MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Tujuh tahun setelah diluncurkan, QRIS tidak lagi sekadar cara membayar dengan memindai kode. Bagi masyarakat dan pelaku usaha, sistem pembayaran digital ini telah menjadi bagian dari perubahan cara bertransaksi.
Perjalanan tersebut menjadi sorotan dalam Sultan QRIS Run 2026 yang digelar Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan bersama OJK Sulawesi Selatan dan Barat, LPS III Makassar, serta Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Sulawesi Selatan di Makassar, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menutup Pekan Olahraga dan Seni Perbankan (PORSEBANK) Sulawesi Selatan 2026 yang berlangsung sejak 2 Agustus.
Namun, di balik perayaan tujuh tahun QRIS, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membuat masyarakat mengenal QRIS. Pertanyaannya adalah seberapa jauh pembayaran digital tersebut benar-benar membuat transaksi lebih mudah, inklusif, dan aman.
Dari Kode QR ke QRIS TAP
QRIS diluncurkan pada 17 Agustus 2019 sebagai standar pembayaran berbasis QR di Indonesia. Dalam Sultan QRIS Run 2026, perjalanan tersebut dikemas melalui tujuh QRIS Station sepanjang rute lari 10 kilometer. Setiap stasiun memperkenalkan perkembangan dan inovasi QRIS, mulai dari pembayaran berbasis kode hingga teknologi terbaru QRIS TAP.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan perjalanan tujuh tahun QRIS tidak hanya berkaitan dengan teknologi pembayaran.
“Yang kita rayakan adalah perjalanan jutaan masyarakat dan pelaku usaha Indonesia dalam beradaptasi, bertumbuh, dan mengambil bagian dalam transformasi digital,” ujar Rizki.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan yang lebih besar: QRIS menjadi salah satu bagian dari pergeseran aktivitas ekonomi masyarakat menuju transaksi digital.
Pelaku Usaha Tak Lagi Harus Bergantung Tunai
Bagi pelaku usaha, pembayaran digital memberikan alternatif selain transaksi tunai.
Warung, pedagang, usaha kuliner maupun bisnis jasa dapat menerima pembayaran melalui QRIS tanpa harus menyediakan banyak pilihan kanal pembayaran secara terpisah.
Tetapi digitalisasi pembayaran juga membawa konsekuensi baru.
Ketika transaksi semakin bergeser ke ruang digital, pelaku usaha dan konsumen harus memahami keamanan transaksi. Nomor PIN, kode OTP, data pribadi, maupun informasi penting lainnya tidak boleh diberikan kepada pihak lain.
Karena itu, Bank Indonesia menekankan bahwa perluasan penggunaan QRIS harus berjalan bersamaan dengan peningkatan literasi masyarakat. Semakin mudah pembayaran, semakin penting pula masyarakat memahami risikonya.
Tantangan QRIS Memasuki Tahun Kedelapan
Bank Indonesia menyatakan akan terus mendorong QRIS agar semakin sering digunakan, semakin luas dimanfaatkan, memiliki beragam fitur, serta semakin aman.
Artinya, pekerjaan QRIS belum selesai setelah masyarakat terbiasa memindai kode.
Tahap berikutnya adalah memperluas pemanfaatan dan memastikan masyarakat memahami cara menggunakan sistem pembayaran digital secara aman. Di sinilah literasi menjadi penting.
Masyarakat tidak cukup hanya tahu cara membayar menggunakan QRIS, tetapi juga harus mampu membedakan transaksi yang benar dengan modus penipuan digital.
Bagi pelaku usaha, tantangannya juga bukan hanya menyediakan QRIS. Mereka perlu memahami pencatatan transaksi, keamanan akun, serta pengelolaan keuangan yang semakin terdigitalisasi.
QRIS dan Ekonomi Digital Sulsel
Sultan QRIS Run 2026 juga memperlihatkan bahwa transformasi pembayaran tidak berjalan sendirian. Kegiatan tersebut mempertemukan Bank Indonesia, OJK, LPS, industri perbankan, penyedia jasa pembayaran, komunitas dan mitra strategis lainnya.
Sinergi ini penting karena sistem pembayaran merupakan bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Bank Indonesia tidak hanya berbicara mengenai teknologi pembayaran, tetapi juga mendorong ekonomi dan keuangan digital yang semakin inklusif.
Karena itu, ukuran keberhasilan QRIS ke depan tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak transaksi digital dilakukan. Pertanyaan yang lebih dekat dengan masyarakat adalah: apakah semakin banyak pelaku usaha kecil bisa menerima pembayaran digital? Apakah konsumen semakin mudah bertransaksi? Dan apakah mereka memahami cara melindungi diri dari risiko digital?
Tujuh Tahun Bukan Sekadar Perayaan
Sultan QRIS Run 2026 memang dikemas sebagai kegiatan olahraga sekaligus perayaan tujuh tahun QRIS.
Peserta menempuh rute 10 kilometer dengan tujuh QRIS Station yang menggambarkan perjalanan inovasi sistem pembayaran tersebut.
Tetapi momentum ini juga memperlihatkan perubahan perilaku ekonomi yang sedang berlangsung. QRIS telah melewati fase pengenalan. Memasuki tahun kedelapan, tantangannya adalah memperluas manfaat sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.
Sebab, digitalisasi pembayaran pada akhirnya bukan tentang mengganti uang tunai dengan kode QR. Lebih jauh dari itu, QRIS merupakan bagian dari perubahan cara masyarakat membeli, menjual, menerima pembayaran, dan mengelola transaksi.
Dan ketika transaksi semakin digital, kemampuan masyarakat menjaga data dan keamanan transaksi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menggunakan teknologinya. (*/IN)















Respon (1)