Penulis: Jumi Aslinda
SORE hari di pesisir Lajari, Kabupaten Barru, bergerak pelan mengikuti turunnya matahari. Cahaya jingga memantul di permukaan laut ketika asap tipis mulai naik dari panggangan sederhana.
Orang-orang datang tanpa undangan. Duduk berdekatan, menggeser kursi, berbagi ruang. Tidak ada yang merasa datang paling awal atau paling akhir. Semua menyesuaikan.
Di Barru, makan tiram bukan sekadar urusan perut. Ia menjadi alasan untuk tinggal lebih lama, menyambung cerita yang sempat terputus oleh kesibukan. Meja tidak pernah benar-benar rapi, tetapi selalu cukup.
Lapak-lapak tiram bakar di kawasan Lajari dan Coppo ramai dikunjungi, terutama menjelang malam. Bunyi cangkang bertemu pisau bercampur dengan tawa dan obrolan ringan.
Hamzah, pelaku usaha tiram di Barru, melihat kebiasaan itu setiap hari. “Warga Barru berkumpul bersama memakan tiram, dan itu sangat membantu penjualan kami,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Menurut Hamzah, permintaan tiram sering meningkat dalam waktu singkat, terutama pada akhir pekan atau musim libur. Warga lokal dan pendatang duduk dalam jarak yang sama.
Pasokan tiram masih bergantung pada hasil tangkapan alam di muara sungai. Ketika stok menipis, pedagang harus mencari dari luar daerah. Situasi ini memengaruhi harga dan keberlangsungan usaha.
Namun di sela kekhawatiran itu, kebiasaan berkumpul tetap berjalan. Orang-orang berbincang tentang laut, cuaca, dan musim tanpa terasa menggurui. Semua memahami bahwa apa yang mereka nikmati bergantung pada alam yang sama.
Pemerintah Kabupaten Barru melihat fenomena ini sebagai bagian dari kehidupan pesisir. Kepala Dinas Perikanan Barru, Nurhayati, mengatakan pengelolaan sumber daya perlu dilakukan agar kegiatan ini tetap berlanjut.
“Budidaya tiram harus mulai dikembangkan supaya kebutuhan pasar terpenuhi tanpa merusak ekosistem,” ujarnya.
Bagi warga Barru, upaya-upaya itu penting, tetapi makna tiram tetap hidup di ruang paling sederhana: duduk bersama di tepi laut, berbagi makanan dan waktu.
Di sanalah Kearifan Lokal Sulsel bekerja, di antara asap panggangan, bunyi ombak, dan kebiasaan berkumpul tanpa janji yang terus diulang, senja demi senja. (*/IN)













