghasilan pekerja?

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan II 2026 dari sisi produksi tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, yang tumbuh 16,45 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, yang tumbuh 20,18 persen. Artinya, salah satu pendorong kuat pertumbuhan periode tersebut berkaitan dengan aktivitas pemerintah.

Bagi warga, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana aktivitas tersebut diterjemahkan menjadi layanan publik yang lebih baik, pekerjaan, pendapatan, atau aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Ekonomi Tumbuh, Tapi Manfaatnya Tidak Otomatis Merata

Pertumbuhan ekonomi bekerja melalui banyak sektor dan kelompok masyarakat.

Ketika sebuah sektor berkembang, dampaknya bisa muncul melalui penyerapan tenaga kerja, pembelian bahan baku, peningkatan permintaan terhadap jasa, maupun aktivitas perdagangan.

Namun, tidak semua sektor memiliki kemampuan yang sama dalam menyerap tenaga kerja atau meningkatkan pendapatan masyarakat.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,59 persen tidak dapat dibaca sebagai kenaikan pendapatan seluruh warga sebesar 5,59 persen. Seorang pekerja dengan pendapatan tetap, misalnya, tidak otomatis memperoleh tambahan penghasilan hanya karena PDRB daerah meningkat.

Begitu pula pelaku usaha kecil. Jika pertumbuhan terjadi pada sektor yang tidak banyak berkaitan dengan konsumennya, manfaatnya belum tentu langsung terlihat dalam omzet sehari-hari.

Konsumsi Pemerintah Jadi Salah Satu Penggerak

Data BPS memberikan petunjuk penting mengenai sumber pertumbuhan pada triwulan II 2026. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh 20,18 persen secara tahunan. Secara triwulanan, komponen yang sama bahkan tumbuh 29,08 persen.

Ini menunjukkan peran belanja pemerintah cukup besar dalam pergerakan ekonomi pada periode tersebut. Namun, belanja pemerintah baru benar-benar terasa bagi masyarakat apabila menghasilkan efek yang lebih luas.

Misalnya, pembangunan infrastruktur dapat menciptakan aktivitas ekonomi bagi pekerja dan pelaku usaha. Belanja pelayanan publik dapat memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan dasar. Program pemerintah juga dapat menciptakan permintaan terhadap barang dan jasa lokal.

Karena itu, ukuran berikutnya bukan hanya berapa besar pemerintah membelanjakan anggaran, tetapi apa perubahan yang dihasilkan dari belanja tersebut.

Ekonomi Makassar dan Daerah Lain Tak Selalu Sama

Angka pertumbuhan Sulawesi Selatan juga merupakan agregasi dari berbagai kabupaten dan kota. Artinya, pertumbuhan provinsi tidak berarti seluruh daerah tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Karakter ekonomi Makassar berbeda dengan daerah yang lebih bergantung pada pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan, atau sektor lainnya. Begitu pula pengalaman masyarakatnya.

Warga yang bekerja pada sektor yang sedang berkembang mungkin merasakan peningkatan permintaan dan pendapatan. Sebaliknya, pekerja pada sektor yang stagnan dapat tetap menghadapi tekanan ekonomi meskipun angka pertumbuhan provinsi terlihat positif.

Karena itu, membaca pertumbuhan ekonomi Sulsel perlu dilanjutkan dengan melihat lapangan kerja, kemiskinan, ketimpangan, dan daya beli.

Ada Jarak antara PDRB dan Dompet Warga

PDRB menggambarkan ukuran aktivitas ekonomi suatu wilayah. Sementara kehidupan rumah tangga ditentukan oleh kombinasi pendapatan, harga barang, pekerjaan, utang, serta kebutuhan masing-masing keluarga.

Seseorang dapat hidup dalam ekonomi yang tumbuh tetapi tetap merasa penghasilannya tidak cukup apabila kenaikan pendapatan lebih kecil dibandingkan kebutuhan yang harus dibayar. Sebaliknya, ketika harga relatif terkendali dan kesempatan kerja meningkat, pertumbuhan ekonomi lebih mungkin terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak dibaca sendirian.

Angka 5,59 persen adalah kabar positif untuk aktivitas ekonomi Sulsel, tetapi belum menjadi bukti bahwa kesejahteraan seluruh warga meningkat dalam besaran yang sama.

Ukuran Berikutnya Ada di Pasar Kerja

Bagi masyarakat, salah satu indikator yang paling mudah dirasakan dari pertumbuhan ekonomi adalah pekerjaan. Jika aktivitas ekonomi meningkat tetapi tidak diikuti penciptaan pekerjaan yang cukup atau peningkatan kualitas pekerjaan, sebagian warga mungkin tidak merasakan manfaat pertumbuhan secara langsung.

BPS sebelumnya mencatat pasar kerja Sulsel masih menghadapi tantangan. Dalam gambaran sosial ekonomi 2025 yang dirilis BPS pada Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka disebut masih meningkat, terutama di wilayah perkotaan, sementara struktur pekerjaan masih didominasi sektor informal.

Data tersebut memang menggambarkan kondisi 2025, bukan kondisi ketenagakerjaan triwulan II 2026. Karena itu, data ketenagakerjaan terbaru perlu dibaca ketika BPS merilis indikator periode tersebut.

Namun, persoalannya tetap relevan: pertumbuhan ekonomi baru lebih bermakna bagi rumah tangga jika diterjemahkan menjadi pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik.

Pertumbuhan Harus Berujung pada Perubahan

Ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 5,59 persen pada triwulan II 2026. Dari sisi statistik, itu menunjukkan perekonomian daerah berkembang dibandingkan setahun sebelumnya. Tetapi bagi warga, angka tersebut baru menjadi awal pertanyaan.

Apakah pendapatan pekerja meningkat?

Apakah lapangan kerja bertambah?

Apakah usaha kecil memperoleh pasar yang lebih besar?

Apakah harga kebutuhan tetap terjangkau?

Apakah kemiskinan berkurang?

Dan apakah belanja pemerintah menghasilkan layanan publik yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar menjadi pertumbuhan yang dirasakan. Sebab, ekonomi daerah pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar PDRB bertambah. Yang lebih penting adalah apakah pertambahan itu mengubah kehidupan orang yang tinggal di dalamnya. (*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *