INSPIRASI NUSANTARA—Gen Z, generasi yang lahir tahun 2000-an diprediksi akan terkena dampak terberat dari krisis iklim. Generasi Z memang menghadapi tantangan besar terkait dampak perubahan iklim, terutama di wilayah dengan iklim tropis.
Wilayah tropis seperti Indonesia, negara-negara Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin menghadapi risiko perubahan iklim yang lebih ekstrem, termasuk suhu tinggi, banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem lainnya. Dalam kanal YouTube Greenpeace Indonesia dijelaskan bahwa krisis iklim menimbulkan bencana ekonomi dan ekologi yang pada akhirnya menjadi bola salju bagi bencana kemanusiaan.
“Generasi Z atau Gen Z, termasuk aku, yang akan merasakan dampak ternyata. Jadi, usia produktifnya nanti ternyata ruag gerak kita makin terhimpit. Belum lagi ancaman biaya kesehatan yang makin menjerit,” ungkap Dimas, juru kampanye Greenpeace Indonesia pada program Monolog Podcast, (27/5).
Berikut ini beberapa alasan mengapa Gen Z di daerah tropis terkena dampak paling berat adalah
Banyak negara di wilayah tropis masih berkembang dan memiliki sistem ekonomi yang lebih rentan terhadap gangguan, seperti ketergantungan pada sektor pertanian yang sensitif terhadap perubahan iklim.
Kenaikan suhu dan pola cuaca yang tidak menentu meningkatkan frekuensi bencana alam seperti banjir, angin topan, dan kekeringan. Gen Z yang tumbuh di era ini akan menghadapi lebih banyak ancaman lingkungan.
Karena kondisi cuaca ekstrem, banyak wilayah di daerah tropis bisa menjadi tak layak huni, memaksa orang untuk bermigrasi ke daerah lain, yang sering kali menciptakan ketidakstabilan sosial dan ekonomi.
Kenaikan suhu dan perubahan iklim dapat memicu penyebaran penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah, yang secara langsung mempengaruhi kesejahteraan generasi muda di wilayah tersebut.
Gen Z sering kali harus menanggung beban adaptasi terhadap perubahan ini, baik dari segi pendidikan, peluang kerja, hingga kebijakan lingkungan yang berdampak jangka panjang pada kehidupan mereka.
Kondisi ini menuntut Gen Z di iklim tropis untuk lebih beradaptasi dan menjadi lebih vokal dalam advokasi perubahan kebijakan terkait iklim. (*/IN)