Banner Pajak

Asap Kemarahan

Asap kebakaran hutan Indonesia memicu kemarahan warga Malaysia. Di tengah krisis jerebu, solidaritas serumpun dan tanggung jawab bersama Asia Tenggara kembali dipertanyakan.

Kebakaran Hutan

ANAK muda Malaysia marah. Orang-orang Malaysia mengecam. Hidupnya yang tenang dan bahagia sebagai penduduk negara “hampir maju” terganggu. Gangguan itu dari asap. Asap kiriman dari tetangga sekaligus saudara serumpunnya, Indonesia: Negara yang “hampir miskin”.

Indonesia, 60% lebih rakyatnya sudah miskin, kata Bank Dunia. Negaranya, secara total, masuk kategori “nyaris miskin”. Pejabatnya? Tidak usah ditanya, kaya kaya. Verlenthe. Walaupun, “tidak kompeten” mengurus negara. Tapi, mengurus diri sendiri dan bagi bagi sesama pejabat, “ooo jagonya”, kata lirik lagu Iwan Fals.

Asap kiriman Indonesia ke negara negara tetangga yang kaya-kaya dan makmur-makmur menandakan satu hal. Mestinya, “sesama bis kota jangan saling meninggalkan”. Arena Wati, Sastrawan Negara Malaysia jauh-jauh hari sudah mengingatkan ini. Bahwa, kolektivitas antara masyarakat di Nusantara dan Alam Melayu adalah sebuah keniscayaan organik. Alamiah. Bacalah Trilogi Bara – Barayya karya Arena Wati: Sukma Angin; Rindu Aroma Padi Bunting; dan Pada Sayap Burung Helang. Di dalam karya – karya itu, kita bisa belajar bagaimana rantau nusantara, alam melayu, dan asia tenggara ini, hidup secara kolektif senasib sepenanggungan. Bukan “habis manis, saudara dibuang”.

Dalam beberapa podcast, Professor Farish Noor, dari Malaysia yang sekarang mengajar di Indonesia juga mengemukakan pola hubungan serantau di Alam Melayu – Nusantara ini.  Subjeknya adalah kita. Bukan kami dan kalian, bukan Malaysia dan Indonesia, bukan Singapura dan Indonesia, bukan Brunei dan Indonesia. Bukan pula, “Kami” Brunei, Singapura, dan Singapura sebagai korban asap (jerebu) dan “Kalian” Indonesia sebagai pelaku pembakaran hutan. Prof Farish, sebagai pengkaji sejarah sering mencontohkan jika terjadi pergaduhan internal di kerajaan – kerajaan di Nusantara. Misalnya, jika ada pangeran yang kalah di Sumatera, Kerajaan di Kalimantan akan terbuka menerima sang pangeran berikut pengikut – pengikutnya. Mereka dijamin keamanan, keselamatan, dan kesejahteraannya berikut keluarga dan pengikut – pengikut yang dibawanya. Tidak ada kutukan, tidak ada penghinaan, apalag penegasan subjek “aku” dan “kamu”, “kami” dan “kalian”.

Jauh sebelum ada ASEAN sebagai forum adu gengsi negara negara di Asia Tenggara itu, Arena Wati dalam karya karyanya sudah menceritakan fakta sejarah dan imajinasi kolektif bangsa bangsa di Alam Melayu-Nusantara. Lalu, soal asap ini, apa sikap ASEAN? Tidak jelas.

Apa sikap rakyat “tetangga”? Marah – marah. Bukan solidaritas penuh yang ditunjukkan, namun, lebih kepada kutukan. Mereka yang sudah (merasa) kaya dan hidup tenang merasa terganggu dengan asap kiriman kebakaran hutan dari tetangganya yang hidup susah. Sikap yang ditunjukkan artinya apa? Solidaritas seperti Arena Wati tuliskan dengan tinta emasnya? Bukan! Lalu apa? Kutukan sebagai orang kaya yang diganggu orang miskin yang lagi kesusahan. Maruah bersama dan solidaritas sesama warga Alam Melayu Nusantara, saudara serumpun, negeri jiran kemana? Entah.

Bahkan, seperti nyata kemunafikan itu tersingkap. Bila senang dan kami perlu Indonesia, kalian adalah “jiran baik dan kita adalah saudara serumpun”. Tapi, bila sudah susah begini, paras dan sikapnya berubah menjadi “orang lain”. Indonesia di “Liyan”-kan, di-Other-kan. “Kenapa kalian bikin kami susah? Pemerintah kalian ngapain aja?”. Semua tiba – tiba berubah menjadi aku dan kamu, kami dan kalian, bukan “kita lagi”. Habis manis sepah dibuang? Mungkin. Boleh jadi. Munafik? Hmmm…. biarkan rumput yang bergoyang yang menjawabnya, seperti lirik lagu Ebiet G. Ade.

Kemarahan anak muda Malaysia dan Rakyat Malaysia bisa dipahami. Tapi, memahaminya tidak cukup. Mesti ada tanggung jawab kawasan. Tidak usah diromantisir juga sebagai “senasib sepenanggungan”. Orang (yang sudah atau merasa) kaya biasanya enggan dimintai empati dan solidaritas, walaupun dulunya sama sama susah juga dan pernah juga ngemis-ngemisminta tolong. Ngemis ngemis minta Guru dan dosen misalnya 30-40 tahun lalu. Orang Malaysia terutama netijen jaman nowsudah lupa, pura pura lupa, atau mungkin memang tidak tau soal itu. Mereka boleh jadi taunya negaranya dan dirinya tiba tiba kaya dan jadi majikan sekarang. Lupa juga kalau mereka pernah susah.

Dalam sejarah juga, orang orang dari Tanah Melayu, atau semenajung Malaysia hari ini, juga pernah hidup susah bahkan menjadi pengungsi. Bukan hanya pedagang antarpulau. Hal ini perlu dimunculkan supaya sikap terkesan “angkuh” orang Malaysia terhadap asap kesusahan dari Indonesia dan pengungsi Rohingya di Malaysia. Sejarah perlu mengingatkan bahwa bangsa Melayu di Malaysia juga pernah hidup susah dan “mengemis” bantuan ke negeri lain yang dinilai “serumpun, serantau, bahkan saudara”. Itu di kala susah, mungkin. Kala senang? Hmmm….. berubah jadi “kalian”.

Buku bertajuk “Pedagang Melayu di Sulawesi Selatan: Identiti dan Kuasa” hasil karya Dr. Amrullah Amir dan Prof Nordin Hussin dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka pada tahun 2019, menceritakan itu. Gelombang pengungsian orang Melayu dari Semenanjung Malaysia sekarang ini mendapat tempat terhormat di tanah Makassar, Indonesia sekarang ini. Apakah mereka dibentak – bentak dan “dihina” sebagai pengungsi yang kesusahan? Buku itu mengatakan “tidak”, justru dikasihi dan diurus baik – baik bahkan dihormati.

Sastra dan sejarah telah mengajarkan kita. Orang – orang tertentu saja yang tidak dapat belajar darinya. Tulisan ini mungkin ingin bilang saja, “wahai tetangga” — jika tak mau lagi dianggap “hai saudara” karena Indonesia lagi susah— “Santai lah, leluhur sudah mengajarkan arti solidaritas dan senasib sepenanggungan. Berhentilah menjadi bangsa munafik dan lupa diri yang membenarkan imej kolonial bahwa kita memang punya sifat ‘habis manis saudara dibuang’”. Hanya karena asap kemarahan dari jerebu hutan terbakar dari Indonesia. (*)

Oleh: Ulla Mappatang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *