MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Kota Makassar menjadi ruang pertemuan negara-negara Asia Pasifik untuk membahas tantangan dan penguatan layanan kesehatan anak, seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah perkotaan dengan populasi besar. Forum ini digelar melalui Workshop on Managing Child Health for Healthcare Workforce yang diselenggarakan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Poltekkes Makassar, pada 20–22 Januari 2026.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menilai forum tersebut relevan dengan kondisi perkotaan seperti Makassar yang memiliki jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, tersebar di 15 kecamatan dan 153 kelurahan. Menurutnya, skala kota yang besar menghadirkan tantangan serius dalam memastikan layanan kesehatan anak yang merata, terjangkau, dan berkualitas.
“Pertumbuhan kota harus diikuti dengan sistem layanan kesehatan yang kuat. Kalau tidak, dampaknya langsung ke kualitas hidup warga, terutama anak-anak,” ujar Munafri saat membuka kegiatan di Makassar, Selasa (20/1/2026).
Ia menegaskan, kesehatan anak menjadi fondasi pembangunan jangka panjang kota. Karena itu, penguatan sistem kesehatan tidak hanya dipandang sebagai isu layanan dasar, tetapi juga investasi sosial yang menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Dalam forum tersebut, Munafri memaparkan kondisi layanan kesehatan di Makassar yang ditopang oleh 47 puskesmas, 35 puskesmas pembantu, lebih dari 200 klinik, satu rumah sakit umum daerah, serta total 52 rumah sakit. Namun, ketersediaan fasilitas tersebut, menurutnya, masih perlu diimbangi dengan penguatan kualitas layanan, distribusi tenaga kesehatan, serta pemanfaatan data yang akurat dan terintegrasi.
Munafri juga menyoroti tantangan angka kematian ibu dan bayi yang masih menjadi indikator penting kesehatan masyarakat. Data Pemerintah Kota Makassar menunjukkan, pada 2024 tercatat 19 kasus kematian ibu dan 198 kematian bayi. Pada 2025, angka tersebut menurun menjadi 13 kematian ibu dan 185 kematian bayi, namun tetap membutuhkan intervensi berkelanjutan.
“Penurunan ini menunjukkan ada perbaikan, tetapi belum cukup. Artinya masih ada persoalan akses, kualitas layanan, dan deteksi dini yang harus kita benahi,” katanya.
Forum APEC ini dihadiri delegasi dari sejumlah negara Asia Pasifik, seperti Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang hadir langsung, serta perwakilan dari Meksiko, Jepang, dan Chinese Taipei yang mengikuti secara daring. Diskusi difokuskan pada penguatan kapasitas tenaga kesehatan, manajemen layanan kesehatan anak, serta pertukaran praktik terbaik antarnegara.
Munafri berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diterapkan di tingkat lokal. Ia menilai kolaborasi internasional penting untuk memperkaya perspektif dan mempercepat perbaikan sistem kesehatan di daerah.
“Kami ingin rekomendasi yang realistis dan bisa diterapkan. Bukan hanya untuk Makassar, tapi juga relevan bagi kota-kota lain dengan tantangan serupa,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Poltekkes Makassar, Rusli, menyampaikan bahwa lokakarya ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan lintas profesi, mulai dari dokter, perawat, bidan, hingga pengambil kebijakan. Menurutnya, kesehatan anak berkaitan langsung dengan kualitas pembangunan manusia dan daya saing ekonomi di masa depan.
Melalui forum ini, Pemerintah Kota Makassar menempatkan isu kesehatan anak sebagai bagian dari agenda pembangunan kota yang lebih luas, dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas negara untuk menjawab tantangan kesehatan perkotaan secara berkelanjutan. (*/IN)













