JAKARTA, inspirasinusantara.id — Pendidikan kedokteran swasta tengah menghadapi fase transformasi yang menuntut penguatan mutu, tata kelola, riset, hingga kolaborasi agar mampu menjawab kebutuhan sistem kesehatan nasional. Isu itu menjadi fokus dalam Forum Dekan Asosiasi Fakultas Kedokteran Swasta Indonesia (AFKSI) Tahun 2026 yang mempertemukan 75 dekan dan wakil dekan fakultas kedokteran swasta dari berbagai daerah di Indonesia di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Forum bertema “Transformasi dan Kolaborasi Fakultas Kedokteran Swasta dalam Penguatan Tridarma Perguruan Tinggi untuk Mewujudkan Institusi yang Unggul, Berdampak, dan Berkelanjutan” ini menjadi ruang evaluasi perkembangan pendidikan kedokteran sekaligus penyusunan arah kebijakan organisasi.
Ketua Pengurus Besar AFKSI yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI), Dr. dr. Nasrudin AM, Sp.OG(K), M.Sc., mengatakan fakultas kedokteran swasta kini memiliki peran yang semakin besar dalam mencetak sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas.
“Kolaborasi antarinstitusi menjadi kunci untuk mempercepat peningkatan mutu pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola fakultas kedokteran agar mampu bersaing di tingkat internasional,” ujar dr Nasrudin.
Pandangan serupa disampaikan Prof. Dr. med. dr. Tri Hanggono Achmad selaku Staf Ahli Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dalam sesi pleno. Ia menegaskan transformasi pendidikan kedokteran perlu adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, serta kebutuhan sistem kesehatan nasional.
Ia juga mendorong fakultas kedokteran, khususnya perguruan tinggi swasta, untuk meningkatkan kualitas tata kelola, memperluas jejaring kolaborasi, memperkuat budaya riset dan inovasi, serta menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi global tanpa meninggalkan nilai kebangsaan dan profesionalisme.
Setelah sidang pleno, forum dilanjutkan dengan sidang organisasi yang dibagi ke dalam empat komisi, yakni pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kerja sama. Setiap komisi menyusun rekomendasi yang akan menjadi pedoman program AFKSI pada periode mendatang.
Forum juga memaparkan perkembangan organisasi AFKSI yang berawal dari Majelis Pimpinan Fakultas Kedokteran Swasta se-Indonesia (MPFKS) pada 1971, kemudian berubah menjadi AFKSI melalui Musyawarah Nasional XVII tahun 2011. Pada Munas XIX di Universitas Warmadewa, Bali, organisasi ini memperoleh status badan hukum berdasarkan SK Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU.0003019.AH.01.07 Tahun 2017.
Dari sisi kelembagaan, AFKSI kini memiliki 75 fakultas kedokteran anggota dengan 32 fakultas atau sekitar 42 persen telah meraih predikat Akreditasi Unggul. Forum juga mencatat jumlah fakultas kedokteran secara nasional meningkat dari 92 sebelum moratorium menjadi 138 setelah moratorium, terdiri atas 85 fakultas kedokteran perguruan tinggi swasta atau 62 persen dan 53 fakultas kedokteran perguruan tinggi negeri. Data tersebut menunjukkan kontribusi perguruan tinggi swasta yang semakin besar dalam penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia.
Perkembangan lain yang menjadi perhatian adalah pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PSPDS). Hingga kini terdapat 19 fakultas kedokteran swasta yang telah menyelenggarakan 47 program studi spesialis atau sekitar 25,3 persen dari seluruh fakultas kedokteran swasta. Beberapa di antaranya telah memasuki tahap mandiri, yaitu FK Universitas Pelita Harapan, FK Universitas YARSI, FK Universitas Prima Indonesia, FK Universitas Muslim Indonesia, dan FK Universitas Hang Tuah. Sejumlah perguruan tinggi lain juga sedang mengikuti program percepatan pembukaan PSPDS.
Selain itu, AFKSI merumuskan sejumlah program strategis, mulai dari peningkatan kapasitas institusi menuju akreditasi unggul dan internasional, pembukaan program spesialis, magister, dan doktor kedokteran, penguatan tata kelola, pembentukan Tim Ad Hoc Pendidikan Profesi Dokter, penguatan Tim Pakar Pendidikan Kedokteran, pengembangan kolaborasi riset, pengabdian kepada masyarakat dan publikasi ilmiah bersama, hingga perluasan kerja sama nasional maupun internasional.
Rekomendasi yang dihasilkan dalam forum ini akan menjadi dasar penyusunan program kerja AFKSI untuk mendukung transformasi pendidikan kedokteran menuju institusi yang unggul, berdampak, adaptif, dan berkelanjutan. (sal/IN)














