Sulsel  

BI Sulsel Ingatkan Masyarakat Perlindungan Transaksi Keuangan di Lingkungan Keluarga

Lebih dari 700 ribu laporan penipuan transaksi keuangan masuk sejak November 2024 hingga September 2026. BI Sulsel mengajak keluarga saling mengingatkan untuk mencegah kejahatan digital.

BI Sulsel
SANTAI. Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rezki Winanda, melepas peserta kegiatan Sipaka Inge Fun Walk di kawasan Monumen Mandala, Makassar, Minggu (1/11/2026).

INSPIRASINUSANTARA.ID — Penipuan digital semakin mengancam keamanan keuangan masyarakat. Pelaku memanfaatkan pesan palsu, tautan berbahaya, hingga penyamaran sebagai anggota keluarga untuk meminta transfer uang.

Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan mengingatkan masyarakat agar memperkuat perlindungan transaksi keuangan dari lingkungan keluarga.

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rezki Winanda, menyampaikan imbauan tersebut dalam kegiatan Sipaka Inge Fun Walk di kawasan Monumen Mandala, Makassar, Minggu (1/11/2026).

Rezki mengungkapkan, jumlah laporan penipuan transaksi keuangan telah melampaui 700 ribu sejak November 2024 hingga 30 September 2026.

Selain itu, lebih dari 1,3 juta rekening yang terindikasi berkaitan dengan aktivitas penipuan telah masuk dalam laporan dan proses verifikasi.

Angka tersebut menunjukkan luasnya ancaman penipuan terhadap pengguna layanan keuangan digital.

Penipuan Digital Sasar Semua Generasi

Modus penipuan terus berkembang dan menyasar berbagai kelompok usia.

Pelaku menggunakan pesan undian berhadiah, panggilan telepon palsu, hingga tautan yang mengarahkan korban ke situs berbahaya.

Mereka juga kerap menyamar sebagai anggota keluarga untuk meminta uang dengan alasan mendesak.

Rezki mengatakan, pelaku memanfaatkan rasa percaya dan kepanikan korban. Kedekatan emosional dalam keluarga juga menjadi celah yang sering mereka gunakan.

“Penipuan saat ini tidak mengenal usia. Anak muda yang akrab dengan teknologi, orang tua yang aktif bertransaksi, maupun kakek dan nenek kita sama-sama bisa menjadi sasaran,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat edukasi keamanan digital perlu menjangkau seluruh anggota keluarga.

Anak muda dapat membantu orang tua mengenali pesan mencurigakan. Sebaliknya, orang tua juga perlu mengajarkan kebiasaan berhati-hati kepada anak.

BI Sulsel Dorong Perlindungan Dimulai dari Rumah

BI Sulsel menggunakan nilai kearifan lokal Sipaka Inge sebagai pendekatan edukasi perlindungan konsumen.

Sipaka Inge memiliki makna saling mengingatkan. Nilai tersebut menjadi dasar ajakan agar anggota keluarga saling menjaga ketika menggunakan layanan keuangan digital.

“Yang muda membantu yang tua, yang tua membimbing yang muda. Anak dan cucu dapat membantu orang tua serta kakek nenek mengenali modus penipuan digital. Sebaliknya, orang tua juga dapat menanamkan kebiasaan berhati-hati kepada anak-anak,” jelas Rezki.

Menurutnya, perlindungan konsumen tidak cukup hanya mengandalkan teknologi keamanan.

Kebiasaan saling mengingatkan dan keterbukaan dalam keluarga juga memegang peranan penting.

Melalui pendekatan tersebut, setiap anggota keluarga diharapkan segera berbagi informasi ketika menerima permintaan transfer mencurigakan.

Tiga Langkah Menghindari Penipuan Keuangan

Dalam kegiatan tersebut, Rezki mengajak masyarakat membangun tiga kebiasaan sederhana untuk menghindari penipuan.

Pertama, jangan mudah percaya pada pesan, panggilan, atau tawaran yang mencurigakan.

Kedua, dampingi anggota keluarga ketika mereka membutuhkan bantuan dalam transaksi digital.

Ketiga, bangun komunikasi terbuka agar anggota keluarga segera bercerita ketika menerima permintaan transfer yang tidak jelas.

“Kalau ragu, stop dulu. Jangan terburu-buru melakukan transaksi. Kata sandi atau kode OTP tidak untuk dibagikan kepada siapa pun,” pesannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membuka tautan atau mengirim uang karena tekanan pihak yang tidak dikenal.

Edukasi Perlindungan Konsumen Sasar Perempuan hingga Lansia

Sipaka Inge Fun Walk menjadi salah satu pendekatan BI Sulsel untuk mendekatkan edukasi perlindungan konsumen kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.000 peserta. BI berharap peserta dapat menyebarkan informasi pencegahan penipuan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Sebelumnya, BI Sulsel juga menggelar berbagai kegiatan edukasi dalam rangka Semarak Pekan Perlindungan Konsumen sejak Oktober 2026.

Program tersebut menyasar kelompok perempuan, lanjut usia, dan mahasiswa. BI menggunakan pertemuan langsung serta media televisi dan radio untuk menjangkau masyarakat.

BI Sulsel bersama industri sistem pembayaran juga terus mendorong peningkatan literasi keuangan dan perlindungan konsumen.

Dalam jangka panjang, penguatan perlindungan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun keamanan transaksi digital. Kebiasaan memeriksa informasi, menjaga kerahasiaan data, dan saling mengingatkan dapat membantu masyarakat mengurangi risiko penipuan keuangan. (*/IN)

Banner Pajak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *