MAKASSAR – Penggunaan atap berbahan seng, kayu, dan sirap masih mendominasi rumah tangga di Sulawesi Selatan. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan, pada 2025 sebanyak 93,87 persen rumah tangga di wilayah ini menggunakan jenis material tersebut.
Dominasi ini terlihat merata di hampir seluruh kabupaten dan kota. Sebagian besar daerah mencatat angka penggunaan di atas 90 persen, menandakan material tersebut masih menjadi pilihan utama dalam konstruksi hunian. Kondisi ini memperlihatkan pola pembangunan rumah yang cenderung seragam di berbagai wilayah.
Kabupaten Bantaeng mencatat persentase tertinggi dengan 99,90 persen rumah menggunakan atap seng, kayu, atau sirap. Angka ini diikuti Pangkep sebesar 99,56 persen dan Gowa 98,79 persen. Sejumlah daerah lain seperti Sinjai, Soppeng, dan Jeneponto juga berada pada kisaran di atas 98 persen.
Di sisi lain, beberapa wilayah menunjukkan angka yang relatif lebih rendah meski tetap dominan. Kota Makassar berada pada angka 88,06 persen, sementara Kepulauan Selayar sebesar 87,27 persen. Bulukumba menjadi daerah dengan persentase terendah, yakni 82,15 persen.
BPS Sulsel menjelaskan bahwa data tersebut merupakan bagian dari Statistik Kesejahteraan Rakyat 2025 yang menggambarkan kondisi fisik hunian. Dalam penjelasannya, jenis atap menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat karakteristik perumahan di suatu wilayah.
Dalam publikasinya, BPS Sulsel menyebutkan bahwa data tersebut menunjukkan jenis material atap yang paling banyak digunakan oleh rumah tangga di Sulawesi Selatan.
Secara tidak langsung, distribusi ini juga mencerminkan faktor lokal yang memengaruhi pilihan material bangunan. Ketersediaan bahan, kondisi geografis, serta pola pembangunan di tiap daerah menjadi bagian dari dinamika tersebut.
BPS Sulsel menilai penggunaan material seperti seng, kayu, dan sirap masih relevan dalam konteks kebutuhan hunian. Selain mudah diperoleh, material tersebut juga telah lama digunakan dalam konstruksi rumah di berbagai wilayah.
Data ini menunjukkan bahwa meski pembangunan terus berkembang, pola penggunaan material atap di Sulawesi Selatan belum banyak berubah. Seng, kayu, dan sirap tetap menjadi pilihan dominan dalam struktur hunian hingga 2025.(hsn/IN)














