MAKASSAR, inspirasinusantara.id— Bagi warga Kampung Romang Tangayya, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, persoalan jalan bukan sekadar soal permukaan yang rusak. Jalan tanah yang sulit dilalui, berlumpur saat hujan, dan kerap terputus akibat genangan membuat mobilitas warga selama bertahun-tahun menjadi lebih sulit.
Kondisi itu kini mulai berubah. Pemerintah Kota Makassar membangun jalan beton sepanjang sekitar 1 kilometer dengan lebar 4 meter di kawasan Romang Tangayya. Pekerjaan yang dimulai 13 Juli 2026 tersebut ditargetkan selesai pada 10 Oktober 2026.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau langsung progres pembangunan tersebut pada Rabu (19/8/2026).
“Hari ini, saya meninjau langsung pembangunan jalan di Romang Tangayya, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala. Saya juga bertemu warga, kita harapkan akses jalan segera selesai bulan depan,” ujar Munafri.
Bagi warga, perubahan paling penting bukan pada bentuk jalan yang kini dibeton, melainkan akses yang sebelumnya sulit menjadi jalur yang lebih mudah dilalui untuk aktivitas sehari-hari.
Jalan Tanah Jadi Hambatan Mobilitas
Sebelum proyek berjalan, Jalan Romang Tangayya–Tamangapa masih berupa jalan tanah. Ketika cuaca kering, kondisi permukaan jalan dapat menyulitkan kendaraan. Masalah menjadi lebih berat saat hujan karena jalan mudah berlumpur dan mengalami genangan.
Kondisi tersebut membuat warga harus menghadapi hambatan ketika hendak bepergian dari maupun menuju kawasan Romang Tangayya.
Kepala Dinas PU Kota Makassar Zuhaelsi Zubir mengatakan pembangunan jalan tersebut ditujukan untuk membuka akses langsung bagi masyarakat. “Pembangunan ini untuk membuka akses langsung masyarakat Romang Tangayya. Jadi warga tidak perlu lagi kesulitan aktivitas,” ujar Zuhaelsi.
Dengan akses baru tersebut, warga tidak lagi harus memutar melalui Jalan Poros Samata, Kabupaten Gowa, untuk menuju kawasan lainnya. Artinya, manfaat proyek bukan hanya pada kualitas permukaan jalan, tetapi juga pada konektivitas kawasan yang selama ini memiliki akses terbatas.
Dampaknya Bukan Hanya Soal Kendaraan
Jalan merupakan bagian dari infrastruktur yang menentukan seberapa mudah warga menjangkau aktivitas dasar.
Ketika akses sulit, perjalanan menuju sekolah, fasilitas kesehatan, pusat perdagangan, maupun pelayanan pemerintah juga dapat menjadi lebih panjang dan tidak efisien.
Karena itu, pembangunan jalan di Romang Tangayya berpotensi memberikan dampak lebih luas dibanding sekadar membuat kendaraan lebih mudah melintas.
Akses yang lebih baik juga dapat membuka peluang bagi aktivitas ekonomi warga karena mobilitas orang dan barang menjadi lebih mudah.
Namun, manfaat tersebut baru bisa dinilai setelah jalan selesai dan digunakan masyarakat. Pemerintah perlu memastikan kualitas konstruksi, akses tetap terjaga, serta jalan dapat berfungsi dalam berbagai kondisi cuaca.
Proyek Berjalan hingga Oktober
Dinas PU Makassar menyebut pembangunan Jalan Beton Romang Tangayya–Tamangapa memiliki panjang sekitar 1 kilometer dan lebar 4 meter.
Pekerjaan dilaksanakan sejak 13 Juli hingga 10 Oktober 2026 menggunakan anggaran yang bersumber dari APBD Pokok Kota Makassar Tahun Anggaran 2026.
Zuhaelsi mengatakan konstruksi jalan dilakukan dengan merekonstruksi jalan tanah menjadi jalan beton.
“Jalan yang sebelumnya masih berupa tanah ini kita lakukan rekonstruksi beton. Harapannya akses masyarakat bisa lebih mudah dan mobilitas warga semakin lancar,” jelasnya.
Dengan target penyelesaian pada Oktober, warga masih harus menunggu hingga seluruh pekerjaan rampung sebelum manfaat jalan dapat dirasakan secara penuh.
Ujian Berikutnya: Apakah Akses Benar-Benar Terbuka?
Pembangunan jalan di kawasan yang selama ini sulit diakses memang menyelesaikan satu persoalan penting. Namun, ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada selesainya pekerjaan fisik.
Pemerintah perlu memastikan jalan tersebut benar-benar membuat waktu tempuh warga lebih pendek, kendaraan lebih mudah melintas, dan akses menuju fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, serta pelayanan publik menjadi lebih baik.
Di sisi lain, kawasan perbatasan Makassar dan Gowa membutuhkan perhatian pada konektivitas antarwilayah. Jalan yang dibangun di satu sisi kota akan lebih bermanfaat apabila terhubung dengan jaringan jalan lain dan tidak kembali menghadapi persoalan genangan atau kerusakan.
Munafri mengatakan pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya membuka akses bagi wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan konektivitas.
Bagi warga Romang Tangayya, hasil akhirnya sederhana: jalan yang selama ini menyulitkan aktivitas sehari-hari diharapkan benar-benar menjadi jalan yang bisa dilalui dengan aman dan mudah.
Sebab, pembangunan infrastruktur di kawasan pinggiran bukan hanya tentang membangun jalan baru. Yang lebih penting adalah memastikan warga yang selama ini sulit bergerak akhirnya memiliki akses yang sama terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik. (*/IN)














