inspirasinusantara.id — Kemilau cahaya keemasan yang menembus kaca Ballroom Pullman Bali Beach Hotel melukis keindahan magis pada Kamis, 27 Agustus 2026. Di balik arsitektur modern tropis yang menyatu dengan kemewahan Bali, jurnalis berkumpul menghadiri Pelatihan Wartawan Sulawesi Selatan. Pertemuan elok ini tidak sekadar membaca angka statistik dingin, melainkan merajut harmoni optimisme bagi pembaca.
Kehangatan Bali kian hidup ketika Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, naik ke atas podium. Dengan tatapan mata berbinar penuh semangat, beliau mengupas rilis perkembangan ekonomi daerah teranyar. Di balik keanggunan busana batik, beliau membawa narasi optimis tentang resiliensi ekonomi Sulawesi Selatan.
Keindahan setiap sudut Pullman Hotel seakan mewakili arsitektur ekonomi Sulawesi Selatan yang tumbuh tangguh sebesar 5,59 persen pada Triwulan II-2026. Pencapaian solid ini sukses mengantarkan Sulawesi Selatan menduduki peringkat ke-12 secara nasional. Pertumbuhan gemilang ini membuktikan bumi Celebes tetap mampu melaju kencang menerjang berbagai tantangan.
Tantangan nyata memang membayang seiring eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi dunia. Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip, mengingatkan proyeksi pertumbuhan global tahun 2026 melemah di kisaran 3,0 persen. Turbulensi tersebut memicu kekhawatiran melemahnya nilai tukar Rupiah serta lonjakan suku bunga pasar keuangan global.
Meski demikian, pondasi nasional kokoh berkat komitmen lembaga rating internasional S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia tetap investment grade. S&P menyematkan rating BBB dengan outlook stable yang membuktikan pelemahan fiskal saat ini bersifat sementara. Optimisme makro inilah yang menjadi landasan kuat daerah untuk menjaga stabilitas pasar domestik.
Sulawesi Selatan pun menghadapi penyesuaian setelah mencatat laju ekonomi fantastis sebesar 6,88 persen pada Triwulan I-2026. Pertumbuhan melambat ke posisi 5,59 persen akibat penurunan produksi padi serta kontraksi sektor pertambangan nikel global. Kendati laju angka bergeser turun, arah perekonomian Sulsel dipastikan tidak sedang kehilangan tenaga.
Dengan penuh keyakinan, Rizki Ernadi Wimanda meluruskan bahwa perlambatan statistik ini bukanlah tanda penurunan daya beli. Beliau menerangkan secara jernih bahwa penurunan angka ini murni disebabkan oleh siklus normalisasi pasca-perayaan.
“Sangat wajar konsumsi rumah tangga kembali ke pola normal setelah lonjakan tinggi masa Ramadhan dan Idul Fitri,” jelasnya.
Ekonom Sunarsip turut mendukung analisis tersebut dengan menyatakan bahwa fluktuasi konsumsi pasca-hari besar keagamaan merupakan siklus lumrah. Fundamental makro yang stabil memberi ruang bagi daerah untuk mengaktifkan mesin pertumbuhan baru yang lebih produktif. Kondisi ini memastikan daya beli riil masyarakat Sulawesi Selatan sesungguhnya masih berada pada jalur yang kuat.
Saat konsumsi rumah tangga ternormalisasi, kemudi pertumbuhan Sulsel langsung bergeser pada sektor investasi strategis. Laju Pembentukan Modal Tetap Bruto swasta dan pemerintah terpantau tumbuh solid menopang aktivitas ekonomi daerah. Akselerasi realisasi belanja modal APBN dan APBD pemda menjadi penolong utama pertumbuhan sektor riil.
Stimulus anggaran langsung mengalir menggerakkan lapangan usaha konstruksi melalui proyek multiyears jalan dan jembatan daerah. Akselerasi proyek infrastruktur konektivitas ini berhasil memitigasi penurunan kinerja lapangan usaha pertanian serta pertambangan. Hal ini membuktikan ekonomi Sulawesi Selatan kian matang dengan struktur pertumbuhan yang beralih ke sektor investasi produktif.
Stabilitas harga pangan juga berhasil dikawal dengan manis lewat sinergi pengendalian inflasi bersama pemerintah daerah. Koordinasi taktis Tim Pengendalian Inflasi Daerah sukses menstabilkan harga bahan pokok volatile food di seluruh pasar. Keberhasilan pasokan komoditas hortikultura bahkan membawa Sulawesi Selatan mencatat deflasi bulanan sebesar 0,18 persen pada Juli 2026.
BI Sulawesi Selatan terus menggulirkan Gerakan Menanam Pangan Strategis guna memperkuat kemandirian pangan masyarakat bawah. Sinergi pembagian benih mandiri serta perluasan lahan cetak sawah baru aktif dilakukan di berbagai sentra produksi. “Kedaulatan pangan lokal adalah perisai paling ampuh untuk meredam imported inflation dari ketidakpastian dunia,” pungkas Rizki optimis.
Daya tarik ekonomi Sulsel kian elok berkat lompatan pesat adopsi pembayaran digital masyarakat yang modern. BI mencatat nominal transaksi BI-Fast wilayah Sulampua tumbuh fantastis menyentuh Rp33,74 triliun per Juli 2026. Sedangkan volume transaksi pembayaran BI-Fast tumbuh sebesar 53,16 persen secara tahunan hingga mencapai 14,6 juta transaksi.
Digitalisasi transaksi ini menjadi solusi nyata pemberdayaan sekitar 1,5 juta pelaku UMKM Sulawesi Selatan. Data rekam jejak digital transaksi QRIS kini dimanfaatkan perbankan untuk profiling kelayakan kredit produktif. Inovasi bauran sistem pembayaran ini sukses memotong hambatan klasik pembiayaan modal tanpa agunan yang rumit.
Rangkaian data makroekonomi yang kompleks berhasil diterjemahkan oleh Rizki Ernadi Wimanda menjadi cerita optimisme yang membumi. Angka 5,59 persen mencerminkan kematangan fondasi ekonomi baru. Sinergi erat kebijakan fiskal dan stabilitas makroekonomi Bank Indonesia adalah kunci resiliensi jangka panjang. (farisal/IN)














