Mahasiswa Unhas Kembangkan Alat Deteksi Polusi Udara

Makassar, inspirasinusantara.id Polusi udara menjadi persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan warga kota, namun sering kali tidak disadari karena tidak kasatmata dan sulit diukur secara personal. Di Makassar, sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin mencoba menjawab celah tersebut dengan mengembangkan alat deteksi polusi udara portabel yang memungkinkan warga memantau kualitas udara di sekitarnya secara langsung.

Alat bernama Aerotrak itu dikembangkan sebagai perangkat kecil yang dapat dibawa dalam aktivitas harian, baik dipasang di tas, gantungan kunci, maupun kendaraan. Fungsinya adalah membaca kualitas udara secara real time, termasuk mendeteksi partikel halus yang dikenal berisiko terhadap kesehatan pernapasan jika terpapar dalam jangka panjang.

Inovasi tersebut mengantarkan tim mahasiswa Unhas meraih juara dalam ajang EcoBoss Greenpreneurship Pitch Challenge 2025. Namun, di luar capaian kompetisi, pengembangan Aerotrak mencerminkan upaya menghadirkan teknologi pemantauan lingkungan yang lebih dekat dengan kebutuhan warga perkotaan.

Salah satu anggota tim, Muhammad Al Mabrur G, menjelaskan bahwa gagasan alat ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi polusi udara yang kerap dihadapi masyarakat tanpa informasi yang memadai. Menurutnya, banyak orang beraktivitas di luar ruangan tanpa mengetahui apakah udara yang dihirup berada pada tingkat aman atau tidak.

“Polusi udara sering tidak disadari karena kita tidak punya alat untuk mengetahuinya secara langsung. Padahal dampaknya terhadap kesehatan bisa muncul dalam jangka panjang,” kata Al Mabrur.

Secara teknis, Aerotrak bekerja menggunakan mikrokontroler yang terhubung dengan sensor kualitas udara. Data yang dibaca kemudian ditampilkan secara langsung kepada pengguna, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan sederhana, seperti membatasi aktivitas luar ruang atau menggunakan perlindungan tambahan saat kualitas udara memburuk.

Desainnya yang ringkas membuat alat ini ditujukan untuk kelompok warga dengan mobilitas tinggi, seperti pekerja lapangan, pengemudi transportasi daring, pelajar, hingga masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di ruang terbuka. Dalam konteks kota, perangkat semacam ini berpotensi menjadi lapisan awal literasi lingkungan berbasis data personal.

Kompetisi EcoBoss Greenpreneurship sendiri merupakan program kolaborasi internasional yang mendorong mahasiswa mengembangkan solusi atas persoalan lingkungan melalui pendekatan kewirausahaan. Dalam konteks ini, Aerotrak dinilai tidak hanya sebagai produk teknologi, tetapi juga sebagai upaya menjembatani isu kesehatan, lingkungan, dan akses informasi bagi publik.

Ke depan, dana pengembangan yang diperoleh dari kompetisi tersebut akan digunakan untuk menyempurnakan teknologi dan mempersiapkan produksi agar alat ini dapat digunakan lebih luas. Bagi kota dan warganya, inovasi semacam ini membuka peluang pemantauan kualitas udara yang lebih partisipatif, tidak semata bergantung pada data stasiun pemantau berskala besar, tetapi juga dari pengalaman harian masyarakat.(eva/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *