Banner Pajak

Kuasa Gelap 2: Kenapa Pemeran Harus Belajar Eksorsisme?

Bukan sekadar menghafal dialog, pemain harus memahami doa Latin dan ritual yang menjadi bagian penting cerita.

Film Kuasa Gelap 2
MENARIK. Potongan adegan dalam film Kuasa Gelap 2, Film produksi Paragon Pictures itu disutradarai Rizal Mantovani. Film tersebut mulai tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. (foto:instagram@kuasagelap)

INSPIRASINUSANTARA.ID — Adegan eksorsisme menjadi salah satu tantangan utama Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Sekuel ini menghadirkan materi ritual yang lebih kompleks.

Film produksi Paragon Pictures itu disutradarai Rizal Mantovani. Film tersebut mulai tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.

Berbeda dari film pertama, sekuel ini juga hadir dalam format IMAX. Format tersebut memberikan tingkat kecerahan dan resolusi lebih baik.

Namun, layar besar bukan tantangan utama para pemain. Kesulitan justru muncul dari materi ritual yang harus mereka perankan.

Ritual eksorsisme dibuat lebih kompleks

Dalam film ini, Romo Thomas diperankan Jerome Kurnia. Romo Rendra kembali diperankan Lukman Sardi.

Keduanya harus menghadapi Rephaim. Dalam cerita, Rephaim merupakan entitas iblis kuno.

Entitas tersebut disebut lebih kuat dan berbahaya. Rephaim berkaitan dengan belenggu perjanjian darah leluhur.

Konflik yang lebih besar ikut mengubah struktur ritual. Hal itu membuat materi eksorsisme menjadi lebih berat bagi pemeran.

Lukman Sardi menjelaskan perubahan tersebut. Menurutnya, doa eksorsisme yang digunakan mengalami peningkatan tingkat kesulitan.

“Level doa eksorsisme bahasa Latin yang digunakan menjadi jauh lebih berat, panjang, dan bervariasi,” kata Lukman Sardi.

Karena itu, pemain tidak cukup hanya menghafalkan teks. Pelafalan juga harus dilakukan secara tepat.

Kesalahan pelafalan dapat berisiko mengubah makna sakral doa. Maka, para pemain menjalani latihan bahasa Latin secara rutin.

Latihan tersebut berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Prosesnya dilakukan secara berkala selama persiapan film.

Ada pendamping khusus selama latihan

Latihan para pemain tidak dilakukan tanpa pendampingan. Proses tersebut dipantau langsung oleh Romo Rocky Wowor.

Ia berperan sebagai pastor pendamping. Pendampingan itu meneruskan riset yang sudah dibangun sejak film pertama.

Pada film pertama, riset dilakukan bersama konsultan teologi. Konsultan tersebut adalah Romo Dr. Johanes Robini Marianto, OP.

Ia juga disebut sebagai konsultan teologi dan eksorsis resmi Vatikan. Fondasi riset tersebut kemudian diteruskan untuk sekuelnya.

Artinya, adegan ritual dalam film tidak hanya dipersiapkan melalui akting. Para pemain juga menjalani latihan yang berkaitan dengan materi doa.

Tantangan akting tidak berhenti pada ritual

Format IMAX memberikan tantangan lain bagi para pemain. Detail wajah dan gerakan kecil akan terlihat lebih jelas.

Sorot mata ketakutan menjadi lebih mudah terlihat. Begitu pula getaran bibir saat karakter berdoa.

Namun, para pemain ternyata tidak mengetahui sejak awal bahwa film akan ditayangkan dalam IMAX. Mereka tidak mendapat persiapan teknis khusus untuk format tersebut.

Kiki Narendra memerankan Romo Wicaksono dalam film ini. Ia mengatakan para pemain hanya berusaha menjalankan karakter sebaik mungkin.

“Sebenarnya dari awal kami tidak dikasih tahu ya Pak Ron ya, bahwa film ini akan akan ditayangkan di IMAX,” kata Kiki.

Menurutnya, informasi tersebut tidak mengubah fokus mereka. Para pemain tetap berusaha menjadi karakter masing-masing.

Mengapa karakter harus sampai ke penonton?

Feby Febiola juga menghadapi tantangan karakter yang berbeda. Ia memerankan Linda dalam film tersebut.

Menurut Feby, karakter Linda berada di antara dua laki-laki kuat. Posisi tersebut membuat karakter Linda memiliki dilema tersendiri.

“Waktu saya membaca skenario Kuasa Gelap dan saya membaca karakter Linda, saya langsung membayangkan alangkah sulitnya menjadi Linda,” kata Feby.

Ia menyebut tantangannya adalah membuat dilema karakter tersebut sampai kepada penonton. Dengan begitu, emosi karakter tidak berhenti pada proses akting.

Para pemain pun melihat ukuran layar bukan sebagai alasan. Tuntutan untuk memberikan akting maksimal tetap sama.

Dengan IMAX, hasil akting mereka justru akan terlihat lebih detail. Setiap ekspresi kecil berpotensi menjadi bagian penting pengalaman penonton.

Kuasa Gelap 2 mengandalkan detail di balik adegan

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah pada akhirnya tidak hanya mengandalkan adegan menegangkan. Persiapan pemain menjadi bagian dari proses membangun ritual dalam cerita.

Doa Latin harus dilafalkan secara akurat. Latihan juga dilakukan selama dua hingga tiga bulan.

Materi ritual dibuat lebih berat dibandingkan film pertama. Konflik yang dihadapi Romo Thomas dan Romo Rendra juga menjadi lebih besar.

Pada saat yang sama, format IMAX memperbesar detail visual film. Karena itu, ekspresi pemain akan menjadi semakin mudah diamati.

Sekuel Kuasa Gelap tersebut mulai menyapa penonton pada 8 Oktober 2026. Film ini membawa kembali cerita eksorsisme dengan materi ritual yang lebih kompleks. (*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *