INSPIRASINUSANTARA.ID — Minyak goreng bekas yang selama ini dibuang atau digunakan berulang kali oleh sebagian rumah tangga di Desa Moncongloe Lappara, Kabupaten Maros, mulai diperkenalkan sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi. Tim dosen Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengembangkan program Bank Sampah Minyak Jelantah (BASMIJEL) untuk membantu warga mengolah limbah tersebut menjadi sabun, lilin aromaterapi, dan pengharum ruangan.
Program ini menyasar ibu rumah tangga melalui kegiatan edukasi dan pelatihan pengolahan minyak jelantah. Selain mengurangi potensi pencemaran lingkungan, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dan membuka peluang usaha berbasis pemanfaatan limbah rumah tangga.
BASMIJEL merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internal Skema Unggulan yang didukung Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) UMI.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen Fakultas Farmasi UMI yang diketuai Dr. apt. Sukmawati Syarif, S.Farm., M.Kes., bersama tiga anggota, yakni apt. A. Muflihunna, S.Si., M.Si., apt. Fitriana, S.Farm., M.Si., dan apt. Safriani Rahman, S.Farm., M.Si.
Setiap Rumah Tangga Hasilkan Sekitar 5 Liter Jelantah
Pengelolaan minyak jelantah menjadi perhatian setelah tim melakukan pendataan awal terhadap 15 rumah tangga sasaran di Desa Moncongloe Lappara.
Hasil pendataan menunjukkan setiap rumah tangga rata-rata menghasilkan sekitar 5 liter minyak jelantah per bulan. Dengan jumlah tersebut, potensi limbah dari 15 rumah tangga sasaran mencapai sekitar 75 liter setiap bulan.
Minyak bekas tersebut umumnya dibuang langsung ke lingkungan atau digunakan kembali untuk menggoreng secara berulang.
Pembuangan minyak jelantah ke saluran air maupun tanah berpotensi menimbulkan pencemaran. Sementara itu, penggunaan minyak goreng secara berulang dapat meningkatkan risiko terbentuknya senyawa yang berbahaya bagi kesehatan.
Survei awal tim juga menunjukkan tingkat pengetahuan warga mengenai pengelolaan minyak jelantah masih rendah, dengan skor rata-rata 25 persen.
Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan program edukasi dan pengolahan limbah melalui BASMIJEL.
Dosen Farmasi UMI Ajarkan Pengolahan Sabun dan Lilin
Program BASMIJEL dirancang melalui empat tahapan, mulai dari edukasi hingga pengembangan usaha.
Tahap awal dilakukan melalui sosialisasi mengenai risiko penggunaan minyak jelantah secara berulang dan dampak pembuangannya terhadap lingkungan.
Selanjutnya, warga diperkenalkan dengan sistem pengumpulan dan pemilahan minyak goreng bekas melalui BASMIJEL agar limbah rumah tangga dapat dikelola secara terorganisasi.
Minyak yang terkumpul kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sabun aromaterapi, lilin aromaterapi, dan pengharum ruangan.
Dalam pelatihan di Moncongloe Lappara, tim dosen memperkenalkan alat dan bahan sebelum mendemonstrasikan proses pembuatan produk. Peserta juga mendapat kesempatan melakukan praktik secara langsung.
Aspek keselamatan kerja menjadi bagian dari pelatihan, terutama saat menangani bahan kimia seperti soda api yang digunakan dalam pembuatan sabun.
Peserta diarahkan menggunakan masker dan sarung tangan sebagai bagian dari perlindungan diri. Proses pemanasan minyak juga dilakukan secara tidak langsung menggunakan penangas air untuk membantu mengendalikan suhu.
Bank Sampah Jelantah Ditargetkan Dikelola Mandiri
Selain keterampilan produksi, program BASMIJEL mencakup pendampingan pemasaran dan pengembangan usaha dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Pendekatan tersebut bertujuan agar warga tidak hanya memahami cara mengolah minyak jelantah, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan produk dan peluang pemasarannya.
Ketua tim pengabdian, Sukmawati Syarif, menjelaskan bahwa minyak goreng bekas masih memiliki potensi pemanfaatan apabila dikelola melalui proses yang tepat.
“Minyak jelantah sebenarnya bukan sekadar limbah. Jika dikelola dengan benar, ia bisa menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual,” ujarnya.
Program ini menargetkan peningkatan pengetahuan mitra minimal 75 persen serta pengumpulan sedikitnya 5 liter minyak jelantah melalui BASMIJEL.
Tim dosen juga merencanakan pendampingan pembentukan pengurus BASMIJEL dari kalangan warga. Langkah tersebut diarahkan agar kegiatan pengumpulan dan pengolahan minyak jelantah dapat dilanjutkan secara mandiri.
Pengelolaan Limbah Diarahkan Menjadi Peluang Usaha
Melalui BASMIJEL, tim Fakultas Farmasi UMI menggabungkan edukasi lingkungan, pelatihan keterampilan, dan pengembangan usaha rumah tangga.
Produk yang dihasilkan dari pengolahan minyak jelantah diharapkan dapat menjadi alternatif kegiatan ekonomi bagi ibu rumah tangga di Desa Moncongloe Lappara.
Tim pengabdian berharap BASMIJEL dapat menjadi contoh pengelolaan limbah rumah tangga yang dapat diterapkan di desa lain.
Dengan semboyan “Kelola Minyak Jelantah dengan Bijak, Raih Manfaatnya untuk Masa Depan”, program ini mengajak masyarakat mengumpulkan minyak goreng bekas agar tidak dibuang sembarangan.
Keberlanjutan BASMIJEL diarahkan pada pembentukan pengelola dari unsur masyarakat, pengumpulan limbah secara rutin, serta pengembangan produksi dan pemasaran. Melalui tahapan tersebut, program diharapkan dapat mendukung pengurangan limbah rumah tangga sekaligus membuka peluang kegiatan ekonomi bagi warga. (*/IN)














