Virus, Perang, dan Asap di Malaysia

Pandemi COVID-19, perang Rusia-Ukraina dan konflik Iran-Israel, hingga asap kebakaran hutan Indonesia menguji ketahanan Malaysia, sikap kritis warganya, dan kepercayaan terhadap pemimpin.

ILUSTRASI. Pandemi Virus Korona, Perang Ukraina-Rusia dan Iran - Israel & Amerika, serta Asap Kebakaran Hutan Indonesia. Ketiganya cukup “mengganggu” ketenangan hidup manusia di negara ini. Setidaknya, jalanan seringkali kosong ketika krisis akibat virus, krisis minyak, dan krisis udara sehat melanda.

SAYA sudah tinggal di Kuala Lumpur Malaysia selama lebih lima tahun. Saya melalui tiga krisis yang membuat orang Malaysia mengeluh hingga meradang: Pandemi Virus Korona, Perang Ukraina-Rusia dan Iran – Israel & Amerika, serta Asap Kebakaran Hutan Indonesia. Ketiganya cukup “mengganggu” ketenangan hidup manusia di negara ini. Setidaknya, jalanan seringkali kosong ketika krisis akibat virus, krisis minyak, dan krisis udara sehat melanda.

Masyarakat dan warganet Malaysia lumayan kritis. Termasuk ke pemerintah mereka. Partai berkuasa bisa tumbang karena akan ditinggal pemilih di Pilihan Raya Negeri (PRN) maupun Pilihan Raya Umum (PRU) kalau dinilai tidak becus mengurus kepentingan publik. Terutama kepentingan orang Melayu sebagai pemilih mayoritas. PRN seperti pilkada di Indonesia, sementara PRU adalah Pemilu mereka. Di sini, koalisi partai penguasa diuji. Diapresiasi dengan dipilih kembali jika dinilai bagus. Dan, dihukum dengan ditinggalkan jika dinilai tidak becus.

Di setiap krisis, negara ini senantiasa berhadapan dengan protes publiknya. Hanya saja, jangan bayangkan Indonesia yang manusia tumpah ruah di jalanan. Orang – orang Malaysia menurut pengamatan saya sudah terlalu berkecukupan untuk berpanas panas ria turun ke jalan. Mereka tidak lagi perlu bentrok dengan polisi dan satpol PP di jalan untuk di dengar. Media sosial dan pemilihan umum adalah saluran yang menjadi ruang demokrasi mereka. Keluhan, kutukan, debat hingga solusi dibincangkan dan diwujudkan secara lembut sampai keras di ruang – ruang itu. Nasib politisi bisa tamat ketika dia salah langkah dan itu bisa terjadi begitu cepat.

Satu hal yang menurut saya juga penting dipelajari adalah mereka masih percaya dengan pemimpin – pemimpin mereka. Jika pemimpin yang satu dinilai buruk, mereka masih percaya dengan pemimpin lainnya. Yang memang layak dan pantas serta selalu bersedia untuk dipercaya dan disayangi rakyatnya.

Virus Korona, Perang Ukraina, Perang Iran sampai Asap Kebakaran Hutan dari Indonesia terus menguji kualitas pemimpin Malaysia dan sikap kritis rakyatnya kepada kelakuan pemimpin mereka. Jangan coba coba salah langkah karena anda akan dihukum di Pilkada – Pilkada Provinsi sampai pemilihan Umum tingkat Nasional. Malu, pasti dipermalukan kalau tidak kompeten. Bahkan, dua kali saya menyaksikan pergantian Perdana Menteri di tengah jalan karena tidak lagi mendapatkan dukungan mayoritas parlemen. Kekecewaan rakyat juga membuat anggota parlemen mencabut dukungan kepada Perdana Menteri.

Sekarang, krisis itu datang lagi, bukan Virus Korona dari China, bukan krisis minyak dan gas dari Ukraina dan Iran. Tapi, asap hutan yang terbakar dari Indonesia, negeri tetangga saudara benci tapi rindunya. Rakyat Malaysia, anak muda, sampai netizennya sudah geram. Tapi, masih sebatas protes dan mengutuk Presiden Indonesia. Sasaran bidik belum mengarah ke Putrajaya, tempat Perdana Menteri mereka bersinggasana.

Terbaru, belum jelas sikap rakyat, netizen, dan anak muda Malaysia terhadap Perusahaan “pembakar hutan” asal Malaysia dan Singapura. Patut ditunggu, bagaimana sikap mereka? Apakah akan garang juga atau lembek lembek saja? Atau malah munafik saja dalam diam pura pura tidak tau?

Terakhir, apakah protes kritis terhadap ketegasan pemerintah sendiri bisa mereka lakukan sebagaimana ketika pandemi virus korona dan krisis energi akibat perang Ukraina dan Iran melanda? Ataukah, Indonesia cukup empuk saja untuk menjadi pengalihan kekesalan mereka dan tidak lagi mengarahkan moncong megaphone ke pemerintah mereka yang cukup vokal terkait Israel? Menarik mencermati sikap dan perilaku – perilaku seperti itu di negeri ini.

Cerita – cerita protes, kelowongan jalanan, sepinya tempat publik karena virus, perang, dan asap hingga ramainya media sosial Malaysia di setiap momen ini penting dicatat. Selalu ada sikap berulang sekaligus tindakan berbeda. Kenapa dan bagaimana itu terjadi adalah hal unik untuk diamati. Kenapa negara yang hampir kaya, punya kampus berkelas dunia, serta paspornya salah satu terkuat di dunia ini, masih juga berdepan dengan masalah – masalah dasar di kala krisis.

Dan, yang lebih penting adalah bagaimana mereka melewatinya, di saat Indonesia terus saja terseok – seok bahkan lebih parah setelah krisis berlalu. Mengapa Malaysia bisa melaju bahkan move on kencang kala Pandemi, Perang, dan mungkin setelah asap ini berlalu? Kenapa Indonesia tidak begitu? Buktinya, masih saja bergerombol rakyat jelata Indonesia, seperti saya, yang mengadu nasib di negara ini. Bukan sebaliknya. (*)

Kuala Lumpur, 11 Oktober 2026

Penulis: Ulla Mappatang

Banner Pajak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *