Banner Pajak

Hidup Zero Waste ala Komunitas Makassar

Hidup Zero Waste ala Komunitas Makassar
ZERO WASTE ala Komunitas Makassar. (foto:ig/@rappo.id)

INSPIRASI NUSANTARA–Gaya hidup zero waste semakin populer di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Makassar. Berbagai komunitas lokal mulai mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah.

Dilansir dari laman djkn.kemenkeu, konsep zero waste sendiri berlandaskan prinsip 5R, yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot.

BACA JUGA: Cara Masyarakat Sulsel Mengubah Sampah Plastik Jadi Sumber Daya Ekonomi Kreatif

BACA JUGA: Gaya Hidup Ramah Lingkungan: Inspirasi dari Tradisi Bugis Makassar  

Refuse (menolak barang yang tidak perlu), Reduce (mengurangi penggunaan barang sekali pakai), Reuse (menggunakan kembali barang yang masih layak pakai), Recycle (mendaur ulang sampah menjadi produk bernilai guna), dan Rot (mengolah sampah organik menjadi kompos).

Kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah semakin meningkat di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Makassar. Sejumlah komunitas hadir untuk mengedukasi masyarakat tentang konsep zero waste, dengan tujuan mengurangi sampah dan menjaga kelestarian lingkungan. Mereka aktif dalam berbagai kampanye, program, serta aksi nyata untuk mengajak masyarakat beralih ke gaya hidup minim sampah.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah komunitas-komunitas di Makassar yang berperan dalam gerakan zero waste.

1. Zero Waste Makassar

Zero Waste Makassar merupakan salah satu komunitas yang paling aktif dalam mengampanyekan gaya hidup minim sampah. Sejak didirikan beberapa tahun lalu, komunitas ini telah menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, serta aksi lingkungan guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang lebih baik.

Salah satu program unggulan komunitas ini adalah kegiatan barter baju dan buku, yang bertujuan untuk mengurangi limbah tekstil dan kertas. Dalam program ini, masyarakat bisa menukar pakaian serta buku bekas yang masih layak pakai dengan barang lain yang mereka butuhkan. Melalui inisiatif ini, komunitas berusaha mengubah pola pikir masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi barang dan tidak mudah membuang sesuatu yang masih bisa digunakan.

Selain itu, komunitas ini juga aktif dalam pelatihan pembuatan ecobrick, yaitu metode mengisi botol plastik dengan sampah non-organik hingga padat untuk digunakan sebagai bahan bangunan alternatif. Program ini telah diperkenalkan ke berbagai kelompok masyarakat, termasuk siswa sekolah dasar, untuk menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya memilah dan mengelola sampah plastik dengan baik.

Tak hanya itu, Zero Waste Makassar juga secara rutin mengadakan kampanye pengurangan plastik di berbagai platform media sosial serta dalam kegiatan tatap muka. Mereka mengajak masyarakat untuk beralih ke penggunaan produk ramah lingkungan, seperti tas belanja kain, botol minum isi ulang, serta alat makan yang dapat digunakan kembali.
Sumber: Klik Hijau | Instagram Zero Waste Makassar

2. Bank Sampah Kemuning RW17

Bank Sampah Kemuning RW17, yang berlokasi di Kecamatan Rappocini, menjadi salah satu contoh inisiatif masyarakat dalam mengelola sampah dengan konsep daur ulang dan ekonomi sirkular. Komunitas ini mendorong warga sekitar untuk memilah sampah sejak dari rumah, guna mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Program utama dari komunitas ini adalah pengelolaan sampah organik dan anorganik. Warga diajak untuk membedakan sampah yang bisa didaur ulang, seperti plastik dan kertas, dari sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos. Selain itu, mereka juga memiliki sistem penukaran sampah dengan uang, di mana masyarakat dapat menjual sampah yang telah dipilah untuk didaur ulang. Inisiatif ini tidak hanya membantu dalam mengurangi limbah, tetapi juga memberikan insentif ekonomi bagi warga yang berpartisipasi.

Sebagai bagian dari upaya edukasi, komunitas ini juga sering mengadakan sosialisasi kepada warga sekitar, baik melalui pertemuan langsung maupun kampanye di media sosial. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

3. Komunitas Nol Sampah Makassar

Komunitas Nol Sampah Makassar hadir dengan tujuan utama untuk mendorong masyarakat menerapkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai programnya, komunitas ini berusaha menanamkan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan di kalangan warga Makassar.

Salah satu program yang menjadi perhatian utama komunitas ini adalah workshop daur ulang sampah plastik, yang mengajarkan masyarakat cara mengubah sampah plastik menjadi barang bernilai guna. Pelatihan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah limbah plastik yang mencemari lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga yang ingin memanfaatkan limbah sebagai bahan baku produk kreatif.

Selain itu, komunitas ini juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pembuatan kompos dari sampah organik. Dengan metode ini, masyarakat diajarkan cara mengolah sisa makanan dan sampah dapur menjadi pupuk alami yang bermanfaat bagi tanaman.

Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah organik yang terbuang dan mendorong masyarakat lebih mandiri dalam mengelola limbah rumah tangga.
Komunitas ini juga menggagas kampanye pengurangan plastik di berbagai tempat usaha, seperti warung dan kafe, dengan mengajak para pemilik usaha untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke kemasan ramah lingkungan.

4. Rappo.id – Startup Daur Ulang Sampah Plastik

Berbeda dari komunitas lain, Rappo.id adalah sebuah startup berbasis di Makassar yang berfokus pada pengolahan sampah plastik menjadi produk kerajinan tangan. Mereka menerapkan konsep upcycling, di mana limbah plastik yang biasanya berakhir sebagai sampah dapat diubah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Salah satu kegiatan utama mereka adalah pembuatan produk daur ulang dari plastik bekas, seperti tas, dompet, dan berbagai aksesori lainnya. Proses ini dilakukan dengan memilah dan membersihkan plastik bekas, lalu mengolahnya menjadi bahan baku untuk produk-produk baru.

Selain memproduksi barang daur ulang, Rappo.id juga memberdayakan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga dan anak muda, dengan memberikan pelatihan tentang cara mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai jual. Dengan cara ini, mereka tidak hanya membantu mengurangi limbah plastik tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Untuk mendukung kebijakan lingkungan yang lebih baik, Rappo.id juga menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas dan pemerintah dalam upaya mengurangi limbah plastik di Makassar.

Kehadiran berbagai komunitas zero waste di Makassar menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah semakin berkembang. Meskipun masih ada tantangan, seperti minimnya fasilitas daur ulang dan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat, kolaborasi antara komunitas, pemerintah, serta sektor swasta dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan ini.

Masyarakat Makassar dapat berkontribusi dalam gerakan ini dengan menerapkan kebiasaan sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri, memilah sampah dari rumah, serta mendukung produk-produk yang lebih ramah lingkungan. Dengan langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama, Makassar bisa menjadi kota yang lebih bersih, hijau, dan bebas sampah di masa depan. (*/IN)

Sumber:

Dea Santika, “Menerapkan Gaya Hidup Zero Waste,” Kementerian Keuangan Republik Indonesia,
n.d., https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-semarang/baca-artikel/16693/Menerapkan-Gaya-HidupZero-Waste.html.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *