Banner Pajak

Ekspor UMKM Sulsel, Seberapa Nyata Peluangnya?

UMKM Sulsel
PELUANG. UMKM Sulsel memperoleh Letter of Intent (LOI) dengan pembeli luar negeri dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. (foto:ist)

MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Bagi UMKM Sulawesi Selatan, mendapatkan pembeli dari luar negeri merupakan satu langkah penting. Namun, bertemu calon buyer belum otomatis berarti produk sudah masuk pasar ekspor.

Pertanyaan itu menjadi relevan setelah tujuh UMKM Sulsel memperoleh Letter of Intent (LOI) dengan pembeli luar negeri dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Potensi transaksi yang disepakati mencapai lebih dari Rp380,75 juta.

Angka tersebut menunjukkan adanya peluang pasar global untuk produk Sulsel. Tetapi pada saat yang sama, nilai LOI masih harus dibuktikan melalui proses berikutnya hingga menjadi transaksi ekspor yang benar-benar terealisasi.

KKI 2026 berlangsung 20–23 Agustus 2026 dengan mengusung semangat Beudaya Meusare Sareatau “Berdaya Bersama-sama”. Dalam agenda tersebut, Bank Indonesia Sulawesi Selatan memfasilitasi business matching ekspor bagi pelaku UMKM.

Dari Produk Lokal ke Buyer Global

Business matching ekspor berlangsung pada 20–22 Agustus 2026. Sejumlah UMKM Sulsel dipertemukan dengan calon pembeli dari luar negeri. Pesertanya antara lain Kopi Luwak Malino dari Gowa, CV Panrita Jaya Group, Kopivolusi Niwa Indonesia, Sehati Kopi, My Coffeeza Indonesia, PT Bunly Abadi Bersama dan CV Al Razak Corp.

Produk yang ditawarkan didominasi komoditas kopi, tetapi terdapat pula produk kacang mete.

Dari proses tersebut, tujuh UMKM Sulsel menyepakati LOI dengan buyer luar negeri. Nilai potensinya diperkirakan lebih dari Rp380,75 juta. Nilai terbesar berasal dari Kopi Luwak Malino melalui produk kopi Arabica Malino dengan PT Cahaya Abadi Terbit dari Kanada sebesar Rp245 juta.

Kemudian CV Panrita Jaya Group dengan kopi Arabica Toraja dan Arabica Enrekang memperoleh LOI dengan PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura senilai Rp92,25 juta.

Kopi Luwak Malino juga memperoleh LOI dengan PT Sumber Kurnia Alam senilai Rp32 juta.

Tiga kesepakatan tersebut saja mencapai Rp369,25 juta. Artinya, sebagian besar potensi nilai LOI berasal dari produk kopi.

LOI Belum Sama dengan Ekspor

Di sinilah persoalan pentingnya. Letter of Intent menunjukkan adanya kesepahaman atau minat bisnis antara pelaku usaha dan calon pembeli. Namun, angka tersebut belum bisa dibaca sebagai nilai ekspor yang sudah masuk ke Sulsel.

Beberapa UMKM bahkan masih berada pada tahap market test dan pengiriman sampel produk.

My Coffeeza Indonesia, misalnya, sedang menguji pasar kopi Arabica Enrekang dengan Indonesia Specialty Coffee dan Indonesia Trading House Guangzhou di China.

Kopivolusi juga masih menjalani proses dengan Dua DC Coffee di Amerika Serikat untuk produk kopi Arabica.

Sementara PT Bunly Abadi Bersama mengembangkan peluang pasar kacang mete dengan Toko Indo di Singapura serta Etoobai di Amerika Serikat.

Dengan demikian, tantangan UMKM Sulsel berikutnya bukan sekadar mendapatkan calon pembeli, melainkan memastikan produk lolos tahap pengujian pasar, memenuhi kebutuhan buyer dan akhirnya menghasilkan transaksi berulang.

Masalahnya Bukan Cuma Modal

Akses pasar ekspor juga berkaitan dengan kesiapan internal UMKM.

Bank Indonesia menyebut tantangan pembiayaan UMKM tidak hanya menyangkut ketersediaan dana. Kesiapan usaha, persepsi risiko serta kemampuan mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan juga menjadi persoalan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand.

“Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand,” ujar Aida.

Dari sisi supply, Bank Indonesia menyebut Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan kepada UMKM. Sementara Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) mendorong perluasan pembiayaan inklusif.

Dari sisi demand, digitalisasi pembayaran melalui QRIS disebut dapat membantu membangun rekam jejak usaha.

Artinya, kesiapan UMKM menuju pasar global bukan hanya soal menghasilkan barang. Rekam transaksi, kapasitas usaha, kemampuan memenuhi pesanan dan akses pembiayaan ikut menentukan apakah peluang ekspor dapat dipertahankan.

Pembiayaan Sudah Rp285 Miliar

Dalam KKI 2026, Bank Indonesia juga memperkuat akses pembiayaan UMKM.

Delapan lembaga keuangan, BRI, BCA, BSI, Mandiri, SMBC, Panin Bank, OCBC dan BNI, menandatangani kesepakatan pembiayaan dengan UMKM mitra masing-masing.

Hingga Juli 2026, fasilitasi business matching pembiayaan oleh Bank Indonesia mencapai Rp285 miliar. Nilainya terdiri atas Rp150 miliar pembiayaan inklusif dan Rp135 miliar pembiayaan berkelanjutan.

Capaian tersebut masih berpotensi bertambah hingga akhir 2026 seiring realisasi pembiayaan.

Namun, akses modal tetap perlu dilihat sebagai alat untuk memperbesar kapasitas usaha, bukan sebagai tujuan akhir.

Jika pembiayaan tidak diikuti pasar yang jelas, kapasitas produksi yang memadai dan manajemen usaha yang baik, tambahan modal belum tentu otomatis meningkatkan skala bisnis.

Ekspor Butuh Ekosistem

Bank Indonesia Sulsel memperkuat pengembangan UMKM melalui program UMKM Rewako yang mencakup Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgable.

Pendekatannya dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas hingga perluasan akses pasar.

Dalam KKI 2026, BI Sulsel memfasilitasi 14 sesi business matching ekspor secara offline dan satu sesi online.

Langkah ini memperlihatkan bahwa membawa UMKM ke pasar global membutuhkan ekosistem. Pelaku usaha membutuhkan pembiayaan, peningkatan kapasitas, akses informasi pasar sekaligus jaringan pembeli.

Bagi Sulawesi Selatan, peluang yang muncul dari KKI 2026 cukup jelas: produk lokal sudah mulai dipertemukan dengan pasar global. Tetapi pekerjaan berikutnya justru lebih menentukan.

Berapa banyak LOI yang berubah menjadi transaksi? Berapa banyak buyer yang kembali melakukan pemesanan? Dan apakah UMKM mampu meningkatkan produksinya tanpa kehilangan kualitas?

Sebab, ukuran keberhasilan ekspor UMKM bukan berhenti pada nilai kesepakatan di atas kertas.

Pintu pasar global mungkin sudah terbuka. Tantangannya sekarang adalah memastikan UMKM Sulsel mampu masuk, bertahan, dan kembali menjual. (*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *