Banner Pajak

BI Rekomendasikan Hilirisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Sulsel

Ekonomi Sulsel
OPTIMIS. Rizki Ernadi Wimanda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel memaparkan rekomendasi yang perlu didorong untuk pertumbuhan ekonomi Sulsel dalam Pelatihan Wartawan Sulsel 2026, di Bali, Kamis (27/08/2026). (foto:ist)

MAKASSAR, INSPIRASINUSANTARA.ID — Sulawesi Selatan memiliki basis ekonomi yang kuat di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Namun, produksi komoditas saja belum cukup. Nilai ekonomi akan lebih besar jika hasil produksi terhubung dengan pengolahan, pasar dan pembiayaan.

Arah tersebut menjadi salah satu rekomendasi dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel yang dipaparkan Rizki Ernadi Wimanda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel dalam Pelatihan Wartawan Sulsel 2026, di Bali, Kamis (27/08/2026).

Rizki menyebutkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memiliki pangsa 23,01 persen, sementara industri pengolahan mencapai 12,91 persen.

“Sektor ini ditempatkan sebagai bagian penting dalam upaya menggali sumber pertumbuhan ekonomi baru dan mempercepat akselerasi pembangunan ekonomi Sulsel,” ujarnya.

Produksi perlu punya rantai nilai

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah bagaimana komoditas daerah dapat memiliki rantai nilai yang lebih kuat.

Rekomendasi BI mendorong penetapan 3–5 rantai nilai komoditas prioritas dengan fokus pada komoditas yang memiliki sentra produksi dan potensi pasar. Contoh komoditas yang disebut adalah kakao, padi, jagung, perikanan, dan rumput laut. Artinya, penguatan ekonomi tidak diarahkan hanya pada peningkatan produksi. Komoditas juga perlu dipastikan memiliki jalur yang jelas dari sentra produksi menuju pasar.

Rekomendasi itu kemudian diterjemahkan melalui penguatan hubungan antara produsen, koperasi, agregator dan pembeli.

Petani dan nelayan perlu terkonsolidasi

BI Sulsel merekomendasikan pembangunan kontrak offtaker dengan cara mengonsolidasikan produksi melalui koperasi atau agregator. Hubungan tersebut diarahkan untuk memberikan kepastian mengenai volume, kualitas, harga dan jadwal pengiriman.

Model ini membuat rantai produksi tidak berjalan sendiri-sendiri. Produksi dari petani maupun nelayan dapat dikonsolidasikan sebelum masuk ke pasar atau proses pengolahan.

Bahan rekomendasi juga mendorong penguatan kelembagaan petani dan nelayan. Koperasi atau agregator diarahkan tidak hanya mengumpulkan produksi, tetapi juga menangani grading, penyimpanan dan pemasaran.

Masalah pascapanen ikut menentukan

Produksi yang sudah dihasilkan membutuhkan fasilitas agar kualitas dan distribusinya dapat dijaga. Karena itu, rekomendasi BI Sulsel kata Rizki mencakup penguatan pascapanen dan rantai dingin.

Fasilitas yang didorong antara lain cold chain, gudang agregator serta fasilitas pengolahan yang ditempatkan di sentra produksi prioritas. Dalam konteks ini, persoalan ekonomi tidak berhenti ketika komoditas keluar dari lahan atau perairan.

Tahap setelah produksi menjadi bagian penting untuk menentukan bagaimana komoditas tersebut masuk ke rantai ekonomi berikutnya.

Produktivitas hulu tetap diperkuat

Penguatan hilirisasi juga harus dibarengi dengan produktivitas di tingkat produksi.

Bahan rekomendasi BI mendorong pemerataan alsintan, benih unggul, teknologi produksi dan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi daerah. Dengan begitu, penguatan rantai nilai tidak hanya bertumpu pada industri di bagian hilir. Sektor hulu juga harus memiliki kapasitas produksi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Industri pengolahan menjadi pengungkit

Setelah produksi terkonsolidasi, tahap berikutnya adalah memperkuat industri pengolahan. BI Sulsel merekomendasikan penyiapan proyek hilirisasi yang bankable, termasuk kelengkapan pengolahan komoditas, bahan baku, investasi, izin, utilitas dan pasar.

Rekomendasi lainnya adalah membangun shared processing facility. Fasilitas bersama tersebut dapat menyediakan mesin, laboratorium, sertifikasi dan fasilitas pengemasan pada klaster komoditas prioritas. Dengan model tersebut, pelaku usaha dalam satu klaster dapat memanfaatkan fasilitas pengolahan secara bersama.

Produk lokal perlu memenuhi standar

Pengolahan saja belum cukup jika produk tidak memenuhi standar pasar. Karena itu, rekomendasi BI juga mencakup peningkatan kualitas produk, kemasan serta sertifikasi seperti SNI, halal dan HACCP. Tujuannya adalah membuka ruang perluasan pasar, baik domestik maupun ekspor.

Di sisi lain, pengembangan industri juga membutuhkan tenaga kerja yang sesuai. BI mendorong link and match sumber daya manusia industri melalui revitalisasi BLK atau vokasi sesuai kebutuhan industri pengolahan.

Riset terapan juga diarahkan melalui kolaborasi antara kampus dan industri untuk pengembangan teknologi pengolahan.

Pembiayaan ikut menentukan

Persoalan berikutnya adalah akses modal. Bahan rekomendasi mendorong perluasan akses pembiayaan melalui blended financing, kredit investasi/KUR, pembiayaan syariah dan skema lainnya.

Dengan demikian, rantai yang dibangun tidak berhenti karena pelaku usaha kesulitan membiayai pengembangan usahanya. Pada akhirnya, rekomendasi BI menempatkan pertanian dan industri pengolahan dalam satu rangkaian.

Produksi diperkuat, hasilnya dikonsolidasikan, kemudian diolah dan diarahkan ke pasar.

Bagi ekonomi Sulsel, pendekatan tersebut berarti mengejar bukan hanya pertumbuhan produksi, tetapi juga nilai tambah yang tercipta sepanjang rantai ekonomi daerah. (*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *