INSPIRASINUSANTARA- Kearifan lokal berfungsi sebagai solusi efektif untuk memecahkan berbagai masalah yang terjadi di tengah masyarakat modern saat ini. Salah satu falsafah hidup yang masih dipegang teguh oleh masyarakat etnis Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan adalah nilai budaya siri’ na pacce’. Meskipun arus modernisasi berkembang sangat pesat, prinsip adat ini tetap diterapkan oleh para pedagang kaki lima (PKL) yang mencari nafkah di kawasan Anjungan Pantai Losari.
Secara historis, komunitas PKL ini telah memanfaatkan ruang publik di Pantai Losari untuk menjalankan roda perekonomian mereka sejak tahun 1980-an. Keberadaan mereka di satu sisi sering kali memicu permasalahan tata ruang kota dan kebersihan lingkungan akibat penumpukan sampah. Namun di sisi lain, kehadiran para pedagang kuliner khas seperti pisang epe’ justru menjadi daya tarik wisata yang sangat kuat.
Perilaku ekonomi yang ditunjukkan oleh para pedagang tersebut tidak hanya didasarkan pada keuntungan materi semata melainkan juga dipengaruhi secara kuat oleh aspek moralitas. Menurut Mayasari (2021), perilaku ekonomi (economic behavior) merupakan tindakan atau reaksi dari suatu objek yang berupa rasionalitas, moralitas, gaya hidup, efisiensi dalam aktivitas konsumtif, dan efektivitas dalam aktivitas produktif. Oleh karena itu, pertimbangan mengenai apa yang baik dan buruk selalu menjadi landasan utama bagi mereka sebelum mengambil keputusan usaha.
Penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi ini berhasil mengungkap keberadaan dimensi moralitas ekonomi yang berbasis pada kebudayaan lokal. Falsafah siri’ yang bermakna menjaga harga diri dan martabat mampu memberikan tuntunan moral yang sangat kuat bagi pribadi setiap pedagang. Sementara itu, konsep pacce’ mengarahkan mereka untuk memiliki rasa solidaritas yang tinggi terhadap penderitaan yang dialami oleh sesama manusia.
Terdapat tiga nilai moralitas ekonomi utama yang lahir dari perpaduan budaya ini, yaitu kejujuran, kepedulian sosial, serta rasa malu. Nilai kejujuran tercermin secara nyata melalui penggunaan bahan baku makanan yang berkualitas tinggi dan terjaga kebersihannya. Implementasi dari sikap jujur ini melahirkan moralitas imperatif yang membuat para pelaku usaha senantiasa taat pada aturan pranata ekonomi yang berlaku.
Selain kejujuran, rasa pacce’ atau passe’ memunculkan kepedulian sosial yang mendalam di antara sesama pedagang kaki lima di kawasan tersebut. Sikap tenggang rasa ini dibuktikan secara konkret melalui kesediaan mereka untuk saling berbagi pembeli dan menolong rekan seprofesi yang sedang sepi pelanggan. Praktik solidaritas tersebut sangat efektif untuk meminimalkan potensi konflik dan mencegah persaingan usaha yang tidak sehat.
Nilai ketiga yang tidak kalah penting dalam membentuk karakteristik pelaku ekonomi di Pantai Losari adalah memelihara rasa malu. Rasa malu ini memicu sebuah komitmen internal yang kuat bagi setiap individu untuk tidak melakukan tindakan curang demi meraih laba pribadi. Apabila mereka melanggar norma moral yang disepakati masyarakat, maka sanksi sosial berupa hilangnya harga diri akan menjadi beban moral yang sangat berat.
Penerapan prinsip siri’ na pacce’ secara konsisten pada akhirnya membawa dampak positif bagi struktur sosial-ekonomi di Anjungan Pantai Losari. Kebudayaan lokal ini bertindak sebagai sebuah pengingat otomatis yang menyaring tindakan buruk sebelum bermanifestasi menjadi sebuah pelanggaran hukum. Dampak yang paling signifikan dari adanya moralitas ini adalah berkurangnya kesenjangan ekonomi karena seluruh pedagang bersedia maju bersama.
Secara teoretis, rasionalitas ekonomi yang mengejar keuntungan maksimal memang sering kali bertolak belakang dengan prinsip moralitas yang mengedepankan kepedulian. Akan tetapi, fenomena unik pada komunitas PKL Makassar menunjukkan bahwa rasionalitas dan moralitas justru dapat berjalan beriringan secara harmonis. Mereka berhasil membuktikan bahwa mempertahankan eksistensi ekonomi di tengah kota metropolitan dapat dilakukan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai kesimpulan, kearifan lokal siri’ na pacce’ terbukti mampu menjadi benteng moral yang kokoh bagi para pedagang kaki lima di era modern. Falsafah leluhur ini mengubah cara pandang yang semula egois menjadi lebih peka terhadap keberadaan dan kelangsungan hidup orang lain di sekitarnya. Melalui pelestarian budaya ini, tatanan ekonomi masyarakat tidak hanya mengejar kemakmuran finansial tetapi juga keadilan sosial yang berbasis kearifan tradisi.(wdy)













